
Makan Malam.
Malam ini, keluarga Suryo akan menghadiri perjamuan makan malam. Tidak hanya Edgar dan Luna yang datang, tapi semua keluarga Suryo pun turut menghadiri. Termasuk kedua orang tua Edgar dan kakak adiknya.
Datang bersama-sama mereka mulai memasuki ballroom hotel, tempat diadakannya makan malam ini.
Seketika semua orang langsung menatap dengan antusias kedatangan keluarga Suryo itu. Pasalnya kali ini adalah kali pertama menantu keluarga Suryo dari anaknya Edgar ikut dalam acara perjamuan makan malam.
Mereka semua penasaran, ingin tahu bagaimana tampilan, rupa dan etika menantu dari keluarga terhormat itu.
Apalagi mereka semua tahu jika memantu dari keluarga Suryo bukanlah seorang Nona Muda, melainkan asisten sang penguasa Adam Malik.
Bisik-bisik pun mulai terjadi meski Luna pun tak tahi apa yang mereka bicarakan. Namun instingnya mengatakan jika beberapa orang membicarakan dirinya.
Luna tidak peduli, tetap mengangkat wajah dan memasang wajahnya yang dingin.
"Sayang, santai lah sedikit," ucap ibu mertua Luna, seraya memeluk lengan menantunya ini.
Luna mendadak kikuk dan tersenyum kaku. Edgar yang melihatnya hanya mampu mengulum senyum.
"Kalian duduklah dulu, aku akan memperkenalkan Luna pada yang teman-teman mama," ucap Farida, mertua Luna yang berarti mamanya Edgar.
"Ma, aku ikut," pinta Elisha, adik bungsu Edgar.
Jadilah Farida, Elisha dan Luna pergi meninggalkan yang lainnya.
Farida lalu mengajak anak dan menantunya ini untuk menemui teman-teman sosialitanya. Dan sampai di sana langsung memperkenalkan dengan bangga.
Bahwa Luna adalah menantu kesayangannya.
Semua orang lantas memindai Luna, memperhatikan gadis tinggi semampai ini dari atas sampai bawah.
Mereka semua kompak mengulum senyum saat melihat tampilan Luna yang tak jauh berbeda saat menjadi Asisten Adam Malik.
Menggunakan setelan lengkap celana panjang dan blazer andalannya.
"Jeng, itu si Luna gak niat dipakein gaun gitu?" bisik salah satu teman Farida.
Tak langsung menjawab, Farida malah terkekeh.
"Menantu saya bukan kayak menantunya Jeng, jangan disamain," jawab Farida dengan berbisik pula.
"Tapi kalau seperti itu nggak ada anggun-anggunnya."
"Nggak masalah, yang penting saya bersyukur Luna jadi menantu saya," jawab Farida bangga, membuat temannya itu jadi kesal sendiri.
Farida lalu membawa Luna dan Elisha untuk menemui temannya yang lain. Dan sama, setiap bertemu dengan orang baru Farida akan memperkenalkan Luna sebagai menantunya dengan penuh syukur dan bangga.
Hingga akhirnya mereka kembali ke meja khusus keluarga Suryo, Luna lalu mengambil tempat duduk didekat suaminya.
Dan Edgar, langsung menggenggam erat tangan sang istri di bawah meja. Bahkan berulang kali menggelitiknya menggunakan jari telunjuk hingga Luna merasa geli.
Tak berani marah-marah, akhirnya Luna hanya menatap tajam suaminya itu. Yang ditatap malah memberi isyarat Luna untuk mendekat.
Luna menurut, mendekatkan telinganya saat sang suami hendak berbisik.
Tapi bukan bisikan yang ia dapatkan, melainkan sebuah ciuman kecil persis di daun telinganya.
Luna akhirnya hanya bisa mengulum senyum, menahan agar senyum itu tidak terlalu lebar dan mencuri perhatian semua orang.
Edgar tahu malam ini adalah malam yang berat untuk Luna. Karena istrinya harus bertemu dengan banyak orang dengan statusnya yang baru.
Edgar juga tahu jika istrinya adalah wanita tangguh yang tidak mudah ditindas, tapi tetap saja Edgar tidak ingin membuat istrinya merasa tak nyaman.
Maka apapun akan Edgar lakukan untuk mengembalikan senyum istrinya itu.
"Nanti main di mobil ya?" bisik Edgar akhirnya, membuat Luna langsung mencubit pahanya kuat-kuat.
Dan Edgar langsung menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak.