My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 59 - Meminta Lebih



Dengan kaki yang gemetar, Monica berdiri tepat dihadapan Adam yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Bacalah ini," titah Adam seraya menunjukkan layar ponselnya yang menyala.


Kedua netra Monica langsung membola, kala melihat isi ponsel itu. Terekam dengan jelas, semua bukti kejahatan yang ia lakukan selama ini.


Bahkan saat Monica hendak menyuap dokter untuk menukar hasil tes DNA yang dilakukan Haura pun ada di sana.


Tak punya pembelaan apapun, Monica akhirnya memilih bersimpuh. Memegang kuat kedua kaki Adam dan terus mengucapkan kata maaf.


"Menyingkirlah, maaf dan sujudmu tidak akan merubah apapun," ucap Adam dingin, tak sedikitpun iba melihat air mata Monica.


"Aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu," pekik Monica diantara isak tangisnya yang pilu.


"Besok, datanglah ke pengadilan agama. Katakan kesediaanmu untuk berpisah denganku. Dan pastikan juga, besok ketuk palu perceraian kita sudah di ketukan oleh hakim," jelas Adam, yang tak mengindahkan kata cinta sang istri.


Monica makin menangis, bahkan ia masih setia bersimpuh dengan kedua lututnya.


"Jika itu tidak kamu lakukan, ku pastikan kamu akan mendekam seumur hidup dipenjara," timpal Adam.


Tanpa belas kasih pun Adam segara menarik kakinya kuat, hingga membuat Monica terjerembab jatuh ke atas aspal. Bahkan telapak tangannya pun hingga terluka, tergores oleh kerikil tajam.


Adam pergi dari sana dan tak sedikitpun menoleh lagi kepada Monica.


"Kamu jahat Mas, kamu jahat," rintih Monica yang tangisnya makin deras mengalir.


Perceraian dengan Monica, adalah satu-satunya hal yang Adam prioritaskan kali ini. Meski ia sudah begitu geram ingin segera menghukum Monica atas semua kejahatannya.


Dan setelah perceraian itu resmi, barulah Adam akan memberikan hukuman yang sesungguhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat jam 11 malam, Adam sudah kembali ke kamar Haura.


Wanita ini masih tertidur dengan nyenyaknya.


Melihat itu, semua rasa benci Adam pada Monica langsung menguap dan menghilang. Diganti dengan perasaan hangat yang menyelimutinya tanpa celah.


Kembali duduk di sofa tunggal yang berada di samping tempat tidur Haura, Adam menggenggam salah satu tangan wanitanya dan mencoba memejamkan mata pula.


Hingga saat di pertiga malam, Haura terbangun.


Melihat Adam yang terlelap, seraya menggenggam salah satu tangannya dengan genggaman yang nyaris terlepas.


Menyadari itu, ada gelayar aneh yang mendatangi hati Haura. Perasaan hangat yang hanya ia rasakan jika bersama Adam.


Wajah yang menyerupai kedua anaknya, Azzam dan Azzura.


Haura, memberanikan diri untuk kembali mengenggam tangan Adam. Lalu menautkan jemari keduanya hingga saling menyatu.


Seolah melengkapi satu sama lain, menempati ruang kosong yang selama ini menyelimuti keduanya.


"Benarkah kita bisa bersama?" gumam Haura, ia menatap genggaman yang ia buat sendiri, lalu beralih menatap wajah Adam yang nampak tenang.


"Bolehkah aku meminta lebih, bukan hanya pengakuan untuk kedua anakkku, tapi juga cinta yang tulus untukku?" timpal Haura lagi dengan suaranya yang lirih.


Namun ketika menyadari harapannya itu terlalu tinggi, ia dengan segera melepaskan kembali genggaman yang ia buat ditangan Adam.


Haura cukup sadar diri, jika Adam berada disini hanya demi kedua anaknya, Azzam dan Azzura.


Jika Adam memperlakukannya dengan begitu baik, juga demi anak mereka, Azzam dan Azzura.


Bukan demi dirinya.


Haura tersenyum kecil, lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Terus memperhatikan wajah Adam, hingga lambat laun ia kembali terlelap.


Dan terbangun lagi ketika adzan subuh berkumandang.


Haura membuka mata dan tak mendapati Adam dihadapannya. Seketika kedua matanya membola, menelisik tiap sudut ruangan untuk mencari dimana Adam berada.


Hingga suara gemericik air dari dalam kamar mandi, membuat ia tersenyum kecil. Yakin, jika Adam kini sedang berada di sana.


Kala itu, Adam memutuskan untuk shalat subuh di masjid rumah sakit, sementara Haura shalat di ruang rawatnya sendiri.


Adam dan Haura sama-sama mengangkat kedua tangannya untuk berdoa sesaat setelah menyudahi shalat subuh.


Doa mereka diucapkan dengan penuh permohonan, meminta dengan sangat agar doa itu akan dikabulkan.


Doa, untuk bisa hidup bersama jika memang jodohnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Azzura : Jodoh aamiin, jodoh aamiin, jodoh aamiin.


Azzam : Ading jangan berisik! doanya didalam hati saja 😑


Like, Komen, Hadiah, Vote jangan lupa 🤣 😘💪