My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 168 - Best Friend Forever



Adam dan Haura, kini selalu bergantian untuk menikmati rasanya mandi.


4 hari ini mereka disibukkan dengan mengurus baby Agatha.


3 baby suster yang Adam siapkan untuk mengurus baby Agatha pun, kini sudah dipulangkan.


Adam dan Haura akhirnya sepakat untuk mengurus baby Agatha secara langsung. Menikmati mengurus sang anak yang tidak akan pernah bisa diulang lagi.


Bahkan kini, Adam sudah sangat jarang pergi ke Malik Kingdom. Semua pekerjaannya diboyong ke rumah.


Untunglah, kini ada Kris dan Luna yang sigap mengatur semuanya. Kulu kilir kesana kemari menjadi tim sibuk. Hanya sesekali saja Adam keluar jika ada kepentingan yang sangat-sangat penting.


Sanja pun masih akan berada di rumah ini selama 40 hari baby Agatha, setelah itu ia akan berhenti menjadi dokter pribadi Haura dsn akan ikut sang suami untuk tinggal di Malaysia.


Hari pertama hingga ketiga kemarin, banyak sekali kerabat dan kolega Adam yang datang langsung ke rumah ini untuk mengucapkan selamat.


Bahkan karangan bunga selamat datang untuk baby Agatha Malik pun berjejer memenuhi halaman rumah Adam, hingga keluar dipinggir-pinggir jalan.


Juga kado baby Agatha yang sudah memenuhi kamar.


"Aku jadi sedih sayang," ucap Adam, saat mulai membereskan kado-kado itu.


Rencananya semua akan dibuka untuk melihat isinya, lalu diletakkan di kamar baby Agatha yang sedari lama sudah disiapkan.


"Sedih kenapa?" tanya Haura, ia menoleh dan menatap suaminya itu, sementara baby Agatha sudah terlelap didalam box bayinya.


Belum menjawab pertanyaan sang istri, air mata Adam jatuh begitu saja. Membuat kedua netra Haura langsung membola. Buru-buru, Haura bergeser dan memeluk tubuh suaminya, bahkan berulang kali mengelus punggung Adam.


"Mas kenapa? kenapa malah menangis?" tanya Haura yang jadi cemas.


Tapi Adam tak langsung menjawab, masih mencoba meredam sesak di dada yang ia rasakan. Adam terus memeluk tubuh sang istri, mencari kedamaian.


Hingga cukup lama, akhirnya Adam melerai pelukannya itu. Memberi jarak hingga ia bisa menatap wajah sang istri secara lekat.


Adam, membelai wajah itu dengan sangat sayang.


"Mas kenapa?" tanya Haura sekali lagi, kini matanya sudah jadi sendu. Sedih pula melihat suaminya menangis seperti itu.


"Aku jadi teringat Azam dan Azura kecil sayang," balas Adam dengan suaranya yang tercekak.


Tak perlu dibahas, mereka sama-sama tahu bagaimana masa kecil Azam dan Azura dulu. Sangat berbanding terbalik dengan baby Agatha saat ini.


Mungkin, karena itu jugalah Zahra mengajak kedua cucunya itu untuk tinggal bersamanya dulu. Agar tak melihat, banyaknya ucapan selamat dan kado yang diterima oleh sang adik.


Haura, lantas kembali memeluk suaminya erat.


Ia tersenyum kecil seraya terus memberikan pelukan hangat pada sang suami.


"Mas, kamu sudah menebus itu semua. Percayalah, kasih sayangmu lebih berarti dari banyaknya ucapan selamat dan kado ini," jelas Haura, meskipun ia merasakan hal yang sama seperti sang suami, namun ia tak ingin Adam terus merasa bersalah. Karena itu hanya akan menyiksa batin suaminya.


"Kita sumbangkan saja kado ini untuk anak-anak di panti ya?" tanya Adam pada sang istri, namun Haura langsung menggelengkan kepalanya.


"Jika ingin berbagi, pakai saja uang kita sendiri Mas. Ini adalah milik Agatha, pemberian dari orang-orang yang menyayanginya. Kita harus menghargai itu," jelas Haura.


Membuat Adam tak bisa berkata-kata, sejenak ia jadi lupa caranya menghargai orang.


"Mas tenang saja, Azam dan Azura pasti akan mengerti, mereka akan menjadi kakak kakak yang baik," timpal Haura lagi.


Dan Adam pun mulai menganggukkan kepalanya.


"Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Adam lagi, seperti membuat penawaran.


"Apa?" tanya Haura, singkat.


"Izinkan aku membelikan Azam dan Azura banyak mainan, seperti milik Agatha," pinta Adam dengan sungguh-sungguh. Ia sangat berharap Haura akan mengizinkannya, karena selama ini Haura selalu melarang ia untuk membeli ini dan itu yang sekiranya akan sia-sia.


Membuat Adam tersenyum lebar dan langsung menarik istrinya lagi, untuk didekapnya erat.


Setelah itu, Adam langsung memenuhi kamar Azam dan Azura dengan banyak mainan, sebanyak milik baby Agatha.


Adam, sudah tahu betul apa kegemaran kedua anaknya. Hingga bisa ia pastikan jika Azam dan Azura nanti akan sangat senang saat pulang melihat kado-kado ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berlalu hingga banyak hal yang sudah terlewatkan.


Aida sudah melahirkan anak laki-lakinya, dan Yuda menyambutnya dengan penuh syukur. Aida dan Yuda, memberikan nama yang indah untuk anak pertamanya itu, Alghazali Malik.


Juga Sarah yang sudah melahirkan sang jabang bayi, ia dan sang suami Agra lantas memberinya nama Alesha Malik, adik dari Arrabela Malik.


Azam, Azura dan semua teman-temannya pun sudah menjalani ujian naik kelas. Kini mereka semua sudah resmi menjadi murid kelas 2 sekolah dasar di AIG School.


Azam dan yang lainnya sudah tidak sabar, menunggu kedatangan Ryu dan Haruka ke sekolah mereka.


Sejak bertemu di jepang, mereka sudah sering saling bertukar kabar. Bahkan Haruka dan Ryu sudah masuk ke grup whatsapp Prince and Princess AIG School.


Dan semenjak ada Ryu dan Haruka, kini nama whatsapp itu diubah oleh Arabella, menjadi.


Best Friend Forever.


"Tangkap Abang!" teriak Azura dan Arabella dengan semangatnya. Sementara Azam terus berlari menangkap bola kasti yang baru dipukul oleh sang lawan.


Hingga akhirnya, bola itu masuk ke dalam genggaman Azam.


Grep!


Dengan sigap, Azam pun langsung melempar bolanya pada Arnold yang berdiri di pos penjaga yang berada paling dekat dengan lawan.


Sialnya bola itu belum sampai, tapi si lawan terus berlari menuju Julian di pos akhir.


"Tembak Ar!" teriak semua pendukungnya dengan berapi-api.


Membuat Arnold langsung berbalik dan melempar bola itu hingga dengan tepat Julian menangkapnya sebelum musuh datang.


"Ye!!" sorak semua orang saat melihat permainan epic itu.


Tim Azam menang, Azura dan Arabella pun sontak melompat-lompat kegirangan.


Sementara Azam, Arnold beserta teman satu timnya yang lainnya langsung saling berpelukan erat. Merayakan kemenangan mereka.


Saat ini jam olahraga biasa, namun rasanya lebih kompetitif.


Pritt!


Peluit tanda istirahat sudah ditiupkan, Azam dan semua teman-temannya pun menyingkir ke pinggir lapangan. Sementara Azura dan Arabella langsung berlari menghampiri, seraya membawa beberapa botol air mineral.


Lalu membaginya pada semua orang, hingga membuat kedua gadis ini tersenyum lebar saat minuman mereka diterima dengan antusias.


"Yah Zura, aku juga jadi haus, tapi minuman kita habis," ucap Bella, seraya melihat plastik kosong yang masih berada di tangannya.


Azura terkekeh, tadi Bella bilang minuman ini sudah pas untuk mereka semua.


"Minum saja punyaku," ucap Arnold dan Azam, kompak. Seraya mengulurkan masing-masing botolnya.


Membuat senyum Arabella langsung terkembang. Tidak perlu capek-capek kembali ke kantin.


"Aku ambil punya abang sajalah," jawab Arabella dengan riangnya. lalu mengambil botol minum milik Azam. Meminumnya sedikit lalu mengembalikannya pada si pemilik.


Dan tanpa babibu, Azam pun kembali meminum airnya itu.