
Adam dan Haura menuruni anak tangga bersama anak laki-lakinya, Azzam.
Beberapa saat lalu Azzam menghampiri keduanya, memeluk erat melepas rindu, lalu mengatakan dengan antusias jika amang Shakir ada di bawah.
Dan kini mereka semua turun ke lantai 1 untuk menemui Shakir.
Kedua netra Adam dan Haura membola, saat mereka sama-sama melihat Luna yang duduk disebelah Shakir.
Hal ini adalah pemandangan yang langka, karena biasanya, Luna akan selalu setia untuk berdiri, sigap.
"Tuan Shakir," sapa Adam.
Seketika itu juga Shakir bangkit dari duduknya dan diikuti pula oleh Luna, Luna bahkan langsung berpindah posisi, berdiri dibelakang Adam dan Haura.
"Tuan Adam, maaf jika kedatangan saya mengganggu," jawab Shakir, ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Adam menyambut itu.
Setelah terlepas, Shakir menatap Haura sekilas. Merasakan hatinya yang berdesir entah. Melihat raut wajah Haura yang nampak bahagia, ia segera mengalihkan tatapannya.
Haura sudah dimiliki oleh orang lain, dan ia tak boleh menjadi pengganggu.
Azzura yang melihat kedua orang tuanya pun langsung bangkit, dan memeluk sang ayah dan sang ibu erat.
Adam dan Haura lalu memeluk nenek Aminah pula.
"Kami dari desa Parupay Bang, baru pulang," jelas Haura, apa adanya.
Shakir berOh ria, pantas saja rasanya seolah Azzam dan azzura sudah lama tidak bertemu kedua orang tuanya. Batin shakir.
Saat itu, Adam mengizinkan Haura dan Shakir berunding bersama, Azzam ikut duduk bersama mereka di ruang keluarga itu.
Sementara nenek Aminah memutuskan untuk ke dapur dan membantu koki di sana untuk mengupas beberapa buah yang Haura bawa dari Desa.
Sedangkan Adam, menggendong sang putri Azzura ke ruang keluarga yang lain, mengajak Luna pula untuk ikut bersamanya.
"Apa kamu sudah menemukan penulis yang tepat untuk istriku?" tanya Adam, ketika ia sudah duduk disalah satu sofa dengan memangku Azzura.
Mereka duduk dan menghadap kolam renang yang ada di rumah itu.
"Sudah Tuan, beliau adalah penulis Anna. Tapi saat ini ia juga sedang menulis tentang Tuan Edgar. Nanti, saya akan membuat jadwal temu antara penulis Anna dan Nyonya Haura."
Adam mengangguk, ia mengenal pula penulis Anna itu. Tulisannya sesuai dengan yang diucapkan oleh narasumber, dan menambahkan narasi sesuai fakta. Tanpa ditambah-tambahi hanya untuk mencari sensasi.
"Luna, sekarang aku punya tugas baru untukmu," ucap Adam lagi.
Dan Luna masih berdiri, siap mendengarkan.
"Mulai hari ini, kamu akan bekerja menjadi Asisten Pribadi istriku. Handle semua urusan Haura, termasuk urusan perkebunannya di Desa. Aku ingin, kamu menjadi tangan kanan Haura."
"Siap Tuan," jawab Luna, Patuh.
Ia bahkan sedikit menundukkan kepalanya, menghormati semua keputusan sang Tuan.
Bagi Luna, melayani keluarga Malik adalah cita-citanya. Tak peduli siapapun itu, baik Adam, Haura, atau bahkan Tuan dan Nona muda.
Menjadi ajudan keluarga Malik adalah keinginan semua orang.
Tak hanya mendapatkan gaji yang fantastis. Keluarga Malik juga dikenal sebagai keluarga yang dermawan. Baik hati dan tak membeda-bedakan kasta.
Bahkan mereka semua begitu menghargai para pekerja.
Dan Luna pun, sudah merasakannya sendiri. Hingga ia terus bertekad untuk melayani keluarga Malik, sampai ia tak mampu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruang keluarga, Shakir menjelaskan sebuah berkas yang ia bawa kepada Haura.
"Apa kamu bahagia?" tanya Shakir, melenceng dari topik pembicaraan.
Tak hanya Haura, Azzam pun ikut menoleh dan menatap sang amang.
Shakir bisa melihat, Haura yang tersenyum begitu teduh.
"Alhamdulilah Bang, aku sangat bahagia," jawab Haura, ia tersenyum dan Azzam pun ikut tersenyum pula.
Senyum, yang akhirnya membuat Shakir ikut tersenyum juga.
"Alhamdulilah, aku lega." balas Shakir.
Obrolan keduanya terhenti saat nenek Aminah memanggil mereka untuk segera menuju meja makan.
Memakan beberapa oleh-oleh Haura yang sudah ia sajikan diatas meja.
Awalnya Shakir ragu untuk masuk, namun saat melihat wajah Haura dan azzam yang memintanya dengan sungguh-sungguh, akhirnya Shakir pun luluh.
Siang menjelang sore kala itu, mereka semua berkumpul di meja makan.
Adam, Haura dan kedua anaknya.
Luna, Shakir dan nenek Aminah juga.
Memakan buah-buah hutan yang terasa manis.
Saat itu juga, Adam mengatakan kepada Shakir, jika mulai kini ia bisa menghubungi Luna jika ada yang perlu dibahas tentang perkebunan.
Luna, adalah asistem pribadi Haura.
Mendengar itu, Shakir mengangguk. Lalu melirik sekilas Haura yang makin lama akan semakin jauh dari hidupnya.
"Baik Tuan," jawab Shakir akhirnya.
Buah yang tadinya manis, kini terasa pahit di mulut Shakir.
"Kita akan sering bertemu," ucap Shakir pada rekan bisnisnya yang baru ini.
Saat ini Luna sedang mengantarkan Shakir untuk pulang. Mengantarnya hingga sampai di sebelah mobil Shakir.
Luna mengantar, demi keprofesionalannya sebagai rekan kerja.
"Iya Tuan, jika ada yang perlu dibicarakan, hubungi saja saya," jawab Luna dan Shakir mengangguk.
Tanpa banyak kata lagi, Shakir segera masuk ke dalam mobilnya dan mulai berlalu dari sana.
Shakir melihat dari kaca spion, jika Luna terus berdiri di sana dan melihat kearahnya, hingga ia pergi menjauh dan benar-benar menghilang dan tak terlihat lagi.
"Luna," desis Shakir.
Dan diseberang sana, Luna pun menyebut nama pria dari negeri Jiran itu dengan lirih.
"Tuan Shakir," gumam Luna.
Jujur saja, Luna sebenarnya juga merasa iba pada nasib Shakir itu. Namun Luna juga bangga, karena Shakir bukanlah laki-laki yang lemah.
Ia mau menerima Haura yang menikah dengan pria lain, lalu menghadapi rasa sakit itu tanpa menyalahkan orang lain.
Dengan bibir yang tersenyum kecil, Luna pun kembali masuk ke dalam rumah sang Nyonya.
Kini, Nyonya Haura adalah majikan utamanya.