
Dari dalam mobilnya, Monica terus tersenyum menatap Haura.
Apalagi saat melihat, sebuah mobil van berwarna hitam yang sudah bersiap untuk menabrak wanita itu hingga hancur berkeping, berlumur darah dan mati.
Monica terkekeh, merasa keberuntungannya akan segara datang.
"Lakukan!" ucap Monica dalam sambungan telepon.
Dan setelah panggilan itu terputus. Mobil Van hitam itu segera melaju dengan cepat, bahkan masuk ke trotoar jalan untuk menabrak tubuh Haura yang nampak begitu rapuh.
Bahkan Monica menutup matanya, saat Mobil itu berhasil menabrak tubuh Haura.
Brak!
Mobil itu kembali melaju dengan cepat, meninggalkan tempat kejadian.
"Nyonya! anda baik-baik saja? Nyonya!" teriak seorang wanita yang menggunakan baju setelan hitam, lengkap pula dengan topi yang menutupi kepalanya.
"Tangan anda terluka! sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," timpal wanita yang lainnya lagi, yang juga menggunakan baju senada.
Sementara Haura? ia terpaku ditempatnya tersungkur.
Seolah beberapa detik lalu adalah waktu yang hilang dari ingatannya. Semuanya berjalan begitu cepat, bagaimana mobil itu hendak menabraknya dan bagaimana kedua wanita ini menyelamatkan dirinya.
"Nyonya?" panggil salah satu wanita lagi yang merasa cemas.
"Nyonya!" pekiknya hingga membuat Haura tersadar, namun lidahnya masih kelu, tak bisa mengucapkan apa-apa.
"Aku sudah mendapatkan mobilnya dan menghubungi Tuan. Kalian tetap disini, jaga Nyonya Haura," ucap wanita lainnya lagi yang tiba-tiba datang.
"Siap!" jawab kedua wanita itu, kompak.
Dan Haura, benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi, apa saat ini sedang ada latihan militer? pikirnya diantara kepala yang setengahnya mulai kosong.
Hingga tak lama kemudian, Luna sampai di sana. Serentak dengan Azzam dan Azzura yang keluar dari gerbang AIG School.
Luna memerintahkan kedua wanita yang menjaga Haura untuk pergi, ia tak ingin membuat Azzam dan Azzura berpikiran yang tidak-tidak.
"Luna, apa yang terjadi?" tanya Haura lirih, ia masih gamang.
"Semuanya baik-baik saja Nyonya, percayalah," jawab Luna mencoba menenangkan.
"Ibu, Tante Luna," sapa Azzura yang sampai di sana bersama Azzam.
Azzam langsung menatap sang ibu, yang wajahnya nampak pias. Lalu pandangannya turun, melihat tangan sang ibu yang gemetar.
Azzam langsung saja hendak menyentuh tangan ibunya itu, namun kalah cepat dengan sang ayah yang datang tiba-tiba.
"Kamu terluka," ucap Adam, saat melihat goresan di telapak tangan Haura, yang sebagiannya sudah membekas darah kering.
"Ibu kenapa?" tanya Azzura yang jadi cemas, kecemasan yang sama seperti yang dirasakan oleh Azzam.
"Ibu terjatuh, tadi kakinya tersandung." Luna yang menjawab, dan Haura hanya mampu menganggukan kepalanya.
"Anak-anak ayah sayang, ayah akan bawa ibu ke rumah sakit, kalian pulang bersama tante Luna ya?" pinta Adam dengan sungguh-sungguh, ia bahkan menggunakan lututnya untuk bersimpuh, mensejajarkan diri dengan Azzam dan Azzura.
Melihat tatapan ayahnya itu, Azzam dan Azzura kompak menganggukan kepala.
"Aku baik-baik saja Mas, ini hanya luka kecil," ucap Haura, namun tak diindahkan oleh Adam.
"Diamlah, lukamu harus diobati," ucap Adam, ia bahkan melindungi kepala Haura agar tidak terantuk pintu mobil.
Dan setelahnya, mereka menuju rumah sakit terdekat.
"Aa! sial sial sial!!" umpat Monica yang masih berada ditempat yang sama. Ingin menyaksikan sendiri kematian Haura, namun ternyata rencananya lagi-lagi gagal.
"Bisa gawat kalau mas Adam sampai tahu, kenapa pula mas Adam memberikan pengawalan untuk Haura? Hah! SIAL!!
Secepat yang ia bisa, Monica segera meninggalkan tempat itu. Menghapus semua jejak yang ia punya dengan orang suruhannya tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit.
Adam langsung membawa Haura ke ruangan VVIP.
Bahkan dokter bedah dan ahli kulit langsung datang kesana untuk memberikan penanganan.
Luka Haura, hanya butuh diberi obat merah dan dibalut tipis. Namun Adam, merasa jika itu adalah luka berat.
"Kita menginap disini ya? semalam saja, jika keadaanmu benar-benar baik saja, besok kita pulang."
"Tapi aku baik-baik saja Mas, ini hanya lecet," jelas Haura apa adanya.
"Bagaimana jika tiba-tiba kakimu ternyata terkilir, bagaimana jika tiba-tiba ada tulangmu yang retak. Tidak-tidak, lebih baik kita menginap semalam disini. Aku akan menjagamu," final Adam, tak bisa dibantah.
Adam lalu menghubungi om Jodi, mengatakan tentang keadaan Haura disini. Meminta agar Jodi, Aminah beserta kedua anaknya untuk tenang.
Bahkan Adam langsung membuat panggilan video call, agar mereka semua yakin jika Haura baik-baik saja. Mereka disini hanya ingin memastikan agar tak terjadi hal yang buruk.
Saat Jodi bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Adam jujur mengatakan jika Haura nyaris saja mengalami kecelakaan. Namun Adam meminta agar kedua anaknya tak perlu diberi tahu.
Mendengar itu, Akhirnya Jodi pun mengizinkan dengan lapang dada jika Haura sampai harus dirawat. Ia juga memastikan, bahwa Azzam dan Azzura tak akan sampai cemas.
"Mas, sebaiknya kita pulang," ucap Haura, sesaat setelah Adam memutus sambungan teleponnya dan duduk disisi ranjang perawatan Haura.
Adam tak langsung menjawab, ia lebih dulu menggenggam tangan Haura yang sudah dibalut rapi.
"Menurutlah padaku, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja."
Hening, Haura tak membalas lagi ucapan Adam itu. Keduanya hanya saling tatap, seolah berkomunikasi melalui tatapan itu, saling mengerti isi hati satu sama lain.
"Apa Mas mengenal wanita-wanita yang membantuku tadi?"
Adam mengangguk.
"Mereka adalah anak buah Luna, orang yang aku perintahkan untuk selalu melindungimu, Azzam dan juga Azzura."
Lagi lagi hening, Haura sampai tak bisa berkata-kata.
Hanya tatapan dalamnyalah, yang seolah mengucapkan kata terima kasih.
Adam, mengelus pucuk kepala Haura dengan sayang, lalu meminta wanitanya itu untuk beristirahat.
Dan ia, akan menunggu.