
"Ingat, pura-pura tidak tahu." Adam mengingatkan sekali lagi pada kedua anaknya, ia benar-benar tidak ingin membuat Haura marah, karena ia sudah berkhianat.
"Iya Yah, percayalah kepada kami," jawab Azzam, meyakinkan. Meskipun diam-diam, ia merasa lucu sendiri dengan sikap sang ayah.
Tak lama setelah Adam menekan bell rumah itu, pintu dibuka oleh Haura.
Seketika keduanya menjadi canggung, Haura merasa malu dengan status mereka yang baru. Sementara Adam, takut ketahuan oleh Haura.
Senyum kikuk keduanya, benar-benar terlihat lucu dimata Azzam dan Azzura.
"Mau masuk tidak?" goda Azura mengikuti perkataan sang ibu tempo hari.
Azzam mengulum senyumnya, sekuat tenaga menahan agar tawanya tidak pecah.
"Masuk Mas," ucap Haura kemudian, seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Sayang, kalian ganti baju dulu ya, setelah itu kembali lagi kesini, ada yang ingin ayah dan ibu bicarakan," jelas Haura kepada Azzam dan Azzura, dan kedua anaknya itu mengangguk dengan patuh.
Lalu meninggalkan kedua orang tuanya, berdua di ruang tamu. Saat ini Aminah sedang beristirahat, tidur siang.
"Mas tunggu sebentar ya, aku buatkan minum," ucap Haura, namun dengan cepat Adam mencegah kepergian Haura itu.
Kebiasaan yang selalu dilakukan Adam, menggenggam tangan Haura erat. Lalu perlahan, menautkan jemari keduanya.
"Tidak usah," jawab Adam kemudian, lalu menarik Haura untuk duduk di sofa bersama dirinya.
Melihat Haura yang tidak tahu apa-apa, ternyata Adam tidak tega.
Ternyata, Adam tidak bisa membohongi Haura. Meski berat untuk jujur, namun Adam sudah bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Haura, sebenarnya, aku sudah memberi tahu Azzam dan Azzura tentang rencana kita untuk menikah," jelas Adam, masih dengan menggenggam erat kedua tangan Haura.
"Tadi, di mobil saat perjalanan pulang," timpal Adam lagi karena Haura hanya terdiam
"Kamu tidak marah kan? sayang," ucap Adam lirih, sedikit takut pula ketika mengucapkan kata sayang itu. Namun mulutnya berucap sendiri, tak bisa dikendalikan.
Entahlah, ketika sudah berhadapan dengan Haura. Ia seperti bukan Adam yang seperti biasanya. Seolah Adam memiliki dua sisi yang berbeda.
Dan mendengar kata sayang, Haura mengigit bibir bawahnya, menahan agar tidak terkekeh. Rasanya begitu lucu, dan aneh.
"Benar Mas sudah memberi tahu mereka?"
Adam mengangguk pelan.
"Apa mereka bahagia?" tanya Haura lagi, dengan sudut bibir yang tertarik sedikit, membentuk sebuah senyuman kecil.
"Bukan hanya mereka yang bahagia, kita juga harus bahagia," jawab Adam.
Haura tersenyum, merasa sangat bersyukur. Semuanya berjalan diluar kendalinya, tak menyangka jika semuanya akan jadi seindah ini.
"Ayah Ibu, apa yang mau dibicarakan?" ucap Azzura yang tiba-tiba datang bersama Azzam.
Seketika Haura menarik tangannya, melepaskan diri dari genggaman Adam. Saat itu, Adam tak bisa menahannya, meskipun sebenarnya ia begitu enggan.
"Bukankah kalian sudah tahu apa yang ingin ibu bicarakan?" tanya balik Haura, seraya memangku Azzura yang datang mendekat, sementara Azzam, duduk dipangkuan sang ayah.
"Memangnya mau bicara apa? Zura benar-benar tidak tahu," jawab Azzura dengan wajahnya yang polos, namun seketika kedua netra Haura membola.
"Tidak tahu?" ulang Haura dan Azzura menganggukkan kepala, juga diikuti oleh Azzam.
Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Haura lalu menatap Adam, meminta penjelasan. Namun yang ditatap, hanya mampu tersenyum kikuk.
Bertambah lagi satu dosanya, meminta anak-anak untuk berbohong.
Reflek, Haura mencubit lengan Adam, hingga pria ini gaduh kesakitan.
"Aw, ibu Haura. Maaf," ucap Adam tulus.
Dan kini giliran kedua anaknya yang bingung. Apa skenarionya sudah berubah? pikir Azzam dan Azzura kompak.
"Kenapa ayah meminta maaf?" bisik Azzam pelan.
"Karena ibu sudah tahu jika ayah memberi tahu kalian lebih dulu, tapi kalian malah pura-pura tidak tahu, berbohong," jelas Adam, tidak berbisik namun dengan suara yang begitu lirih. Tapi Azzura masih mampu mendengarnya.
Seketika, Azzura turun dari pangkuan sang ibu dan pindah kepangkuan ayahnya. Karena bagi Azzura, mendadak tatapan sang ibu berubah jadi menakutkan, nampak lebih dingin.
"Maafkan kami Bu," ucap Azzura dan Azzam kompak, lengkap pula dengan senyum yang dipaksakan.
Sementara Haura, bukannya marah, ia malah mengulum senyumnya. Mengetahui kedua anaknya semakin dekat dengan sang ayah, Haura merasakan kebahagiaan tersendiri.
Ada yang berbeda dihatinya. Jika dulu, Haura begitu takut Adam akan mengambil kedua anaknya, namun kini, rasanya ia lebih bahagia ketika melihat Azzam dan Azzura lebih dekat dengan Adam dibanding dirinya.
"Sudah dimaafkan, tapi lain kali jangan bohongi ibu lagi."
"Siap!!" jawab ayah dan kedua anaknya, kompak.
Lalu diam-diam, Adam kembali menggenggam salah satu tangan Haura dengan sayang.