
Haura tak bisa menolak keinginan Zahra untuk menerima cincin itu, terlebih cincin yang diberikan Zahra adalah cincin berharga, cincin yang memiliki sebuah kenangan.
Saat itu Zahra juga menunjukkan cincin yang kelak akan di pakai Adam.
Sepasang dengan cincin miliknya.
Siang itupun Haura tak langsung pulang, Zahra mengatakan jika ia telah meminta Adam untuk pulang, sekaligus bersama dengan Azzam dan Azzura.
Hari ini, Aida dan suaminya tidak berada di mansion. Mereka mengunjungi orang tua Yuda, berencana menginap di sana pula.
Dan seperti ucapan Zahra, ketika jam pulang sekolah tiba. Adam, Azzam dan Azzura sampai di mansion itu.
Zahra bahkan sampai berjongkok, menyambut kedua cucunya dengan sebuah pelukan hangat.
"Kalian sudah makan?" tanya Zahra pada Azzam dan Azzura.
"Sudah Nek, sangat kenyang," jawab Azzura dan diangguki pula oleh Azzam.
Sang nenek lalu meminta Azzam dan Azzura untuk mengganti baju, lalu setelah itu mereka semua menuju sebuah ruangan.
Ruangan yang sudah Zahra sulap menjadi tempat bermain Azzam dan Azzura ketika sedang berada di mansion.
Disaat Azzam dan Azzura asik berlari dan memainkan semua permainan di sana. Zahra beserta Adam dan Haura duduk di sofa ruangan itu. Memperhatikan anak-anak dan juga membicarakan tentang pernikahan mereka.
Pernikahan yang akan digelar setelah Azzam dan Azzura selesai ujian tengah semester juga setelah Haura menemui sang kakak untuk meminta restu.
Jika dihitung, maka bisa dipastikan jika Adam dan Haura akan menikah satu bulan lagi.
Saat itu, Zahra mengatakan jika ia yang akan mengurus semua pernikahan. Bahkan Zahra pun mengatakan, jika biar orang-orangnya juga yang mengurus surat-surat pernikahan mereka.
Mendengar semua bantuan Zahra, Haura sungguh merasa tak enak hati. Ia justru malah merepotkan Zahra dalam setiap hal.
Namun saat Haura hendak mengatakan keberatannya, Adam lebih dulu memberi isyarat untuk diam. Adam lagi-lagi menggenggam erat tangan Haura yang duduk disebelahnya.
Dulu, saat pernikahannya dengan Monica. Pernikahan itu memang digelar secara mewah dan disaksikan seisi dunia, namun semua itu atas pengaturan Monica. Tak ada sedikitpun peran Zahra, ibu dari Adam.
Sama, saat pernikahan Aida dan Yuda dulu.
Cukup lama mereka berada di Playroom itu, membicarakan banyak hal. Ditutup dengan semua doa Zahra untuk kedua anaknya, Adam dan juga Haura yang sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri.
"Terima kasih Bu," ucap Haura tulus, hanya satu kalimat itulah yang bisa ia ucapkan untuk membalas semua kebaikan Zahra.
Mendengar kata terima kasih dari Haura, Zahra tersenyum. Lalu memeluk Haura erat. Bahkan dari tatapan Haura, dari ucapan lembut Haura. Zahra, bisa merasakan bagaimana tulusnya hati Haura.
Dan ia sangat mensyukuri itu, Adam menemukan wanita yang tepat. Bahkan jika Haura tidak memiliki Azzam dan Azzura, Zahra pun akan menerima Haura dengan tangan terbuka.
"Abang!" teriak Azzura hingga mengalihkan perhatian semua orang.
Azzam lalu berlari, menuju sang ayah mencari perlindungan dengan mulutnya yang terkekeh.
Sementara dengan wajah cemberutnya, Azzura berdiri disebelah sang nenek.
"Nek, Abang curang, kan Zura yang menang main wall climbingnya, tapi Abang ambil bola kristal itu," tunjuk Azzura pada bola Kristal yang digenggam sang kakak.
Bola Kristal seukuran telur ayam dengan warna cerah yang begitu indah.
"Abang, kalau itu hadiahnya, berarti itu milik Zura. Sini kasih Ading," pinta Zahra hingga membuat Azzura tersenyum lebar.
Azzam lalu membisikan sesuatu pada sang ayah, "Ayah, Ading sudah banyak mengantongi kelerengku."
Kedua netra Adam membola, berarti kedua anaknya sedang bertukar mainan. Namun ada salah satu yang menginginkan semuanya.
Perdebatan anak kecil yang begitu umum.
Namun Adam begitu awam dalam hal ini, ia melirik Haura meminta petunjuk. Dan Haura hanya terkekeh, lalu mengedikkan bahu tanda tidak tahu.
Haura terus menatap Adam dengan tatapan yang entah diantara senyum yang ia kulum. Namun jika tatapan itu bisa diartikan, maka tatapan itu akan bicara seperri ini, Rasakan! sekarang giliran Mas yang menangani anak-anak, Lalu tertawa devil.
Hahahaha.