
Tak butuh waktu lama, Adam dan Haura sampai di Goa hutan itu, berteduh dari gerimis yang masih mengguyur.
Didepan pintu Goa itu, Haura menancapkan ranting yang dipenuhi kunang-kunang disalah satu sisi, lalu dengan penuh perhatian, Haura membantu Adam untuk duduk disebuah batu.
"Lepas bajumu," ucap Haura, iapun mulai melepas mantel bagian atasnya.
Kedua netra Adam membola, "Apa maksudmu?" tanyanya tidak percaya.
"Bajumu basah semua, aku tidak ingin kamu mati kedinginan," jelas Haura apa adanya, lalu melepas jaket yang sedari tadi ia pakai dan mengulurkannya pada Adam.
Jaket Shakir yang sengaja Shakir tinggal agar Haura memakainya, karena saat ini musim hujan.
"Tidak, pakailah kembali jaket itu, aku masih kuat bertahan," tolak Adam lantang, tak peduli meski dingin sudah menusuk sampai ke tulangnya.
"Jangan banyak berdebat, setidaknya bajuku masih kering," jelas Haura lagi dengan suaranya yang dingin, sumpah demi apapun ia ingin Adam segera memakai jaket ini, ia tak ingin semakin repot jika Adam sampai sakit disini, malam ini.
Adam yang mendengar suara Haura mulai marah pun akhirnya menyurut, ia mengambil uluran jaket dari tangan Haura.
Haura berbalik, dan Adam segera mengganti baju.
"Jaket siapa ini? kenapa besar sekali?" tanya Adam heran, ia pikir ia jaket Haura akan terasa sempit ditubuhnya, namun ternyata pas, bahkan masih ada ruang kosong.
"Punya abang Shakir," jawab Haura jujur, dan Adam tak bisa berkata apa-apa lagi.
Angin malam makin semilir berhembus menerpa keduanya, bahkan Haura menggosok kedua lengannya berulang kali, merasakan dingin yang menusuk.
"Tunggu dulu, kata Labih, setelah menemukan aku kamu akan menembakkan pistol, lakukanlah sekarang, agar orang-orang segera menemukan kita," ucap Haura memecah keheningan, bodohnya ia baru mengingat hal itu sekarang.
Adam tak langsung menjawab, sedikit memberi jeda.
"Maaf Haura, pistolku sudah tidak ada, mungkin jatuh di hutan," jawab Adam bohong.
"Mungkin ikut jatuh saat kamu jatuh tadi," balas Haura dengan kecewa, makin lamalah mereka berada disini.
Adam terus memperhatikan Haura yang kedinginan, terus menatap kearah depan sana, melihat adakah orang yang datang. Sejurus kemudian, ia merasa bersalah karena sudah membuang pistol itu.
"Haura, duduklah di dekatku," ucap Adam, hingga membuat Haura menoleh.
"Tidak, aku akan tetap disini, melihat jika ada orang yang datang," jelas Haura yakin.
"Kamu tidak mau aku sakit, tapi kamu membuat dirimu sendiri sakit," balas Adam, dengan kakinya yang terasa ngilu, Adam bangkit dan menarik Haura untuk duduk disebelahnya.
Sesekali kilap muncul, dengan petir yang bergemuruh.
"Azzam dan Azzura sangat merindukanmu, jadi kita harus bertahan disini, sampai orang-orang menemukan kita," ucap Adam, ia lalu duduk disebelah Haura, dengan lengan yang saling menempel.
Mencoba memberikan kehangatan.
"Apa kamu tidak takut?" tanya Adam, karena Haura nampak biasa saja dengan situasi yang mencekam seperti ini.
Malam gelap gulita, belum lagi jika ada hewan buas yang mengintai mereka.
"Bagaimana jika ada ular dan ular itu menggigit kita?" tanya Adam lagi.
"Kalau ular itu menggigit, mungkin ekornya terinjak kakimu," jawab Haura dengan terkekeh, bahkan Adam langsung reflek mengangkat kedua kakinya.
Lalu mengaduh kesakitan, saat kakinya yang terkilir bergerak asal.
"Hati-hati," ucap Haura setelah kekehannya mereda.
Dan dengan perlahan, Adam kembali menurunkan kakinya yang terkilir itu untuk menginjak tanah.
"Bagaimana bisa kamu begitu menghapal hutan ini? bahkan tahu jika disini ada Goa?" tanya Adam sungguh-sungguh, rasanya tidak mungkin seorang wanita bermain-main didalam hutan.
Mendengar itu, mendadak sesak mengganjal di hati Adam. Bahkan lidahnya sampai kelu, tak tahu harus menanggapi apa.
"Awalnya aku hanya berani dipinggiran hutan, tapi setiap kesini aku mencoba menambah beberapa langkah untuk masuk ke dalam hutan. Aku butuh waktu 5 tahun untuk menghapal seluruh hutan ini," timpal Haura lagi dengan terkekeh.
Namun kekehannya surut seketika, ketika terasa salah satu tangannya digenggam oleh Adam.
"Aku tahu, kamu tidak ingin mendengar kata Maaf. Karena Maaf itu tidak akan bisa merubah masa lalu," ucap Adam, ia menggenggam tangan Haura erat, menahannya meski Haura mencoba melepaskan diri.
"Tapi izinkan aku untuk memperbaiki semuanya Haura, beri aku kesempatan, untuk menunjukkan ketulusanku padamu juga, bukan hanya pada Azzam dan Azzura," jelas Adam lagi. Seketika perlawanan Haura melemah, ia membiarkan saat Adam menggenggem erat salah satu tangannya.
Hingga rasa hangat itu menjalar masuk sampai ke relung hati.
Hening, Haura tak menjawab apapun.
Namun saat Adam merasa Haura tak kembali melawan, ia menghembuskan napasnya lega. Meyakini, jika diamnya Haura adalah jawaban Iya dari ucapannya tadi.
Akhirnya mereka hanya terdiam, dengan kedua tangan yang saling berpaut. Menyelami hatinya masing-masing yang terasa lebih hangat dan nyaman.
Hingga beberapa jam kemudian, ada suara ramai yang memanggil-manggil nama Haura.
Haura yakin betul, jika itu adalah warga desa.
Dan mendengar itu Haura langsung bangkit, hendak melepaskan tangan Adam, namun dengan cepat pula Adam menahannya.
"Jangan lepaskan tanganku," pinta Adam, seperti terhipnotis, Haura hanya terdiam. Hingga Adam pun ikut bangkit, dan mereka berdua keluar dari dalam Goa itu dengan tangan yang saling menggenggam.
"Amang!" teriak Haura, menyauti suara yang terus memanggilnya.
"Amang!" teriak Haura lagi, hingga terlihatlah olehnya beberapa obor berjalan mendekati mereka.
Haura tersenyum, merasa lega.
Sekitar jam setengah dua belas malam, mereka ditemukan.
Para warga dan tim SAR datang menjemput, bahkan Luna pun ada di sana. Ia tersenyum kecil, saat melihat sang Tuan menggenggam erat tangan Haura.
Setelah pertemuan itu, mereka segera kembali ke desa. Haura, Adam dan Luna diantarkan ke rumah kepala desa, rumah pak Ammar dan ibu Ririn.
Malam itu juga, kaki Adam yang terkilir langsung mendapatkan penanganan, oleh dukun urut di desa ini. Dan seperti sebuah keajaiban, kakinya langsung sembuh. Tak terasa nyeri lagi.
Sementara itu, Haura dan Luna sudah berada disalah satu kamar, kamar yang akan menjadi tempat istirahat mereka malam ini.
Luna mengambil bantal, hendak tidur di karpet tebal kamar itu.
"Kenapa tidur di sana? kita tidur bersama disini," ucap Haura yang mendadak merasa tak enak hati.
"Tidak Nyonya, saya akan tidur disini," jawab Luna seraya menundukkan kepalanya, hormat.
"Aku bukan Nyonya."
"Tapi Anda adalah ibu dari kedua anak tuan saya," jawab Luna lagi yang masih setia menunduk.
"Kalau begitu, tidurlah disini, ini adalah perintah pertamaku sebagai nyonyamu," balas Haura dingin.
Mendengar itu, entah kenapa Luna merasa seperti mendengar nada bicara sang Tuan, yang terdengar dingin, namun penuh perhatian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
☘☘☘Bonus Up hari minggu ☘☘☘
Happy Reading 😘