My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 146 - Dokter Kandungan Pribadi



Setelah makan siang bersama di kantor Adam, kini Adam dan Haura memutuskan untuk pulang ke rumah.


Tadi, saat mereka berdua pergi, Luna datang ke rumah itu dan mempersiapkan semua peralatan pemeriksaan kandungan beserta dokter kandungannya sekaligus.


Dan saat semuanya beres, Luna segera bergegas pergi. Apalagi saat Kris sudah memberinya kabar jika ia dan sang tuan dalam perjalanan pulang.


“Setelah diperiksa dokter kandungan, kita tidur ya?” ucap Adam.


Haura menoleh dan menganggukkan kepalanya. Ia hendak kembali menatap jalanan, namun urung kala ia mengingat sesuatu, tentang siapakah dokter kandungan itu, seorang pria atau wanita.


Sungguh, Haura tak akan merasa nyaman jika dokter kandungannya seorang pria. Tapi jika dokter itu wanita lalu bagaimana nasib suaminya.


“Mas,” panggil Haura, yang ingin memastikan sesuatu. Adam yang sedari tadi terus memperhatikan istrinya pun hanya menjawab dengan sebuah deheman.


“Hem?” jawab Adam singkat, bertanya.


“Dokternya ibu-ibu apa bapak-bapak?” tanya Haura langsung, tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka.


“Tidak keduanya,” jawab Adam singkat, dengan bibirnya yang terlihat mengukir senyum tipis.


Membuat Haura mengerutkan dahinya, bingung bercampur curiga sekaligus.


“Maksud Mas?”


“Lihat saja nanti.”


“Aku tidak mau kalau dokter kandungannya seorang pria, aku tidak nyaman.”


“Aku juga tidak mungkin membiarkan pria lain menyentuh-nyentuh istriku,” balas Adam cepat, hingga membuat Haura menatapnya lekat.


“Jadi dokternya wanita?”


Adam, mengangguk.


“ibu-ibu?”


“Bukan, dia masih muda, mungkin se usiamu.”


“Siapa?”


“Bidan Sanja.”


Saat itu juga, kedua netra Haura langsung membola. Rasanya tak habis-habis suaminya ini memberikannya kejutan.


Tak sampai di sana, saat mulut istrinya ini masih menganga. Adam terus menjelaskan maksudnya memanggil Sanja untuk datang kesini.


Adam, meminta Sanja untuk menjadi dokter kandungan pribadi Haura. Tinggal pula di rumah mereka agar selalu bisa mengawasi dan merawat Haura dengan baik.


Adam hanya meminta satu hal pada Sanja, meminta bidan desa itu untuk selalu menggunakan masker ketika bertemu dengannya.


Sanja setuju, lagipula Adam berjanji akan menggantikan posisinya di desa parupay dengan dokter yang lain.


Pagi tadi, Luna menjemput Sanja.


Dan siang ini, Sanja sudah berada di rumah Adam.


“Sayang?” panggil Adam sekali lagi hingga membuat Haura tersadar.


“Ya Allah Mas, kamu tidak bohong? Jadi bidan Sanja sekarang ada di rumah?” tanya Haura. Dan Adam menganggukkan kepalanya, seraya mengelus pucuk kepala istrinya itu dengan sayang.


Dulu, saat Haura hamil Azzam dan Azura, Adam tak bisa berbuat apa-apa. Kini, ia akan menebus itu semua dan memberikan apapun yang bisa membuat istrinya merasa bahagia.


“Terima kasih Mas,” ucap Haura, lirih. Ia bahkan langsung memeluk tubuh suaminya itu erat-erat.


Sanja, bagi Haura bukanlah orang biasa. Sanja, sudah seperti malaikat penolong baginya. Saat melahirkan Azzam dan Azzura, Sanja tak menerima bayaran sedikitpun. Sanja tahu, bagaimana susahnya hidup Haura saat itu.


Dan saat Azzam ataupun Azzura sakit, Sanja lah yang dengan suka rela mengobati kedua anaknya. Tak mau di bayar dengan uang, Haura selalu membagi apapun yang ia punya pada bidan itu.


Jika ia mendapatkan upah cabe dan sayur-sayuran dari hasil buruh taninya, ia akan memberi sebagian untuk Sanja.


Jika Haura dari hutan dan membawa beberapa buah dan Jamur, Haura juga akan membaginya pada Sanja.


Sejak dulu, mereka sudah saling mengerti.


Dan kini, mereka akan kembali bersama-sama.


Haura, sampai tak bisa berkata-kata untuk menunjukkan kebahagiannya itu.


Cukup lama di dalam perjalanan, akhirnya Adam dan Haura sampai di rumah. Kris lalu memimpin jalan, menuju sebuah ruangan di umah itu yang sudah disulap menjadi ruang rawat seperti di rumah sakit. Ruangan yang akan menjadi tempat kerja Sanja di rumah ini.


Kembali bertemu di sana, Haura dan Sanja saling memeluk erat.


Dan siang itu, setelah melepas rindu, Haura segera memeriksakan kandungannya.


Adam duduk di kursinya sendiri, lalu tiba-tiba bangkit saat mendengar suara detak jantung dari dalam perut Haura.


Adam tercengang, tak percaya.


“Ini adalah  suara detak jantung bayi anda dan nyonya Haura Tuan,” ucap Sanja. Ia sudah mengatakan kepada Haura, jika disini ia akan bersikap profesional, untuk bekerja. Karena itulah, disini ia akan memanggil Haura dengan sebutan Nyonya.


Dan Haura tak ingin mendebatkan itu. Haura, sangat menghargai prinsip Sanja.


“Masya Allah,” gumam Adam dengan matanya yang berkaca-kaca. Sesuatu yang begitu menakjubkan baginya. Suara kehidupan yang terdengar dari dalam perut sang istri.


Tak sampai lama, setelah pemeriksaan itu selesai. Adam dan Haura pamit untuk naik ke lantai 2.


Sanja mengantar keduanya hingga sampai didepan pintu.


Melihat sang tuan yang mulai jauh, Sanja pun lalu melepaskan maskernya, dan memberi sapaan hormat pada Kris yang nampak tergugu di sana.


“Permisi Tuan,” ucap Sanja, ia tersenyum kikuk kala melihat Kris yang nampak bengong.


Lalu dengan canggung pula, Sanja kembali masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu itu.


Meninggalkan Kris yang terpaku.


“Masya Allah manisnya,” ucap Kris, bergumam.