
Tepat jam 3 sore, Aida beserta yang lainnya sudah sampai di rumah Haura. Labih dan Nanjan hanya membawa oleh-oleh dari kedua orang tuanya, yang dimasukkan di dalam tas ransel.
Aida, melarang Labih dan Nanjan untuk membawa banyak-banyak baju, bukan apa-apa. Aida hanya ingin kelak ia yang akan menyiapkan semua kebutuhan Labih dan Nanjan di Jakarta.
Awalnya kedua orang tua Labih dan Nanjan merasa tak enak hati, namun Aida kukuh memaksakan niatnya itu hingga akhirnya mereka semua tidak bisa menolak.
setelah menekan bell rumah, tak lama kemudian pintu itu terbuka. Yang membukanya adalah Azzam dan Azzura, kedua bocah ini sudah yakin jika yang datang adalah sang tante, paman, juga beserta kedua abangnya.
Seperti biasa, saat bertemu dengan Azzura, Labih akan langsung berjongkok dan menggedong gadis kecil ini. Azzura pun sudah terbiasa melakukan itu pula.
Semuanya masuk ke dalam rumah, dengan Aida yang berjalan antusias untuk menemui sang kakak ipar.
Siang menjelang sore kala itu, Aida terus bercerita tentang pengalamanya selama di desa Parupay. Bahkan Aida mengatakan jika kelak ia ingin kembali lagi kesana.
“Kata Labih mbak Haura sering masuk hutan? Apa iya mbak? Labih tidak bohong?” tanya Aida bertubi, setelah ia selesai bercerita panjang kali lebar.
Dengan malu-malu, Haura pun menganggukkan kepalanya, menjawab IYA. Ia merasa malu jika Aida nanti malah akan menertawakannya.
Namun diluar dugaan Haura, bukannya tertawa, Aida malah terkejut dengan antusias.
‘Ha! Serius, ayo dong mbak kita ke desa parupay lagi, terus ajak aku masuk ke hutan,” pinta Aida, memohon, memelas dan sangat antusias.
Mendengar itu, Adam langsung mendelik, ia melotot menatap sang adik.
“Jangan macam-macam, Haura hanya boleh masuk hutan bersamaku, kamu jangan ikut-ikut,” ucap Adam, tidak terima.
Aida ini selalu aja rusuh, kesal Adam.
Mendengar penolakan sang kakak, Aida pun langsung murung. Melirik sang suami ingin meminta pembelaan, namun Yuda hanya mengedikkan bahunya.
Dan aida, akhirnya hanya mampu menghembuskan napasnya berat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, saat ini Azzam dan Azzura sedang mengantarkan Labih dan Nanjan menuju kamar mereka masing-masing.
Karena sisa-sisa tubuhnya masih ada, ucap Azzura. Hingga membuat semua orang menahan tawa.
Selain itu Azzura juga mengatakan jika kamar abang Labih dan abang Nanjan terhubung dengan satu pintu ajaib.
“Jadi abang Labih dan abang Nanjan jangan takut ya?”
Mendengar petuah Azzura itu, tak hanya Labih yang mengulum senyum, namun Nanjan dan Azzam pun melakukan hal yang sama.
“Zura, abang Labih dan abang Nanjan itu sudah dewasa, mereka sudah tidak penakut seperti dirimu,” ucap Azzam, sekaligus meledek sang adik.
Yang diledek tidak peduli, masih setia menempel-nempel pada abang Labih yang duduk di sisi ranjang.
Ranjang baru yang baru saja pagi tadi diubah.
“Nanti saat akhir pekan minggu depan, kita semua berkunjung ke rumah nenek Zahra ya, disana banyak mainanya.” Ucap Azzura lagi.
Dan semua orang hanya menganggukkan kepalanya, agar si gadis kecil ini merasa bahagia.
Tak sampai lama, setelah memastikan Labih dan Nanjan terbiasa di rumah ini, Adam dan Yuda pamit untuk pulang.
Sebelum berpisah pun Haura memeluk Labih dan Nanjan secara bergantian, 2 remaja yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Abang dari kedua anaknya.
“Kita akan sering bertemu,” ucap Haura, Labih dan Nanjan pun menganggukkan kepalanya.
“Iya Acil,” jawab Labih dan Nanjan kompak.
Sementara Adam, mengelus pucuk kepala Labih dan Nanjan secara bergantian sebagai salam pamitnya.
Dan Azzura, seperti orang yang sedang dipisahkan secara paksa dengan abang-abangnya, ia bahkan terus menatap jendela belakang mobil saat mobil sang ayah mulai menjauh.
Melihat kearah Labih dan Nanjan, hingga benar-benar tak terlihat di pelupuk matanya.