My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 56 - Sang Penyembuh Luka



Siang menjelang sore hari itu, Shakir mendatangi rumah Haura. Ia hendak pamit, untuk kembali lagi ke negeri Jiran, Malaysia.


Sejak semalam hingga kini, ia dan Haura tak bertukar kabar sedikitpun. Seolah jarak itu, mulai terbentuk secara perlahan.


Dan saat ini, Shakir sudah berdiri tepat didepan pintu rumah Haura, bahkan sudah menekan bell rumah itu beberapa detik yang lalu.


Pintu dibuka, dan nampaklah malaikat kecil yang menyambutnya dengan senyum ceria, Azzura membukakan pintu untuknya.


"Amang!" pekik Azzura, lalu memeluk Amang Shakir dengan sayang.


Dan Shakir pun, membalas tak kalah erat pelukan itu.


"Ibu masuk rumah sakit Amang, ibu ditemani ayah," ucap Azzura langsung, bahkan sebelum Shakir bertanya.


Dan mendengar itu, kedua netra Shakir langsung membola, "Rumah sakit?" tanyanya membeo dan Azzura langsung mengangguk, mengiyakan.


Pikiran Shakir langsung menjalar kemana-mana, ia berpikir jika Haura pasti terluka karena peristiwa semalam.


Sama seperti Luna yang mendapatkan Luka diwajahnya, Haura juga pasti mendapatkan Luka itu. Dan lebih parah sampai ia harus dibawa ke rumah sakit.


Dalam hatinya Shakir terus membodohi diri sendiri, kenapa ia tidak segera menghubungi Haura semalam, kenapa ia malah memilih untuk diam hingga hari berganti.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Shakir langsung menemui om Jodi dan menanyakan di rumah sakit mana Haura dirawat, karena saat itu sedang ada Azzura, Jodi pun tak bisa menjelaskan semuanya kepada Shakir.


Jodi, akhirnya hanya memberi tahu alamat rumah sakit itu, tapi memberi tahu Shakir, alasan kenapa Haura sampai harus dirawat.


Dan secepat yang Shakir bisa, ia menuju rumah sakit dimana Haura berada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Luna, berdiri tegak dihadapan Adam yang sedang duduk disisi ranjang Haura, memegang lembut tangan wanitanya yang sedang terlelap.


"Jadi ini semua ulah Monica?" tanya Adam dengan suaranya yang khas, begitu dingin dan menusuk. Apalagi jika membicarakan tentang Monica, Adam bisa jadi sangat mengerikan.


"Iya Tuan," jawab Luna singkat, ia menurunkan pandangannya, tak berani menatap Adam.


Tak hanya melapor tentang kecelakaan Haura siang ini, namun Luna juga melapor tentang peristiwa kembang api semalam di perjamuan makan malam Edgar.


Luna, hanya melapor jika Monica berniat membuat Trauma Haura kembali, lalu meninggalkan Adam. Luna tak bercerita sedikitpun, tentang ia yang hendak dicelekai pula.


"Dia sudah terlalu jauh melangkah," ucap Adam kemudian, Adam pun tak menyangka, jika Monica, wanita yang selama ini menjadi istrinya ternyata begitu jahat. Cinta yang selalu Monica ucapkan, ternyata hanyalah sebuah obsesi tanpa ujung.


"Kumpulkan semua bukti, setelah aku resmi bercerai dengannya, barulah kita urus dia," timpal Adam lagi setelah cukup lama terdiam, memikirkan bagaimana baiknya. Tentang Monica dan juga keselamatan Haura dan kedua anaknya.


"Baik Tuan."


"Pergilah."


Mendengar perintah itu, Luna segera keluar dari ruangan rawat Haura. Ia tak benar-benar pergi, masih berjaga di depan pintu ruangan itu.


Menunggu, beberapa anak buahnya untuk datang kesini.


Selepas kepergian Luna, Adam melihat kearah Haura, yang ternyata sudah membuka mata.


Melihat itu, seketika Adam tersentak, merasa terkejut.


"Apa kamu mendengar semuanya?" tanya Adam cemas. Sumpah demi apapun, ia tak ingin membawa Haura terlibat dalam masalah pribadinya, terlebih yang ada hubungannya dengan Monica.


Dan Adam, hanya mampu menghembuskan napasnya pelan.


"Kamu wanita yang nakal, pura-pura tidur dan menguping pembicaraan orang," sindir Adam, dan mendengar itu, Haura malah terkekeh.


Haura lalu bangkit dari tidurnya dan duduk sejajar dengan Adam.


Menatap Adam tanpa sepatah katapun, namun Adam langsung menjelaskan semuanya. Tentang semalam dan siang ini, bahwa itu semua adalah ulah Monica.


"Kenapa dia melakukan itu? apa dia membenciku? bukankah seharusnya aku yang membenci dia?" tanya Haura bertubi, setelah Adam selesai bercerita.


Dan Adam tidak tahu, harus menjawab apa.


"Aku akan menghukumnya seberat mungkin." Hanya itulah yang bisa Adam ucapkan, setelah cukup lama memberi jeda.


Tapi lagi-lagi, jawaban Haura tak seperti yang diinginkan oleh Adam. Haura malah menggeleng, tidak menyetujui ide Adam itu.


"Kenapa?" tanya Adam lagi.


"Karena semakin mas Adam membalasnya, dia tidak akan pernah bisa berhenti."


"Tapi dia sudah membuatmu terluka, Haura."


"Dan Mas Adam sudah menyembuhkan aku."


Hening, tak ada lagi kata yang terucap, keduanya hanya saling tatap dengan tatapan yang begitu dalam. Adam ingin sekali merengkuh wanita ini dan didekapnya erat. Namun sekuat tenaga ia tahan.


Adam hanya bisa tersenyum, mengikuti gerak bibir yang diukir oleh Haura.


Dan melihat pemandangan itu, Shakir tergugu diambang pintu kamar rawat Haura. Hatinya terasa sesak, solah diremat dengan paksa.


Senyum tulus Haura, ternyata bukan untuk dia, ternyata senyum itu hanya ditunjukkan untuk Adam. Pria yang sudah membuatnya terluka, juga pria dari kedua anaknya.


Perlahan, Shakir kembali menutup pintu itu. Tidak jadi masuk.


Lalu berdiri di sana, dengan raut wajah kecewa dan tatapan kosong.


"Kenapa tidak jadi masuk?" tanya Luna, membuyarkan semua lamunan Shakir.


Sebenarnya tanpa Shakir jawab pun, Luna sudah tahu apa jawabannya. Pasti tentang kedekatan Adam dan Haura yang membuat hati Shakir sesak.


Menyadari itu, entah kenapa Luna merasa lucu sendiri. Seolah Shakir adalah seorang remaja yang baru mengenal cinta dan sakit hati, padahal Shakir adalah pria berumur.


Diam-diam, Luna menahan senyumnya.


Namun naas, senyum kecil Luna itu masih mampu ditangkap oleh kedua mata Shakir. Sedari semalam, Luna selalu menertawakannya.


"Kamu menertawakan aku?" tanya Shakir tidak terima.


"Tidak," bela Luna cepat, namun susah payah ia mengulum senyum.


"Bohong, kamu menertawakan aku kan?" tanya Shakir lagi, lebih menuntut.


"Tidak," balas Luna seraya memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya agar tidak ketahuan Shakir.