
Darius, sudah menunggu kedatangan Luna didepan pintu rumahnya. Shakir pun bisa melihat dengan jelas, pria itu berdiri di sana.
"Apa dia itu kekasihmu?" tanya Shakir pada Luna, sesaat setelah mereka memasuki halaman rumah Luna. Sedari tadi, pria bernama Darius itu selalu saja berada disekitar Luna.
"Bukan," jawab Luna singkat.
"Apa aku perlu mengusirnya pergi?" tanya Shakir lagi saat mobilnya sudah berhenti tepat dibelakang mobil Darius.
"Tidak, Disini aku sudah aman," jelas Luna apa adanya.
Kamera CCTV sudah terpasang di setiap sudut rumah Luna, bahkan ada pula penjaga keamanan di pos dekat gerbang rumahnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, akhirnya Luna turun dari dalam mobil Shakir. Dan Shakir pun langsung bergegas pergi dari sana.
Darius, langsung menatap kearah kedatangan Luna itu. Berdiri tegak, didepan pintu rumah Luna.
Sesampainya dihadapan Darius, Luna menatap tajam pada pria bejat ini.
"Bukan aku yang melakukannya, tapi Monica," jelas Darius langsung, ia tak ingin Luna semakin membencinya, dan Monica adalah umpan yang ia bisa ia gunakan.
"Kamu dan Monica sama saja, kalian selalu bersama untuk mengusik tuanku," balas Luna sengit.
Saat Darius hendak menyentuh lengannya, Luna segera menepis dengan kuat. Hingga Darius berdesis merasa sakit.
"Monica yang membuat keributan itu, dia ingin Haura kembali trauma dan menjauhi Adam. Dan dia juga ingin menyerahkanmu padaku setelah membuatmu tidak sadar. Semuanya Monica yang lakukan. Aku tidak peduli dengan Haura, tapi saat tahu Monica benar-benar membiusmu, aku segera menggagalkan itu_"
"Cih!" Luna berdecih sangat kuat, hingga Darius pun menghentikan ucapannya.
"Berhenti bermain-main denganku, kamu ataupun Monica, kalian akan mendapatkan balasan yang sama," jawab Luna, ia lalu menabrak bahu Darius kuat, dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Menutup pintu itu dengan begitu keras.
Sementara Darius, ia mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Luna, Luna, suatu saat aku pasti akan mendapatkan mu, akan ku buat kamu berlutut dihadapanku," geram Darius, ia begitu benci, hanya Lunalah wanita yang berani memperlakukannya seperti ini.
Sampai didalam rumahnya.
Luna, langsung mengambil ponsel dan menghubungi Monica.
Tak sampai lama, panggilannya itu terjawab. Tawa Monica adalah hal yang pertama kali didengar oleh Luna.
"Bagaimana malam ini, apa berjalan sangat indah?" tanya Monica diantara tawanya. Monica tidak tahu, jika semua rencananya sudah gagal.
Setahu Monica, Haura sudah pergi bersama Shakir dan meninggalkan Adam seorang diri. Setahu Monica, Luna pun sudah berada di atas ranjang Darius.
"Tertawalah, karena setelah ini, kamu akan menangis darah," jawab Luna sarkas, bahkan tawa Monica langsung menghilang.
"Apa maksudmu!" bentak Monica, emosinya yang sudah tidak stabil, membuatnya mudah sekali terpancing amarah.
Luna terkekeh, "Harusnya, saksikan dulu sampai benar-benar akhir, agar kamu tahu bahwa semua rencanamu itu sudah gagal," balas Luna.
"Darius sudah menceritakan semuanya padaku, bahwa ini semua adalah rencanamu. Siap-siaplah, tuan Adam pasti akan marah besar." Kini Luna yang tertawa, dan sebelum tawanya itu mereda ia langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Dan Monica, langsung membanting ponselnya kuat.
"Aa!" teriak Monica frustasi, Luna selalu saja bisa membuat ia hilang kendali seperti itu.
"Darius Kurang Ajar!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Azzam dan Azzura sudah kembali bersekolah seperti biasa. Hari senin, selalu nampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya.
Pagi ini, Adam bahkan datang lebih awal ke rumah Haura untuk menjemput kedua anaknya itu. Namun tetap menunggu didalam mobilnya, tidak masuk.
Menunggu, hingga pintu rumah itu terbuka, dan nampaklah tiga orang yang begitu ia sayangi mulai keluar.
Adam turun dari dalam mobil.
Azzam dan Azzura langsung berlari kearahnya.
"Ayah!" teriak Azzam dan Azzura kompak.
Adam berjongkok, menyambut kedua anaknya, hingga membuat ia nyaris terjungkal.
"Ku kira ayah tidak datang," ucap Azzura, sedikit mengeluh.
"Kenapa? ayah kan sudah bilang, akan selalu menjemput dan mengantar kalian saat sekolah," jawab Adam dengan nada tidak terima, pura-pura marah dituduh seperti itu.
"Karena tadi subuh, ayah tidak mengangkat telepon kami," kini Azzam yang buka suara.
"Oh, maaf ya, subuh tadi ayah sedang sibuk," jujur Adam.
Subuh tadi, ia memerintahkan Luna untuk menyelidiki peristiwa semalam. Adam juga mengatakan, jika ia mencurigai Darius. Namun Luna mengatakan, jika bukan Dariuslah pelakunya. Peristiwa semalam, terjadi bukan karena kesengajaan.
Adam pun mempercayai jawaban Luna itu, lalu tidak memperpanjang urusan. Lagipula, hubungannya dengan Haura jadi semakin membaik setelah malam itu.
Luna sengaja, tidak membawa-bawa nama Monica. Luna tidak ingin, menghancurkan kebahagiaan sang Tuan saat ini. Luna, memiliki caranya sendiri untuk membalas wanita itu.
"Sudah sudah, yang penting kan sekarang ayah sudah jemput, sana berangkat," titah Haura, saat melihat kedua bibir anaknya cemberut.
"Kamu tidak ikut?" tanya Adam dan Haura menggeleng, seraya mengulas sedikit senyum. Awalnya, memang Haura yang ingin mengantar, namun tahu Adam kesini, ia mengurungkan niat. Untuk apa mengantar berdua-dua, pikirnya.
Adam lalu membuka pintu, dan meminta kedua anaknya untuk masuk lebih dulu. Sementara ia masih tinggal, menatap wajah Haura yang tidak pernah membuatnya bosan.
"Aku pergi," pamit Adam dan lagi-lagi Haura menganggukkan kepalanya, patuh.
Tangan Adam bergerak sendiri, terulur untuk mengelus pucuk kepala Haura dengan sayang. Dan Haura pun tidak menolak itu, ia justru tersenyum, membalas senyum yang Adam berikan padanya.
Ada geleyar aneh di hati keduanya, mereka sama-sama sadar, jika rasa itu adalah cinta yang mulai tumbuh.
"Pergilah," ucap Haura mengingatkan.
Dan Adam terkekeh, lalu menarik tangannya untuk menjauh dari Haura dan segera masuk ke dalam mobil.
Lalu pergi, dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Azzura : Abang lepas! Aku mau lihat ibu dan ayah!
Azzam tidak peduli, terus menutup kedua mata sang adik menggunakan kedua tangannya.
🤣🤣🤣
Like, Komen, Hadiah, Vote, jangan lupa 🙈