
1 bulan berlalu.
Penulis Anna sudah beberapa minggu ini selalu datang ke rumah Haura untuk mulai menulis.
Luna dan Edgar hanya bisa berkencan saat malam hari, karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Setelah bertemu dengan kedua orang tua Edgar, Luna jadi calon menantu kesayangan di keluarga Suryo.
Bukan tanpa sebab, karena selama ini mereka pikir Edgar tidak tertarik pada wanita. Karena anaknya itu selalu terlihat menghindar dari banyaknya wanita.
Saat melihat Edgar membawa Luna, kedua orang tuanya begitu bersyukur. Bahkan berterima kasih kepada Luna karena sudah membuat anaknya jatuh cinta.
Saat itu Luna hanya mampu tersenyum kikuk, ia pun masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat Edgar bisa mencintai dirinya.
Keadaan Shakir pun kini sudah membaik, bahkan ia sudah tak canggung ketika bertemu dengan Adam dan Haura.
Luka di kaki dan Luka di hatinya seolah sembuh bersamaan.
Penerimaan hatinya atas takdir, membuat ia lebih mudah untuk mengobati rasa sakit hati itu.
Dan pagi ini.
Adam beserta keluarganya akan berkunjung ke rumah nenek Zahra.
Mereka sudah siap, hanya tinggal pergi.
"Mas yakin baik-baik saja?" tanya Haura pada suaminya itu.
Dilihatnya, wajah Adam yang nampak pucat.
"Ayah sepertinya sakit Bu, lebih baik kita tidak usah pergi ke rumah nenek. Lebih baik kita ke rumah sakit." Azzam menimpali.
Haura, Azzura dan Aminah pun menganggukkan kepalanya, setuju.
"Sayang, ayah baik-baik saja Nak, mungkin hanya sedikit kelelahan Nanti ayah bisa beristirahat di rumah nenek," jawab Adam, seraya mengelus pucuk kepala sang anak, mendengar itu, Azzam tak bisa berkeras kepala lagi.
Sementara Haura, masih menatap nanar pada suaminya itu, sungguh ia tak tega melihat Adam sakit.
Diantara mereka, memang Adam lah yang paling kukuh ingin pergi. Seolah ini adalah kepingannya yang harus terkabulkan.
Akhirnya mau tidak mau, rela tidak rela. Haura tetap menuruti keinginannya.
Adam dan Haura bersama Kris.
Sementara Aminah dan kedua cucunya bersama Luna.
Saat mobil mulai melaju, Haura kembali memeriksa keadaan sang suami. Disentuhnya dahi Adam dengan perlahan. Lalu menyentuh dahinya sendiri sebagai perbandingan.
Dan ternyata, hasilnya sama saja. Suaminya tidaklah demam. Tapi entah kenapa, Adam nampak begitu pucat.
"Apa ada yang sakit?"
"Tidak ada sayang, percayalah, aku juga tidak tahu kenapa badanku jadi seperti ini. Aku merasa baik-baik saja, tapi tubuhku seolah bicara lain," jawab Adam, ia menarik pinggang sang istri lalu memeluknya erat. Ia bahkan menyembunyikan wajahnya, di ceruk leher suaminya itu.
Mendadak manja.
Haura tak menghindar, ia justru mengelus kepala hingga punggung suaminya dengan sayang.
"Bolehkah aku memelukmu seperti ini terus sampai kita tiba di rumah ibu?" tanya Adam, lalu menciumi aroma tubuh istrinya itu.
Menghirupnya dalam, hingga hatinya terasa begitu tenang.
"Tumben izin, biasanya Mas melakukan apapun tanpa bertanya padaku," jawab Haura, hingga membuat suaminya mendongak.
Hingga tatapan keduanya bertemu. Haura terkekeh pelan, kala melihat wajah cemberut sang suami.
Lalu tanpa aba-aba, Haura mengecup sekilas bibir suaminya itu. Dan kembali mengambil jarak agar mereka bisa saling menatap.
"Lagi," pinta Adam, manja.
Kali ini Haura tak menuruti, tapi mencubit perut suaminya pelan.
"Aduh! sakit!"
"Bohong!" balas Haura, cepat.
Adam terkekeh, lalu kembali merengkuh tubuh istrinya erat.
Sabar Kris. Batin Kris didepan sana.