My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 171 - Saat Kita Dewasa Nanti



Menjelang Ashar, keluarga Yuda dan juga keluarga Arga pamit untuk pulang.


Tapi langkah kaki mereka masih tertahan di teras rumah saat Arabella tiba-tiba merengek ingin tinggal.


Juga Azura yang tidak mengizinkan sepupunya itu pulang. Mereka masih ingin bersama dan bermain. Apalagi, besok adalah hari minggu.


"Mbak Sarah, izinkan saja Arra menginap disini, besok sore kami antar pulang," ucap Haura, berusaha menengahi, sebelum Zura dan Arra sama-sama menangis.


Haura tidak bisa membayangkan, bagaimana bisingnya itu. Dan dia pasti tidak akan tega.


Sarah tidak langsung menjawab, ia melirik dulu pada suaminya, Agra. Sarah merasa tidak enak hati, takut Arabella malah akan merepotkan. Namun kecemasan itu langsung hilang saat dilihatnya sang suami mengangguk kecil, tanda mengizinkan.


Dan akhirnya pun Sarah tersenyum, seraya menjawab pertanyaan Haura tadi.


"Baiklah," jawab Sarah singkat.


Membuat Haura tersenyum dan Azura serta Arrabella bersorak senang. Bahkan sampai melompat kegirangan.


Merasa bahagia, karena waktu bermain bersamanya akan jadi lebih banyak.


"Arra, jangan nakal ya sayang dan besok sore pulang, tidak boleh menolak lagi." Sarah membelai lembut kepala Arrabela dan mengatakan itu.


Membuat Arabella mencebik.


"Aku kan tidak nakal Ma," jawab Arabella dengan bibirnya yang mengerucut, membuat para orang dewasa terkekeh sekaligus gemas.


Sementara Azam, hanya mengulum senyumnya.


"Ayo masuk," ajak Azam, pada Azura dan Arabella.


Melihat ketiga anak kecil itu berlari riang kembali masuk ke dalam rumah, barulah para orang tua bisa bernapas lega. Dan kembali pamit untuk pulang.


Haura dan Adam tetap berdiri di sana, sampai mobil kedua saudaranya benar-benar hilang.


Setelah tidak nampak, Adam menoleh pada sang istri yang sedang menggendong baby Agatha, dilihatnya sang anak yang terlelap.


"Sayang, bagaimana ini? sekarang kan waktunya Agatha mandi, tapi dia malah tidur," ucap Adam sekaligus bertanya.


Dan Haura pun sontak menunduk, melihat anaknya yang sudah tertidur pulas. Seolah lelah habis bermain dengan teman bayi-bayinya, baby Alesha dan juga baby Alghazali.


Haura tersenyum, ia senang sekali melihat wajah tenang Agatha yang sedang terlelap seperti ini.


"Biarkan saja Mas, nanti kalau sudah bangun, kita basuh tubuhnya menggunakan air hangat."


Adam, mengangguk dan keduanya pun masuk ke dalam rumah. Di lantai 1 itu sudah tidak ada lagi anak-anak.


Kata salah satu pelayan, anak-anak sudah kembali ke kamar. Mandi dan kelak melaksanakan shalat ashar. Baru setelah itu mereka akan bermain lagi.


Puas mendengar jawaban itu, Adam dan Haura juga naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamar mereka.


Sama, ingin mandi dan membersihkan tubuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamar Azura.


Kedua gadis kecil ini baru saja selesai mandi, lalu dibantu oleh pelayan mereka untuk menggunakan baju.


"Biar aku yang sisir rambut Azura, Bik," pinta Arabella dan diangguki oleh sang baby sister.


"Nanti aku juga akan menyisir rambutmu," ucap Azura pula, seraya memposisikan dirinya untuk duduk di kursi yang lebih kecil, agar Arabella bisa menjangkau kepalanya.


"Baiklah, lihat caraku menyisir, seperti ini yaa," balas Arabella, ia mulai menggerakkan sisir itu dengan lembut di atas kepala sang sepupu, membuat Azura sampai kegelian.


Azura bahkan terkekeh, geli.


"Ara, yang agak kuat, kalau pelan-pelan seperti itu aku geli," jujur Zura. Membuat kedua gadis kecil ini akhirnya terkekeh bersama.


"Kalau sakit aku akan teriak, lagipula kata acil Sanja, menyisir rambut juga untuk pijatan di kepala," jelas Zura pula, seraya mengingat-ingat ucapan acil Sanja saat dulu menyisir rambutnya.


"Benarkah? oke, aku akan menyisir lebih kuat," balas Arabella pula, tapi tetap saja bagi Azura itu masih terlalu pelan, dan malah membuat kepalanya geli.


"Sini duduklah, biar aku yang menyisir rambutmu," pinta Azura akhirnya, bahkan tanpa menunggu jawaban sang sepupu Azura langsung bangkit dan mendudukkan Arabella di kursi itu, mengambil sisirnya dan mulai menyisir rambut Arabella.


"Wah, kamu menyisir rambutku tapi aku merasa dipijat, enak!" antusias Arabella dan azura langsung tersenyum dengan bangga.


"Ini bisa melancarkan aliran darah tahu!" balas Azura pula, sok tahu.


Arabella terkekeh dan mulai memanggil Azura dengan sebutan di tukang pijat.


Azura tidak terima dan menggelitik sepupunya itu. Dan dalam sekejap saja kamar kedua gadis ini jadi gaduh. Penuh dengan tawa riang dan suara lari-larian.


Suara itu langsung hilang saat pintu kamar mereka terbuka.


Azam, berdiri diambang pintu sana. Lalu masuk dan menemui keduanya.


"Kalian pasti belum shalat kan? malah lari-larian, sana shalat!" titah si Abang, membuat Azura dan Arabella mengulum senyum, lalu saling memeluk lengan satu sama lain kemudian menyingkir.


Tanpa protes, keduanya melaksanakan shalat Ashar.


Selesai, Azam pun menghampiri keduanya yang masih asik bersimpuh di atas sajadah.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Azam, ia duduk diantara keduanya.


"Tidak membicarakan apa-apa, hanya sedang menghayal saat kita dewasa nanti, seperti abang Labih dan abang Nanjan." Azura yang menjawab.


Semenjak kuliah, Labih dan Nanjan jadi lebih sibuk. Dan jujur saja, Azura merasa kehilangan. Apalagi kini, dua abang kesayangannya itu sudah punya teman-temannya sendiri yang sebaya dengan mereka.


"Memangnya kenapa kalau kita dewasa nanti?" tanya Azam lagi.


"Jangan-jangan kita punya teman sendiri-sendiri dan tidak main sama-sama lagi." Kini, Arabella yang menjawab.


"Itu tidak akan merubah apapun, yang penting kan kita tetap saudara," balas Azam. Membuat kedua gadis ini langsung kembali tersenyum.


"Iya ya?" jawab Azura dan Arabella kompak, seolah baru menemukan jawaban yang pas.


Kedua gadis kecil ini lantas terkekeh dan kembali saling memeluk erat. Dengan tubuh mereka yang masih di balut mukenah kecil.


Dan kedua baby sister yang sedari tadi memperhatikan hanya terus tersenyum. Entahlah, bawaannya selalu senang dan tenang tiap kali melihat mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamar Adam dan Haura.


Sepasang suami istri ini sudah lama tidak shalat berjamaah. Apa-apa sekarang mereka selalu bergantian. Adam shalat dan Haura menjaga Agatha, begitu pun sebaliknya.


Juga saat mandi dan makan, mereka selalu bergantian.


"Sayang, kamu tidak pakai KB?" tanya Adam, selesai melipat sajadahnya, ia menghampiri sang istri yang sedang membasuh tubuh baby Agatha, setelah kedua orang tuanya beres, anaknya ini bangun.


"Tidak Mas, kenapa? nanti aku hamil lagi ya? Kan sudah beberapa kali Mas keluar di dalam," balas Haura dengan banyak pertanyaan, mendadak jadi cemas.


Takut tiba-tiba hamil saat Agatha masih kecil seperti ini.


"Kata Sanja, kalau masih menyusui itu bisa jadi KB alami sayang, insyaallah kita aman," jawab Adam, coba menenangkan.


"Nanti aku telepon Sanja saja, tanya bagaimana baiknya."


Adam, mengangguk. Lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang. Mencium pipi istrinya sekilas, baru melepaskan.


Kembali mengambil jarak dan memperhatikan keduanya dengan tersenyum.


Istri dan anakku.