My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 127 - Bertemu Penulis Anna



Setelah menjemput Azzam dan Azzura, Luna mengajak keluarga majikannya itu untuk ke pergi ke sebuah restoran yang berada di hotel.


Luna sengaja, mengajak Nyonya Haura serta tuan dan nona mudanya untuk berpergian.


Bertemu dengan penulis Anna ditempat umum seperti ini.


Mereka semua dilindungi oleh beberapa bodyguard yang selalu siap siaga.


Awalnya Haura merasa tak nyaman, saat Luna memerintahkan beberapa orang untuk melindungi mereka.


Namun saat mendapati teriakan histeris dari para fans keluarga Malik, Haura akhirnya mengerti. Keputusan Luna itu ternyata benar.


"Maaf Nyonya, tapi anda harus terbiasa dengan ini semua," ucap Luna pada Nyonyanya itu.


Haura menjawabnya hanya dengan senyum kecil. Dulu, tak ada seorang pun yang peduli akan keberadaannya.


Namun kini, ia justru jadi pusat perhatian.


Mereka terus berjalan, menaiki lift menuju lantai 6 hotel itu, menuju restoran Pasola, The Ritz Carlton Pacific Place.


Pasola merupakan restoran buffet milik hotel bintang 5 Ritz Carlton yang terletak bersebelahan dengan Pacific Place. Restoran yang menyediakan berbagai pilihan makanan dari region asia, eropa hingga makanan local Indonesia dengan banyak sekali pilihannya.



Sampai di sana, Penulis Anna sudah menunggu. Luna, sedikit mengerutkan dahinya saat melihat ada orang lain disebelah penulis Anna.


Seseorang yang juga dikenalnya, Tuan Edgar Suryo.


Anna dan Edgar bangkit dari duduknya dan menyambut Nyonya Adam Malik dengan ramah dan penuh hormat.


Edgar dan Anna pun memperkenalkan dirinya masing-masing.


Haura sesaat tertegun, merasa beruntung ketika ia selalu dipertemukan dengan orang-orang baik.


Akhirnya Anna duduk bersama Haura dan kedua anaknya, Azzam dan Azzura. Mereka saling memperkenalkan diri. Agar kelak bisa bekerja sama dengan baik untuk membuat Buku tentang perjalanan hidup Haura.


Sementara itu, Luna dan Edgar duduk ditempat lain, namun bersebelahan dengan Sang Nyona dan penulis Anna.


"Jadi Anda juga menulis tentang tuan Edgar?" tanya Haura dan Anna menganggukkan kepalanya.


Sebagai sesama wanita yang juga harus hidup sendiri untuk membiayai kedua buah hatinya, Anna sungguh mengerti betapa susahnya jadi seorang Haura.


Terlebih saat itu, Haura diusir oleh semua keluarganya.


Dan kini, Haura sudah mendapatkan balasan untuk semua perjuangannya itu.


Kehormatannya telah kembali dan ia mendapatkan pula kebahagiannya kembali.


Kecil, Haura tersenyum.


"Jangan berlebihan seperti itu, penulis Anna. Saya rasa, banyak juga diluar sana para wanita yang berjuang seperti saya," balas Haura dan Anna pun menganggukkan kepalanya.


Mereka terus berbincang, sementara Azzam dan Azzura memakan beberapa cemilan di sana.


Di meja sebelah, Luna dan Edgar duduk dengan canggung.


Biasanya, mereka hanya bertemu untuk urusan bisnis. Namun kini, mereka berada dalam satu meja namun tak memiliki urusan apa-apa.


"Jadi, mulai sekarang kamu jadi asisten pribadi nyonya Haura?" tanya Edgar, memecah kecanggungan diantara keduanya.


"Iya Tuan," jawab Luna apa adanya, lengkap dengan nada bicaranya yang terdengar formal.


Mendengar itu, Edgar, menghembuskan napasnya pelan.


Merasa jika pertemuannya dengan Luna akan semakin berkurang.


"Berikan nomor ponselmu," ucap Edgar lagi seraya mengulurkan ponselnya sendiri.


Melihat dan mendengar itu, Luna menatap Edgar dengan bingung. Untuk apa nomornya bagi seorang Edgar Suryo?


"Aku akan menghubungimu tentang penulis Anna, aku tidak ingin jadwalku dengan Nyonya Haura bertabrakan," kilah Edgar, mencari-cari alasan.


Namun mendengar alasan itu, Luna menganggukkan kepalanya seraya menerima uluran ponsel Edgar.


Tak butuh waktu lama, namanya sudah tersimpan di sana.


Luna.