My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 169 - Menjalin Pertemanan Sampai Tua Nanti



Pulang sekolah kali ini. Azam, Azura dan semua teman-temannya memutuskan untuk naik bus sekolah. Dan tidak dijemput oleh orang tua mereka.


Sebenarnya ini sudah yang keempat kali mereka menaiki bus sekolah. Dan kemarin tiga hari berturut-turut mereka pulang selalu menggunakan Bus.


"Aku tidak ikut kalian, aku mau di jemput mama saja," ucap Arabella, saat mereka berjalan bersama keluar dari kelas, niatnya akan langsung menuju ke bus sekolah yang sudah menunggu di area parkir sekolah.


"Kenapa?" tanya Arnold, jika tidak ada salah satu diantara mereka, maka keseruannya akan berkurang.


"Kalau sekali-sekali naik Bus sih tidak apa-apa, kalau setiap hari aku tidak mau. Aku mau dijemput nama saja," jawab Arabella, lebih terlihat menggerutu dimata semua teman-temannya.


Menggerutu yang menggemaskan.


"Sama, aku juga ingin pulang bersama ayah saja," kini Azura yang buka suara.


Membuat Julian juga bertanya, "Kenapa?"


"Jawabannya seperti Arra saja," jawab Azura mencontek, membuat Arnold dan Julian terkekeh, sementara Azam hanya menggelengkan kepalanya.


Karena ternyata Azura dan Arabella tidak mau pulang bersama Bus. Akhirnya mereka mengurungkan niatnya itu.


Jadi duduk di kursi taman dan menghubungi orang tuanya masing-masing. Meminta dijemput dan menunggu.


Bahkan salah satu guru sekolah pun sampai menghampiri mereka. menanyakan kenapa tidak langsung pulang. Karena teman-teman yang lain dari kelas mereka pun sudah pulang semua.


Disekolah ini, hanya tinggal kakak kakak kelas mereka.


"Baiklah, jangan keluar gerbang sebelum orang tua kalian menjemput ya?" ucap sang guru, memperingati, karena tidak ingin ada hal buruk pada anak muridnya.


"Siap Madam!" jawab anak-anak kompak.


Guru yang suka dipanggil madam itu pun lantas meninggalkan kepada mereka.


Menuju ke pos satpam dan mengatakan jika ads 5 murid kelas 2 sekolah dasar sedang menunggu jemputan. Madam pun menunjuk ke arah lima anak itu. 3 dari keluarga Malik, satu dari keluarga Hutomo ( Arnold Hutomo) dan satu dari keluarga Paul (Julian Paul).


Sang satpam, menganggukkan kepalanya tanda paham dan madam pun segera kembali masuk kedalam sekolah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Adam.


"Mas, pakai celana dulu. Masa mau jemput anak-anak pakai celana pendek begitu?" tanya Haura, hingga menghentikan langkah sang suami yang akan keluar dari dalam kamar.


Awalnya, Adam dan anak-anak sudah bersepakat memang, jika siang ini tidak ada acara jemput menjemput. Jadi Adam tetap santai menggunakan baju rumahannya. Celana pendek dan baju kaos.


Tapi tiba-tiba Azura menghubungi dan minta dijemput saja.


Tak ingin kedua anaknya menunggu terlalu lama, Adam segera bergegas, tak peduli meski kini ia sedang berpenampilan seperti ini.


"Tidak apa-apa sayang, yang penting kan pakai baju," jawab Adam santai, ia kembali menghampiri sang istri dan mengecup sekilas bibirnya.


Dan Haura menyambut itu, bahkan melumaat pula bibir tebal suaminya.


"Ya sudah sana pergi, hati-hati."


Adam mengangguk, lalu segera berlalu dari sana. Meninggalkan Haura yang tersenyum saat melihat kepergiannya.


Senyum, yang membuat Adam merasa tenang ketika hendak berjauhan dengan sang istri.


Mengemudikan mobilnya sendiri, Adam menuju sekolah anak-anaknya AIG school.


Tak sampai lama, hanya butuh waktu 15 menit akhirnya dia sampai. Rumah yang mereka tempati kini memang lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah Azam dan Azura. Bahkan lebih dekat dibanding rumah Haura yang dulu.


Saat Adam turun dari dalam mobil, seketika itu juga ia jadi pusat perhatian semua orang.


Adam terlihat berbeda, tidak seperti biasanya. Biasanya, tubuh Adam itu akan terbalut rapi dengan setelan jas lengkap.


Tapi siang ini, Adam hanya menggunakan kaos lengan pendek dan celana pendek pula.


Makin nampaklah tubuhnya yang kekar dan padat.


Membuat para wanita yang melihatnya jadi gemas sendiri. Lantas memberi julukan baru untuk Adam.


Hot Daddy.


Apalagi saat mereka semua melihat, Adam yang berjongkok dan menyambut kedua anaknya dengan pelukan.


Membuat siapapun yang melihatnya jadi ingin dipeluk juga.


Kyaa!! teriak semua orang didalam hati.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Azam dan Azura melambai kearah teman-temannya.


Bahkan Azura pun membuat gerakan kiss bye, melempar ciuman jarak jauh. Dan Julian menangkapnya, lalu dimasukkannya ke dalam saku baju.


Arnold dan Arabella tergelak, bahkan nyaris terpingkal-pingkal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam mobil Adam yang sedang melaju.


Adam, terus fokus mengemudi dengan sesekali melihat kedua anaknya yang sama-sama duduk di kursi tengah. Melihat dari kaca spion yang berada di atas kepalanya.


"Ayah senang sekali, kalian memiliki banyak teman," ucap Adam. Saat mobil mereka berhenti di lampu merah.


Adam juga mengenal kedua orang tua Julian dan Arnold. Mereka semua sama-sama pengusaha di kota ini. Orang tua Julian dari keluarga Paul adalah pebisnis hotel bintang 5 di kota ini. Sedangkan kedua orang tua Arnold dari keluarga Hutomo, adalah pengusaha Bar dan club malam ternama. Bahkan Bar keluarga Hutomo sudah menyebar diberbagai kota.


"Ayah sangat berharap, kalian menjalin pertemanan itu sampai tua nanti. Kalian tau, sahabat itu adalah harta yang paling penting setelah keluarga," jelas Adam pula.


Membuat kedua anaknya menganggukkan kepala, paham.


Selamanya, mereka akan menjalin pertemanan itu.