
Luna, mengerjabkan matanya yang terasa berat. Tubuhnya sakit semua, terasa remuk redam.
Bahkan kakinya seolah tak bisa lagi bergerak.
Hal pertama yang dilihat Luna saat membuka matanya adalah wajah sang suami yang masih terlelap. Bahkan dada polos Edgar pun ia lihat juga. Ada beberapa cakaran bekas kelakuannya semalam.
Lagi, Luna memejamkan matanya bahkan menarik selimut untuk menutupi wajahnya pula.
Seketika wajahnya jadi panas, mendadak kembali merona saat teringat tentang percintaan panas mereka semalam.
Bagaimana semua baju itu tertanggal dari tubuh keduanya. Bagaimana Edgar terus mencumbui setiap inci dari tubuhnya. Bahkan menatap lama intinya yang basah sebelum melakukan penyatuan.
Luna bahkan tak segan mendesah, lalu mencakar dada suaminya saat gelombang itu datang, sementara sang suami terus menyentaknya tanpa ampun.
Tidak tidak tidak tidak! teriak Luna di dalam hati.
Pergerakan Luna itu, tanpa sadar membuat Edgar terbangun. Melihat sang istri yang seperti frustasi dibawah selimut.
Edgar tersenyum, merasa lucu. Ia sangat tahu kenapa Luna pagi ini menutup wajahnya seperti ini.
Pasti sang istri tengah malu, saat kembali mengingat kejadian semalam. Luna, bukan lagi wanita dingin, tapi sudah berubah jadi wanita panas. Menggeliat bahkan berulang kali mengerakkan pinggulnya dengan kaku mengimbangi permainan Edgar.
"Sayang," panggil Edgar dengan suaranya yang serak. ia bahkan sedikit bergeser mendekati sang istri.
Sontak saja, Luna membeku, apalagi dari dalam selimut ini ia bisa melihat tubuhnya dan tubuh suami yang masih sama-sama polos. Bahkan senjata suaminya itu kembali menyentuh pinggangnya.
Aa tidak! lagi-lagi Luna berteriak didalam hati.
Pelan, Edgar menarik selimut dan membuka wajah istrinya itu, melihat wajah Luna yang sudah seperti kepiting rebus, merona.
"Kenapa menutup wajahmu?" tanya edgar, dengan senyumnya yang terkulum.
Melihat senyum suaminya seperti itu, Luna tahu jika Edgar sedang meledeknya, ia berbaring menghadap suaminya dan memukul dada Edgar pelan.
"Jahat!" rutuknya dengan menggemaskan.
Tanpa sadar posisinya yang membuat kedua inti itu kembali bertemu, bahkan tak kuasa dengan sentuhan itu Edgar langsung bangkit dan menindih tubuh sang istri, seraya mencari celah untuk bisa segera masuk.
"Aku akan membuatmu tidak malu lagi sayang, aku akan membuatmu jadi terbiasa," ucap Edgar membuat Luna makin tak bisa berkata-kata.
Akhirnya ia hanya bisa menurut, menikmati sentuhan sang suami yang berhasil membuatnya melayang.
Desahaan itu kembali terdengar, diantara cahaya matahari yang mulai menampakkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai pesta Luna, kini giliran menyambut pesta Sanja.
Pernikahan Sanja akan dilakukan di desa Parupay. Pernikahan sederhana dengan sebuah tarup didepan rumah mendiang kedua orang tuanya, yang kini rumah itu ditempati oleh sang kakak.
Seminggu sebelum pernikahan, Sanja sudah pulang ke desa Parupay. Takut istrinya kenapa-kenapa, Adam sampai menyiapkan dokter pengganti sementara untuk Haura.
Dan tepat hari ini pula, Luna sudah kembali bekerja.
Ya, Luna tetap bekerja menjadi asisten pribadi Haura. Tapi tidak seperti sebelum-sebelumnya. Jika biasanya ia akan siap 24 jam, kini ia hanya bisa bekerja selama 6 jam saja, dan sisanya, akan diurus oleh bawahan Luna yang lainnya.
Kini, Haura, Luna dan nenek Aminah sedang duduk di atas karpet tebal di ruang keluarga rumah itu.
Mereka mengemas secara langsung oleh-oleh yang akan mereka bawa untuk warga desa.
Sementara Adam hanya duduk di sofa, duduk persis di belakang sang istri dan memperhatikan semuanya.
Wajahnya cemberut, merasa cukup kesal. Akhir-akhir ini sang istri nampak lebih sibuk dibanding dirinya.
Sampai-sampai mereka akan pergi ke desa Parupay, tapi bukan untuk baby moon seperti rencana Adam, malah menghadiri pernikahan Sanja dan Shakir.
Padahal sudah sejak lama ia menyiapkan rumah impian istrinya itu. Rumah kayu didalam hutan lengkap dengan perapian didalamnya.
Adam sudah tidak sabar, menggunakan tempat favoritnya di rumah itu. Lalu bermain dengan kedua anaknya di halaman rumah yang langsung bisa menatap luasnya pemandangan hutan, dengan banyaknya pohon-pohon besar.
Hanya bisa membayangkannya saja, Adam akhirnya menghela napasnya berat. Sampai Haura bisa mendengarnya dan menoleh kebelakang.
"Mas kenapa sih?" tanya Haura, pura-pura tidak tahu, padahal semalam kegundahan Adam itu sudah jadi topik pembicaraan mereka.
Adam mencondongkan tubuhnya, mendekat ke wajah sang istri.
"Aku tidak akan ikut ke desa Parupay jika kita tidak langsung baby moon," ancam Adam bisik-bisik.
Membuat Haura mengulum senyum dan mencuri perhatian Luna dan nenek aminah.
Tak ingin berdebat disini, Haura pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Membuat rencananya sendiri, diantara acaranya orang lain.
"Jangan bohong!" ucap Adam langsung saat melihat istrinya mengangguk.
Haura terkekeh, "Iya iya," jawabnya pula.
Sebuah jawaban yang membuat Adam merasa puas, akhirnya mereka akan menuju baby moon.
Ia pun lalu turun dan duduk disebelah sang istri.
Mengelus sebentar perut istrinya yang mulai membuncit, kehamilan Haura kini sudah memasuki usia kehamilan 5 bulan.
Membantu Haura untuk mengemas oleh-oleh itu dengan senyumnya yang mengembang.
Meski tak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh kedua anaknya, tapi Aminah pun ikut merasa senang.
Melihat Adam dan Haura hidup rukun seperti ini membuat Aminah juga merasa tenang.
Hari berlalu, hingga akhirnya mereka semua pergi ke desa Parupay. Adam, Haura Azam dan juga Azura.
Nenek Aminah tidak ikut, karena kesehatannya yang sudah mulai menurun.
Luna, mengajak suaminya Edgar untuk menghadiri pernikahan ini. Entah kenapa Luna pun ingin mengajak sang suami untuk menikmati indah dan alaminya desa Parupay.
2 helikopter mendarat di landasan yang sengaja Adam buat, sebuah lapangan di pinggiran desa.
Pernikahan Shakir dan Sanja akan digelar besok, dan mereka semua sudah datang hari ini.
Seperti biasa, mereka semua disambut antusias oleh warga desa. Bahkan Haura dan yang lainnya langsung membagikan oleh-oleh yang ia bawa.
Saat itu juga, mereka langsung menuju rumah kepala desa. Rumah kedua orang tua Labih, pak Ammar dan ibu Ririn.
"Masya Allah Haura, ibu senang sekali kalian datang, ayo masuk," ajak Ririn antusias. Rumah ini memang cukup luas untuk menyambut banyak orang.
Rumah dinas khusus untuk kepala desa.
Ririn makin bersemangat saat melihat perut Haura yang nampak membuncit, mengisyaratkan jika kini Haura tengah hamil.
Beberapa bulan lalu Labih memang sudah memberitahunya perihal kehamilan Haura. Saat itu ia sangat bahagia, dan kini kebahagiaannya jadi berlipat lipat kala melihatnya secara langsung.
Ririn mengajak Haura, Luna dan kedua anak-anak untuk masuk ke ruang tengah langsung.
Sementara para pria memutuskan untuk duduk di ruang tamu dulu, pak Ammar, Adam dan Edgar.
Di ruang tengah sana, sudah tersaji banyak buah-buahan hutan. Haura yang melihatnya, sampai menelan ludah.
"Makanlah sedikit, jangan banyak-banyak, setelah itu kita makan nasi dulu," ucap Ririn dengan mengulum senyum, ia tahu ini semua adalah buah kesukaan Haura dan kedua anaknya.
Tahu keluarga akan datang, bapak-bapak para warga desa Parupay pun masuk ke dalam hutan untuk mencari buah ini. Buah-buahan yang masih segar dibandingkan mereka beli di pasar.
Saat itu, Luna pun ikut mencicipi, dan dia pun langsung jatuh hati.
Rasanya ads yang manis dan juga asam, namun semuanya terasa menyegarkan.
"Sudah, jangan banyak-banyak!" stop Ririn, tak ingin perut semua orang ini sakit.
Haura, Luna, Azam dan Azura pun terkekeh. Menahan nafsunya agar berhenti makan.