
Keesokan harinya.
Adam dan Haura dipisahkan oleh Zahra dan juga Aminah, mereka tidak boleh bertemu walau hanya sebentar pun.
Kata Zahra dan Aminah, Sekarang kalian di pingit, karena dua hari lagi kalian akan menikah.
Namun Adam berlaku curang, meski tak bisa menemui Haura. Ia selalu mendapat kiriman foto-foto dari anak buahnya.
Menyambut hari besar itu, Zahra adalah orang yang paling sibuk. Pernikahan Adam dan Haura kelak akan diadakan di hotel Rafles, sebuah pernikahan yang sederhana. Bahkan hanya dihadiri para kerabat dan kolega dekat.
Hotel Raffles adalah tempat yang dipilih oleh Adam untuk menggelar pernikahannya. Sebuah tempat dimana awal mula pertemuannya dengan Haura. Adam ingin mengubah kenangan buruk mereka di hotel itu menjadi kenangan yang manis.
Dan Haura menyetujuinya.
Kabar pernikahan kedua Adam Malik pun sudah lalu lalang diberbagai pemberitaan. Sosok Haura pun semakin sering diperbincangkan.
Zahra pun mengatakan jika setelah pernikahan anaknya kelak, kelurga Malik akan mengadakan konferensi pers resmi dan menjawab semua teka-taki yang selama ini masih tertutup rapat.
Tantang Adam yang bercerai dengan Monica, tentang Haura yang tiba-tiba datang bersama kedua anaknya.
Dengan suaranya yang tegas, Zahra mengatakan jika kelak ia akan mengklarifikasi itu semua.
Hingga pernikahan ini, begitu ditunggu-tunggu oleh semua orang.
Jika bagi Adam waktu berjalan dengan sangat lambat, namun tidak bagi Haura, ia malah merasa jika waktu berjalan dengan sangat cepat.
Rasanya baru kemarin ia menangis mendapati perlakuan kejam Adam. Lalu melahirkan Azzam dan Azzura dan bekerja serabutan.
Lalu kehidupan mereka berangsur membaik dan memutuskan untuk ke kota Jakarta.
Kembali bertemu dengan Adam dan membuka luka di masa lalu.
Namun kini, ia akan segera menikah dengan Adam.
Membayangkan itu Haura tersenyum seraya memeluk erat kedua anaknya yang tidur disebelah kiri dan kanan.
Merasa jika ikatan takdir diantara ia dan Adam akan terus terhubung.
"Apa ibu bahagia akan menikah dengan ayah?" tanya Azzura, tadi ia sempat mendongak dan melihat sang ibu yang tengah tersenyum.
Besok adalah hari pernikahan sang ibu. Karena itulah malam ini, Azzam dan Azzura memutuskan untuk tidur bersama Haura.
Mendengar sang adik yang masih berucap, Azzam pun kembali membuka matanya dan ikut menatap sang ibu pula.
"Apa ibu bahagia?" tanya Azzam pula pada sang ibu.
Azzam tak ingin, jika sang ibu hanya memikirkan tentang ia dan sang adik saja. Sama seperti dulu saat mereka tinggal di desa Parupay.
Mendengar pertanyaan kedua anaknya, Haura pun semakin memeluk erat azzam dan azzura.
"Bagiamana dengan kalian? apa kalian bahagia jika ibu menikah dengan ayah?" tanya balik Haura, dengan suaranya yang lembut, penuh perhatian.
Azzam dan Azzura pun menganggukkan kepalanya antusias.
Lagi, Haura tersenyum
"Ibu, juga sangat bahagia sekali. Besok, kita bisa berkumpul bersama. Ading, Abang, Ayah dan juga ibu," terang Haura lalu mencium pucuk kepala sang anak secara bergantian.
Azzam dan Azzura pun membalas pelukan sang ibu tak kalah eratnya.
Malam itu, Haura kembali menasehati kedua anaknya. Meski kini kehidupan mereka jauh lebih baik dari dulu, namun Haura ingin kedua anaknya tetap merasa rendah hati.
Karena semua yang mereka miliki kini hanyalah titipan, yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil kembali dengan begitu mudahnya.
Azzam dan Azzura mengangguk patuh.
Tiap kali mendengar petuah sang ibu, Azzam dan Azzura merasa begitu tenang.
Malam itupun Azzura mengakui kesalahannya saat pergi ke Singapura bersama yang ayah dulu. Azzura meminta maaf pada sang ibu, mengaku salah, karena ia telah membeli banyak mainan di belakang ibunya itu.
Dan kini, permainan itupun jarang digunakan oleh Azzura, dan hanya terbeli sia-sia.
"Ibu tahu, ayah sudah menceritakan semuanya kepada ibu," jawab Haura hingga membuat Azzura mencebik.
"Ayah mengkhianati ku," rengek Azzura hingga membuat Azzam terkekeh, lucu.
"Abang juga mengkhianati Ading, sebelum ayah bercerita, Abang yang lebih dulu cerita pada ibu," ledek Azzam dengan wajahnya yang terlihat sangat menyebalkan di mata Azzura.
"Ih! Abang!" kesal Azzura, merajuk.
"Makanya jangan suka bohong."
"Iya-iyaa," balas azzura cepat, mengakhiri perdebatannya dengan sang kakak.
Melihat itu Haura hanya tersenyum, seraya kembali memeluk kedua anaknya erat.
"Sudah-sudah, sekarang kita tidur, besok kita harus bangun lebih awal," final Haura.