My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 92 - Sebuah Kejutan



Selepas subuh, seluruh keluarga Haura pergi ke hotel Raffles, mempersiapkan diri di sana untuk mengadakan pernikahan Adam dan Haura kelak, jadwalnya jam 9 pagi akad akan dilaksanakan.


Keluarga Haura dijemput menggunakan dua mobil mewah utusan Zahra. Sampai di hotel pun keluarga Haura disambut dengan begitu hormat oleh beberapa pelayan.


Lalu mereka semua diantar oleh dua orang pelayan untuk menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Zahra.


Kamar mewah, kelas presidential suite. Tak hanya terdiri dari beberpa tempat tidur mewah, disana juga disediakan living room yang begitu luas. Tempat, untuk keluarga Haura menunggu dan bersiap.



Di dalam kamar itu, ternyata sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan Haura, Aida juga ada di sana.


Mengatakan, jika orang-orang ini adalah perias pengantin yang sudah ia siapkan.


Perias yang akan mengubah Haura menjadi seorang putri keraton. Ya, akad nanti, Haura akan menggunakan baju adat jawa, bawahan kain batik dengan baju putih yang bagian bawahnya menjuntai hingga kelantai.


Tak hanya Haura yang akan di sulap bak putri keraton. Kedua anaknya pun akan dirias bagaikan seorang pangeran dan putri jawa. Termasuk Jodi dan Aminah, yang menggunakan baju senada dengan seluruh keluarga Malik, baju khas adat jawa.


"Mbak, aku pergi dulu ya, aku bersiap-siap bersama ibu, di kamar sebelah," ucap Aida pada calon kakak iparnya.


Haura mengangguk, seraya tersenyum tulus. Haura begitu bersyukur, baik Aida ataupun keluarga Adam yang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka.


Haura sadar, ia terlalu kecil untuk bersanding dengan seorang Adam Malik.


Yang ia punya hanya satu, cinta yang tulus.


Tak lama setelah Aida pergi, para perias itu mulai menjalankan pekerjaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disebelah kamar Haura, Adam pun kini sedang mempersiapkan dirinya. Menggunakan baju yang senada dengan baju yang akan digunakan Haura kelak.


Adam bahkan sudah menggunakan baju akadnya, kini ia sedang berlatih berjalan. Melangkahkan kakinya kecil-kecil, terhalang oleh kain jarik.


Melihat itu Zahra tersenyum, teringat akan pernikahannya dengan mendiang sang suami dulu kala.


Saat itu ayah Adam pun mengaku kesusahan menggunakan kain itu, sama seperri Adam saat ini.


"Apa terlalu sempit?" tanya Zahra seraya mendekati sang anak, berdiri disebelah Adam.


"Tidak Bu, hanya belum terbiasa," jawab Adam jujur.


Keduanya lalu tersenyum, hingga terdengar bunyi bell kamar yang berdenting.


Tak ingin sang pelayan yang membukanya.


Dan benar saja, ketika pintu dibuka, didepan sana sudah ada seorang kepala desa, desa Parupay pak Ammar beserta sang istri ibu Ririn. Dan jangan lupakan juga sang anak Labih dan sahabatnya Nanjan.


Adam, mengundang langsung mereka semua untuk datang ke Jakarta dan menghadiri pernikahannya dengan Haura.


Bahkan Adam mengirimkan helikopter untuk menjemput tamu kehormatan ini.


"Silahkan masuk Pak Ammar, Bu Ririn, Labih dan Nanjan," ucap Zahra begitu sopan. Hingga membuat mereka semua segan.


Lalu tiba-tiba Adam menyusul dengan langkahnya yang seperti siput.


"Pak Ammar," sapa Adam pula, seraya menyambut mereka dengan sebuah senyuman hangat.


Adam dan Zahra membawa mereka semua untuk masuk dan beristirahat sejenak. Menikmati beberapa hidangan yang sudah tersedia di kamar itu.


Kelak, keluarga Ammar pun akan menggunakan baju seragam seperti milik keluarga Malik.


Kehangatan yang diberikan oleh keluarga Adam ketika menyambut mereka begitu terasa bagi kelurga Ammar. Awalnya Ririn sedikit cemas, apakah Haura akan diterima dengan baik atau tidak oleh keluarga Adam.


Untuk memastikannya secara langsung, Ririn langsung bersedia datang, ketika Adam memintanya untuk menghadiri acara penting hari ini.


Dan setelah bertemu langsung dengan Zahra, Aida dan beberapa saudara Adam, kini Ririn bisa bernapas lega.


Ririn terus mengucapkan banyak syukur dihatinya, ikut bahagia ketika Haura kini mulai menikmati hasil dari jerih payahnya selama ini.


Dan tak hanya Ririn saja yang terus bersyukur dan merasa bahagia. Adam pun merasakan hal yang sama. Adam begitu bahagia atas kedatangan keluarga Pak Ammar.


Adam tahu, betapa berartinya keluarga pak Ammar bagi Haura. Pak Ammar lah yang selalu membantu Haura untuk memberikan ladang pengais rejeki, selalu meminta Haura untuk memanen hasil kebunnya.


Lalu saat Haura hendak berusaha sendiri, pak Ammar pun selalu mendukung. Membimbing Haura tak ada bosannya.


Karena itulah ia ingin memberi kejutan kapada calon istrinya itu. Berupa kedatangan pak Ammar, ibu Ririn, Labih dan Nanjan dalam acara pernikahan mereka.


Adam tersenyum, kala membayangkan reaksi terkejut bahagia Haura kelak.


Apalagi teriakan Azzam dan Azzura saat memanggil abang Labih dan abang Nanjan.


Adam, terus tersenyum.