
Sore harinya, keluarga Adam dan keluarga Agra pulang dari mansion nenek Zahra.
Sebelumnya, Luna dan Kris sudah diperintahkan untuk mengganti seluruh pelayan di rumah Adam menjadi para pria. Sementara yang wanita dipindah dulu di mansion Zahra.
Setelah beres, barulah keluarga Adam Malik ini pulang.
Adam terus mendekap pinggang istrinya tak ingin jauh.
“Apa dulu kamu juga mual-mual seperti ini?” tanya Adam, penasaran.
Saat ini mereka masih berada di dalam mobil yang melaju. Kris didepan sana sudah bersiap-siap untuk menulikan pendengarannya.
“Iya Mas, 3 bulan pertama aku mual-mual terus,” jawab Haura jujur, masa-masa itu adalah yang paling berat ia jalani. Karena diantara rasa mualnya itu, Haura tak bisa beristirahat. Ia tetap harus mencuci dan menyetrika di rumah para tetangga.
“Dan saat itu aku tidak ada di sampingmu,” balas Adam lagi, yang lagi-lagi merasa bersalah.
“Iya, saat itu entah mas Adam sedang apa.”
“Sedang mencari mu.” Balas Adam cepat.
Haura terkekeh, kini tiap kali ia dan Adam membicarakan masa lalu itu sudah tak ada lagi rasa sedih ataupun rasa mengganjal di hati.
Kini, semua itu seolah hanya menjadi sebuah kenangan yang indah untuk dikenang.
“Besok, kita periksa ke dokter ya?” ajak Adam.
“Memangnya Mas mau pergi ke rumah sakit? Bagaimana jika banyak wanita di sana, nanti mual Mas tambah parah.”
“Oh ya, kalau begitu kita minta dokternya untuk datang ke rumah, sekaligus membawa semua peralatannya.”
Haura, langsung menatap suaminya itu. Dengan tatapan yang artinya entah. Seolah ucapan yang dikatakan oleh suaminya itu sungguh mustahil untuk terjadi.
“Memangnya bisa?” tanya Haura memastikan. Padahal bisa saja ia pergi sendiri ke rumah sakit, Luna akan menemaninya.
“Tentu saja bisa,” jawab Adam santai.
Ia bahkan langsung memerintahkan Kris untuk memenuhi keinginannya itu. Dan Kris pun menganggukkan kepalanya, seraya menjawab dengan tegas, “Baik Tuan!” jawab Kris patuh.
Dan Haura, mulutnya menganga.
Bagaimana bisa, suaminya itu melakukan semuanya dengan begitu mudah. Semudah membalikkan telapak tangan.
“Acil, besok tolong Acil saja yang antar kami ke sekolah ya? Zura tidak mau, ayah mengusir para ibu-ibu disekolah nanti,” ucap Azura, meminta tolong pada Asisten Pribadi ibunya itu.
Azzura dan Azzam sudah turun dari mobil, dan Luna membuka kaca mobilnya sedikit.
“Baik Nona Muda, tapi saya akan menunggu diluar, apa tidak apa-apa?”
“Iya Acil, lebih baik selama beberapa bulan ini Acil jangan masuk dulu ke dalam rumah. Kita bisa bertemu diluar,” Azzam yang menjawab.
Luna, sungguh merasa gemas tiap kali berbincang dengan majikan kecilnya ini.
Ia ingin sekali turun dan memeluk keduanya.
Namun kini, ia sudah dilarang keras untuk menampakkan diri.
“Azzam, Azzura ayo masuk Nak,” panggil Aminah yang sudah berjalan hingga diteras. Tak melihat kedua cucunya, ternyata sedang bicara dengan Luna.
“Iya Nek!” sahut Azzura.
“Acil, kami masuk,” pamit Azzam.
Kedua anak kecil ini kemudian berlari menghampiri neneknya dan meninggalkan Luna didalam mobil itu.
Luna terus tersenyum, senang sekali ketika mendengar Azzam dan Azzura memanggilnya Acil.
“Acil dan amang,” gumam Luna, lalu mengulum senyum.
Tak ingin lama-lama menikmati rasanya jatuh cinta. Luna, segera bergegas pergi ke Malik Kingdom.
Menyiapkan perusahaan besar itu, agar menjadi tempat yang aman untuk tuan Adam bisa masuk kerja besok.
Kris dan Luna berkolaborasi. Membuat pengumuman baru untuk semua karyawan Malik Kingdom.
Yang bisa menemui bahkan berpapasan dengan Adam Malik hanyalah karyawan pria. Sementara semua karyawan wanita diwajibkan bekerja di balik meja.
“Selesai!” ucap Luna dan Kris kompak.
Mereka bahkan membuat gerakan Toss!