
Jepara, Surabaya.
Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, kini Adam dan Haura sampai di Surabaya.
Pukul 07.00 WIB dari Bandara Soekarno Hatta, dan tiba di Bandara Juanda pukul 08.30 WIB.
Keduanya langsung disambut dengan mobil milik Malik Kingdom, membawa mereka langsung ke kecamatan Bubutan dan menuju desa Jepara.
Mulai memasuki Desa, Haura mendadak cemas. Kembali teringat pertemuan terakhirnya dengan sang kakak yang berujung pertengkaran.
Ia melirik sang suami, dilihatnya Adam pun sama, wajahnya tak tenang. Bahkan mulai keluar keringat dingin dari dahi suaminya itu.
"Mas kenapa?" tanya Haura, yang mendadak jadi cemas. Kenapa Adan nampak lebih gugup dari dirinya.
Ia bahkan langsung memutar tubuh Adam dan menghapus peluh itu menggunakan tissue.
"Mas Mual?" Tebak Haura dan Adam menganggukkan kepalanya.
Adam sudah cukup mengenal Hasan dan istrinya Rini, juga ketiga anak mereka yang semuanya perempuan, Adam mengetahui itu semua dari data yang ia peroleh selama pencarian Haura.
Dan hanya membayangkan wajah istrinya hasan dan ketiga anaknya itu, Adam sudah dibuatnya mual. Rasa-rasanya ia tak sanggup jika harus melihat wajahnya pula secara langsung.
Tapi tak mungkin membiarkan istrinya pergi sendiri, Adam berusaha keras untuk menyembunyikan rasa mualnya itu.
"Mas nanti tunggu di mobil saja ya? aku baik-baik saja Mas, lagipula tujuan kita kesini kan baik, pasti mas Hasan akan mengerti, tidak akan ada keributan lagi," jelas Haura, ia langsung mendekap suaminya, memeluknya erat.
Beberapa hari ini, hanya cara inilah yang mampu meredam mual suaminya itu.
Adam pun memeluk Haura erat, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya itu, harum yang sangat menenangkan.
"Kris tunggu!" pekik Haura, hingga mengagetkan kedua pria ini.
Adam dan Kris.
Kris langsung menepikan mobilnya dan Adam pun langsung melerai dekapannya.
"Ada apa sayang?" tanya Adam, sedikit cemas dan bingung, apalagi saat melihat Haura yang menatap nanar kearah luar mobil.
"Ada apa Nyonya?" tanya Kris pula. Saat ia menoleh ke belakang.
Adam dan Kris lalu mengikuti arah pandang Haura. Dipinggir jalan sana, ada seorang pria yang sedang mendorong gerobak sayur.
Tertatih, saat melewati tanjakan kecil ini.
"Mas Hasan," gumam Adam.
"Izinkan aku turun Mas," pinta Haura cepat, seraya menatap penuh harap pada suaminya itu. Adam mengangguk, dan Kris langsung membuka kunci pintu mobil mereka.
Terdengar bunyi Klik, dan Haura segera turun disusul oleh Adam. Sedikit berlari, Haura menghampiri sang kakak. Lalu berteriak memanggil kakaknya itu.
"Mas Hasan!"
Dipanggil, Hasan pun menghentikan langkahnya, melihat kearah sumber suara. Dimana Haura tengah berlari menuju dirinya.
Seketika, saat itu seolah waktu berhenti berputar. Kilas balik masa lalu malah mendatangi ingatan Hasan. Saat adiknya terus mengejar dan mengikuti kemanapun ia pergi, hanya untuk bermain bersama.
"Mas Hasan," panggil Haura lagi ketika ia sudah berdiri dihadapan sang kakak.
Mendengar panggilan itu, kesadaran Hasan kembali. Namun ia masih terdiam, gamang.
Sementara Haura, hanya menatap nanar. Tak terbayang bagaimana sang kakak akhirnya menjalani hidup seperti ini. Menjadi penjual sayur menggunakan gerobak.
Dimana mobil mereka dulu, motor, dan juga sebuah toko elektronik peninggalan kedua orang mereka dulu.
Haura pikir, hidup Hasan selama ini baik-baik saja.
Sesaat keduanya hanya saling tatap. Hingga akhirnya Adam datang.
"Untuk a-apa kalian datang kesini?" tanya Hasan akhirnya, diantara rasa gugup dan takut akan dilaporkan ke polisi, melihat Adam, ia kembali teringat jika Haura sudah mengetahui semua kejahatannya di masa lalu.
Melihat wajah sang kakak yang pias, Haura pun merasa pilu. Raut ketakutan yang justru membuatnya tak nyaman.
"Mas, maafkan aku," pinta Haura, lirih. Namun Hasan masih mampu mendengarnya.
Kedua netra Hasan membola, tak menyangka jika kata-kata itu yang pertama keluar dari mulut Haura.
Kata, Maaf. Padahal harusnya dia dulu lah yang lebih pantas mengucapkan kata itu.
Mendadak, malu menyelimuti Hasan. Seolah dunia sudah terbalik, kini ialah yang berada dibawah kaki Haura.
"Tidak Haura, aku yang seharusnya meminta maaf," jawab Hasan akhirnya.
Meredam ego, adalah keputusannya saat ini. Ia sudah banyak mengalami manis asamnya kehidupan. Dimasa tuanya ini, ia ingin hidup tenang.
Air mata Haura luruh, kala mendengar sang kakak mengucapkan kata maaf.
Dipinggir jalan kala itu, Hasan dan Haura menemukan titik terang diantara mereka.
Bahkan Haura langsung menjelaskan kepada sang kakak, jika kelak ia akan mengajak Azzam dan Azzura untuk menemuinya.
Saat itu, rumah Hasan sudah tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
Jadilah, mereka semua berjalan menuju rumah Hasan. Dengan Haura yang membantu sang kakak mendorong gerobak kayu itu.
Sementara Adam hanya mengekor, tersenyum, dan memberikan banyak waktu pada kakak beradik itu untuk memiliki waktu berdua.
Dan Kris pun mengekor, membawa mobil mereka.
"Mas, suamiku saat ini sedang ngidam, dia tidak bisa melihat wanita," lirih Haura, saat rumah mereka sudah nampak.
"Ngidam? tuan Adam itu ngidam?" tanya Hasan, bingung. Ia bahkan masih saja memanggil Adam dengan sebutan tuan.
Dengan sedikit terkekeh, Haura menjelaskan semuanya pada sang kakak. Tentang kehamilannya dan tentang keanehan suaminya itu.
Hasan hanya tersenyum, tak menyangka ada kejadian langka di dunia ini.
"Haura, maafkan aku, ini bukan lagi rumah kita," jelas Hasan, saat mereka sudah berada disebuah rumah. Rumah sederhana yang semasa kecil mereka tinggali.
"Tidak apa-apa Mas, jadi sekarang Mas tinggal dimana?" tanya Haura langsung, tak ingin membuat sang kakak makin merasa bersalah jik ia bersedih.
Lagipula itu hanya rumah, kenangannya yang penting.
"Ayo jalan lagi," ajak Hasan dan Haura pun menganggukkan kepalanya.
Hingga tak lama kemudian, mereka sampai disebuah rumah. Rumah kontrakan, berderet menyambung dan salah satunya ditempati sang kakak.
"Loh Mas! kok sudah pulang!" teriak Rini dari dalam rumah saat ia melihat gerobak sayur milik suaminya kembali pulang. Ini masih pagi, biasanya menjelang siang Hasan baru pulang.
Haura dan Hasan saling tatap, lalu menoleh kebelakang melihat Adam yang sudah pucat.
Haura pun langsung mundur dan menghampiri suaminya itu.
"Mas," lirih Haura. Dan Adam benar-benar tak berdaya.
Hasan ikut menghampiri, tak menyangka jika cerita sang adik benar adanya.
Saat itu juga, Haura meminta izin pada sang kakak untuk mengantar suaminya dulu ke mobil, lalu ia akan kembali kesini seorang diri.
Hasan, menyetujui.
Melihat Haura dan Hasan yang hubungannya sudah membaik, membuat Adam rela membiarkan istrinya itu pergi sendirian.
Setelah beberapa detik ia mengambil tenaga dengan sebuah ciuman penuh damba dibibir sang istri didalam mobil.
"Aku turun Mas," pamit Haura dan Adam pun mengiyakan.
Kembali menemui sang kakak, yang kini sudah berdiri menyambutnya bersama sang istri, Rini. Yang menatap Haura dengan tatapan entah.