My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 123 - Siapa Istri Anda?



"Apa tidak berlebihan Mas, Luna jadi asisten pribadiku?" tanya Haura pada sang suami.


Mereka berdua baru saja mengantar kedua anaknya untuk beristirahat di kamar masing-masing.


Kamar yang kini tidak ada lagi pintu ajaibnya, kata Azzura, kini ia sudah berani. Karena ada Ayah pula disini.


Adam, tidak langsung menjawab pertanyaan sang istri. Ia menarik pinggang istrinya itu dan didekapnya erat. Berjalan beriringan dengan ia memeluk Haura.


"Tidak sayang, itu tidak berlebihan," jawab Adam akhirnya.


"Mulai sekarang, kamu akan banyak memiliki kesibukan. Mengurus perkebunan di desa, membuat buku, menghadiri pertemuan baik denganku atau sendirian. Kamu ingat kan, sekarang kamu adalah Nyonya Adam Malik," timpal Adam lagi, seraya menarik hidung mancung milik sang istri sekilas.


"Dan Luna, akan membantu dan mengurus semuanya untukmu."


Mendengar ucapan terakhir suaminya itu, Haura akhirnya menganggukkan kepala.


Setuju, jika kini Luna menjadi asisten pribadinya.


"Jika Luna jadi asistenku, bagaimana dengan Mas Adam? siapa yang akan menggantikan Luna di perusahaan?" tanya Haura bertubi, saat ini mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar.


Tahu istrinya ingin berbincang, Adam pun membawa Haura untuk duduk di sofa kamar itu.


Duduk bersebelahan dan begitu dekat, salah satu tantan Adam bahkan masih setia memeluk tubuh istrinya itu.


"Aku akan jadikan Kris sebagai pengganti Luna. Kris adalah salah satu sekretaris ku di MK. Sebenarnya sejak lama, aku memang ingin mengganti Luna dengan asisten pribadi seorang pria. Aku sadar satu hal, istriku di rumah sangat pencemburu," jawab Adam, dengan mengulum senyumnya.


Ia jadi terkekeh, saat melihat wajah sang istri yang cemberut.


"Siapa istri Anda?" tanya Haura, berbicara formal.


"Seorang gadis desa yang lugu, selain pencemburu, dia juga sedikit galak," jawab Adam, sumpah demi apapun ia ingin tergelak ketika mengatakan itu.


Namun sekuat tenaga ia tahan.


Merasakan Haura, yang memukul dadanya pelan.


"Lain kali kenalkan istri Anda itu padaku," jawab Haura, ketus. Dengan bibirnya yang mencebik.


"Baiklah, akan saya kenalkan. Ini, namanya Haura," balas Adam, seraya menyentuh bibir yang mencebik itu menggunakan jari telunjuknya.


Tak tahan, Adam pun segera menarik tengkuk sang istri dan menghujaminya dengan ciuman yang dalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya adalah hari senin.


Hari sibuk bagi semua orang.


Pagi ini Labih dan Nanjan mulai berkuliah. Azzam dan Azzura juga mulai sekolah.


"Ye! sekarang kita pergi sama-samanya dari rumah yang sama juga," celetuk Azzura, saat ia dan semua keluarganya keluar dari dalam rumah.


Setelah sarapan, Adam dan kedua anaknya akan pergi bersama. Adam mengantar Azzam dan azzura ke sekolah, lalu ia sendiri akan pergi ke MK.


Sudah beberapa hari ini ia tak mendatangi perusahaannya itu.


Dan Haura, ikut mengantar mereka semua sampai ke samping mobil.


Mendengar celotehan sang adik, Azam pun ikut bersorak riang pula. Ia pun merasakan kebahagiaan yang sama.


Sampai di samping mobil, Haura berjongkok. Mencium dan memeluk kedua anaknya secara bergantian.


"Sekarang giliran ayah yang dicium," ucap Adam hingga membuat kedua anaknya terkikik, sementara Haura hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Namun Haura tetap memenuhi keinginan suaminya itu, setelah mencium punggung tangan kanan suaminya takzim. Haura mencium sekilas pipi sang suami.


Adam tersenyum, dan mengelus pipi lembut istrinya itu, merasa gemas.


"Ayo masuk!"


"Ayo!" sahut Azzam dan azzura kompak, kedua anak ini masuk lebih dulu ke dalam mobil.


Dan setelah itu, Adam kembali menghadap istrinya, mencuri sebuah ciuman dibibir.


"Ini baru benar," ucap Adam dengan senyumnya yang lebar.


Senyum, yang membuat Haura ikut tersenyum pula.


Haura, masih berdiri di sana. Melihat mobil sang suami dan anak-anaknya yang mulai menjauh.


Sudah tak nampak lagi, Haura baru masuk.