
Edgar, mendatangi satu per satu tamu undangannya yang mengalami luka di dalam ballroom itu. Mengucapkan kata maaf sedalam-dalamnya.
Berkata akan mengganti rugi dan menghukum seberat-beratnya dalang dari peristiwa ini.
Hingga sampailah, Edgar disebelah Shakir dan Luna yang sedang terbaring. Edgar pun meminta maaf pada Shakir atas peristiwa ini, lalu beralih menatap Luna dengan heran, seingatnya, ia sudah meminta Luna untuk pulang, namun kenapa Luna malah terbaring disini.
"Maaf Tuan Shakir, apa yang terjadi pada Luna?" tanya Edgar, cemas sekaligus penasaran.
"Dia sedang tertidur, ada beberapa orang yang menyerang dan membiusnya," jelas Shakir apa adanya, dengan tatapan yang kosong, mungkin tubuhnya berada disini, namun hati dan pikirannya melayang jauh kesana, memikirkan Haura yang kini berada di pelukan Adam.
Mendengar itu, kedua netra Edgar membola. Kenapa Luna sampai diserang dalam acaranya seperti ini.
"Lalu dimana orang-orang yang menyerang Luna itu?" tanya Edgar menggebu.
"Aku tidak tahu, tadi aku hanya ingin menyelamatkan Luna," jawab Shakir, meski rasanya mulutnya malas sekali untuk menjawab. Ia hanya ingin menunggu Luna tersadar, lalu pergi.
"Aku akan segera menghubungi Tuan Adam, itu pasti salah satu musuh beliau," jelas Edgar yakin, ia lalu bergerak cepat untuk menghubungi Adam. Namun niatnya terhenti, saat salah satu tangannya yang bebas dicekal oleh Luna.
Luna sudah setengah tersadar, dan mendengar niatan Edgar untuk menghubungi Tuannya.
Pelan, Luna menggelengkan kepalanya, memberi isyarat pada Edgar agar tak menghubungi sang tuan.
Luna, sudah tahu jika ini semua pasti ulah Darius. Selama Luna masih mampu menanganinya, ia tak akan mengganggu Adam. Apalagi Luna pun tahu, jika saat ini Adam sedang bersama dengan Haura.
"Baiklah, aku tidak akan menghubungi Tuan Adam," ucap Edgar, seraya kembali menurunkan ponselnya. Dan Luna pun melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Edgar.
"Tuan Shakir, jika boleh, tolong antarkan Luna pulang ke rumahnya, saya tidak ingin ada hal buruk yang terjadi lagi pada Luna," pinta Edgar pada Shakir, sebenarnya Edgar pun ingin mengantar Luna, namun ia tak bisa meninggalkan ballroom begitu saja. Setelah semua tamu undangannya pulang, barulah ia bisa pergi.
"Baiklah," jawab Shakir singkat.
Edgar bernapas lega, lalu segera pamit meninggalkan keduanya.
Selepas kepergian Edgar, Luna mencoba untuk terbangun. Sesaat ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu ingin pulang sekarang?" tawar Shakir dan Luna mengangguk.
Tanpa babibi, Shakir lalu membantu Luna untuk bangkit, memapahnya untuk berjalan dan segera keluar dari dalam ballroom itu.
"Jangan sungkan, bersandarlah padaku," ucap Shakir, masih dengan wajahnya yang datar.
Melihat wajah kaku itu, Luna sedikit tersenyum miring. Luna tahu, saat ini Shakir pasti sedang merasa sakit hati, karena Haura akhirnya memilih untuk pergi bersama Adam.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Shakir dengan nada tak suka, ia sudah sudi menolong namun Luna malah seolah mengejeknya.
"Maaf Tuan," jawab Luna singkat, susah payah ia menahan senyumnya.
Akhirnya keduanya masuk ke dalam lift, masih dengan Shakir yang terus memapah tubuh Luna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain.
Adam, menggenggam erat kedua tangan Haura. Mereka duduk berdua di kursi penumpang, sementara seorang supir memelajukan mobil mereka.
Adam bisa merasakannya, apalagi saat Haura menutup mata dan memeluknya erat dengan tubuh yang bergetar dan dipenuhi keringat dingin, saat di dalam ballroom tadi.
Haura tak menjawab apapun, ia semakin menggenggam erat tangan Adam pula.
Haura memang merasa takut, tapi entah kenapa, berada disekitar Adam, ketakutan itu perlahan menghilang.
Seolah luka yang pernah dibuat oleh Adam, hanya Adam sajalah yang bisa mengobatinya.
Adam melepas jas yang ia kenakan, lalu memasangkannya di tubuh Haura. Mengikis jarak, dan memeluk bahu Haura erat.
Haura tak menolak, ia bahkan menarik kedua sisi jas yang Adam pasangkan agar semakin membalutnya dengan sempurna.
Hening, tidak ada pembicaraan apapun, hanya tubuh keduanya yang saling memberi kenyamanan.
Hingga akhirnya, mobil mereka berhenti tepat didepan rumah Haura. Rasanya Adam begitu enggan untuk melepas Haura pergi.
Namun ia masih belum memiliki hak untuk itu.
Hingga saat Haura meleraikan diri dari dekapan Adam, Adam tak menahannya sedikitpun.
Keduanya lalu turun, Adam ikut mengantar Haura sampai ia berada didepan pintu.
Namun saat Haura hendak masuk, Adam, memberanikan diri untuk menahannya. Hingga Haura kembali berbalik dan menatap Adam yang sedang menatapnya lekat.
"Maafkan aku Haura," ucap Adam lirih, lalu menarik Haura untuk dipeluknya erat.
Haura terdiam, tak pula membalas pelukan Adam itu.
Satu yang Haura yakini malam ini, Adam tidak membuatnya takut. Justru perasaan nyaman itu semakin menjalar di dalam hatinya.
"Aku sudah memaafkan Mas Adam," balas Haura didalam pelukan Adam itu.
Tanpa sadar, Adam mencium pucuk kepala Haura dengan begitu tulus dan penuh perasaan. Seolah keduanya hanyut, dalam angin malam yang membelai lembut.
"Masuklah," ucap Adam setelah ia melerai pelukannya sendiri, lalu merapikan jasnya yang dikenakan oleh Haura, agar tidak terjatuh.
Haura mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah.
Adam tersenyum, menatap pintu rumah itu yang sudah kembali tertutup dengan rapat.
Malam yang begitu indah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Azzam : Ading, tutup matamu! jangan lihat ayah dan ibu!
Azzura tak menjawab, hanya terus tersenyum, mengintip kedua orang tuanya yang sedang berpelukan.
🙈🙈🙈
Jangan senyum-senyum aja, di Vote dong 🤣😘 Bab 53 up nanti siang 💕