
Sore ini, Zahra dan Aida mengantarkan Azzam dan Azzura untuk pulang ke rumah sang ibu, Haura. Sesuai janjinya pada Haura, sore ini mereka akan mengantar Azzam dan Azzura pulang.
Meski rasanya begitu berat untuk berpisah dengan kedua cucunya, namun Zahra tetap mencoba bersabar.
Ia tak bisa bertindak sesuka hati, karena yang paling berhak atas Azzam dan Azzura memanglah Haura. Bukan dirinya ataupun Adam.
"Nek, jangan menangis lagi dong, kan minggu depan aku dan Abang menginap lagi di rumah nenek," ucap Azzura.
Mobil mereka sudah terparkir sempurna di rumah Haura, namun urung untuk turun karena Zahra menangis.
"Iya Bu, tidak enak dilihat keluarga mbak Haura kalau ibu nangis-nangis begini," timpal Aida, berusaha membuat ibunya itu berhenti menangis.
Zahra mengangguk, lalu mengambil tissue yang tersedia didalam mobil itu dan mulai menghapus air matanya.
Selesai dengan itu, mereka semua turun.
Tak butuh waktu lama, pintu itu dibuka oleh Haura. Lalu mempersilahkan Zahra dan Aida untuk masuk pula.
"Maaf ya Bu, Aida, rumah ku kecil," ucap Haura, ruang tamunya hanya terdiri dari sofa dan meja bundar ditengahnya, pun designnya tak semewah di rumah Zahra.
"Jangan bicara seperti itu, rumah itu yang terpenting terasa nyaman," jawab Zahra, seraya duduk disalah satu kursi dan Aida mengikuti.
Haura lalu memanggil Aminah dan juga Jodi untuk memperkenalkan mereka semua.
Aminah sungguh merasa lega, ketika mengetahui keluarga Adam adalah orang-orang yang baik. Tak peduli dengan tahta, mereka tetap menerima Haura dengan tangan terbuka.
Bahkan berulang kali, Zahra pun memohon maaf sekaligus berterima kasih pada Aminah dan juga Jodi.
Saat sedang berkumpul itu, Azzura memanggil sang ibu untuk ikut bersamanya ke kamar. Haura mengikuti, lalu meninggalkan mereka semua di ruang tamu.
Selepas kepergian Haura, Aminah mulai buka suara.
Ia juga memohon pada Zahra untuk tidak memisahkan Azzam dan Azzura dengan Haura. Kedua anak itu adalah kekuatan Haura untuk tetap bertahan selama ini.
Bahkan Haura tak malu untuk menjadi buruh tani, buruh cuci, seorang pengasuh. Apapun Haura lakukan, untuk memberikan kehidupan yang layak bagi Azzam dan Azzura.
"Percayalah padaku, Aminah. Aku tidak akan memisahkan mereka," jawab Zahra, yang usianya tak jauh dari Aminah. Namun kerasnya kehidupan, membuat Aminah nampak lebih tua dan lemah.
"Bahkan jika Haura tak ingin menerima Adam kembali, aku akan tetap menganggapnya seperti anakku sendiri," timpal Zahra lagi, sungguh-sungguh. Bahkan ia berani bersumpah akan hal itu.
Mendengar itu, Aminah sampai meneteskan air matanya.
Bersyukur, terus ia ucapkan didalam hati.
Setelah semua penderitaan yang dialami oleh Haura, kini ia tinggal menikmati manisnya dari perjuangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat jam 8 malam, Shakir datang menjemput Haura.
Sejenak pria asal Malaysia ini tertegun, kala melihat penampilan Haura dari atas sampai ke bawah.
Haura, selama ini tidak pernah sekalipun memoles wajahnya. Bahkan sangat jarang menggunakan pewarna bibir. Haura selama ini cantik alami.
Namun malam ini, Haura nampak berbeda.
Seolah kecantikannya itu bertambah berkali-kali lipat, saat Haura merias dirinya. Bahkan Haura memberanikan diri menggunakan sepatu heels.
"Cantik," ucap Shakir tanpa sadar, matanya terus menatap lekat Haura yang berdiri dihadapannya.
Ternyata hingga kini, ia belum lupa caranya merias diri.
"Jadi pergi tidak Bang?" tanya Haura, karena Shakir hanya terpaku.
"Amang!" pekik Azzura dan Azzam kompak, kedua anak kecil ini juga sedari tadi ada di sana. Namun Shakir mengabaikannya.
Mendengar jeritan Azzam dan Azzura itu, Shakir langsung tersadar.
"Hah? apa?" tanyanya bingung, Azzam dan Azzura langsung kompak terkekeh.
"Kita jadi pergi atau tidak?" tanya Haura lagi.
"Ja-jadi dong," jawab Shakir gugup, mata Haura membuat ia lemah.
Shakir laku mencium pipi Azzura sebagai tanda pamit, lalu mengacak rambut Azzam dengan sayang.
"Jangan tunggu Ibu, kalian tidur saja lebih dulu," ucap Shakir sebelum ia benar-benar pergi.
"Iya Amang, hati-hati ya?" balas Azzura dan Shakir mengangguk.
Setelah Azzam dan Azzura kembali masuk ke dalam rumah, Shakir dan Haura memutuskan untuk langsung pergi.
Tak butuh waktu lama. Mereka sampai di hotel bintang 5. Hotel Rafles.
Seketika Haura ragu untuk turun dari dalam mobil Shakir, hotel ini adalah hotel dimana dulu Adam merenggut kesuciannya.
Mendadak perasaan takut itu kembali datang.
"Haura, kamu kenapa?" tanya Shakir heran, saat melihat Haura yang seperti ketakutan.
"Jangan cemas, ada aku," timpal Shakir lagi, ia berpikir jika Haura merasa gugup untuk menghadiri makan malam itu.
Haura mencoba tenang, mencoba percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lagipula kini hubungannya dengan Adam sudah sangat baik. Dan benar kata Shakir, kini ada Shakir yang akan melindunginya.
Yang harus Haura lalukan hanya satu, tetap berada disisi Shakir sampai acara ini berakhir.
Akhirnya mereka turun, berjalan beriringan memasuki hotel itu. Menuju ballroom tempat makan malam diadakan.
Seperti de javu, semuanya terasa sama seperti dulu dimata Haura. Datang kesini bersama Pandu, berada ditengah-tengah orang yang berkuasa.
Pintu Ballroom di buka lebar, saat Shakir dan Haura hendak masuk ke sana.
Keramaian didalam ballroom itu, sontak membuat Haura semakin gugup. Ia hanya bisa mencengkram kuat dompet kecilnya yang berada ditangan. Mencoba mengendalikan diri.
Hingga suara bariton seorang pria membuatnya tersadar dari kenangan masa lalu itu.
"Haura!" panggil Adam yang sudah berdiri di hadapannya.
Adam datang bersama Luna, dan Haura datang bersama Shakir.
Seketika, suasana jadi hening.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Salam AH dan baby AzRa 💕💕💕
Terima kasih untuk semua dukunganya 🙆♀️🙆♂️