Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 92. Impian Ara



Aku akan bertahan demi bisa bertemu denganmu.....


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Ara duduk dibrangkar rumah sakit. Tangannya memegang sebuah kuas, untuk menggambar sesuatu diatas kanvas. Dia terlihat bahagia dengan apa yang digambar nya.


Dia mengenakan topi yang dipasang Aldo dikepala nya, dari kemarin topi itu tak lepas dari kepalanya. Dia ingin selalu merasakan ada Aldo yang harus menjadi kekuatan untuk nya berjuanga. Karena sekarang Aldo sedang fokus pada sekolahnya, sejak pindah ke Belanda Aldo memang menganggur beberapa bulan hingga setelah melakukan negosiasi akhirnya bocah berusia lima tahun itu mau kembali sekolah.


Ara tersenyum puas menatap hasil lukisannya, selama dirumah sakit dia terus saja melukis karena hanya itu yang bisa membuatnya melupakan segala rasa sakit yang menggerogoti tubuh dan hatinya.


Roger ikut tersenyum melihat sang adik. Hari ini dia yang menjaga Ara, karena dia ingin menghabiskan waktu dengan adik semata wayang nya itu.


"Gambar apa sih adik Kakak ini?". Roger duduk dibibir ranjang Ara.


"Ini Kak". Ara menunjukkan hasil lukisannya.


Seketika Roger terdiam, hatinya kembali berdenyut sakit menatap lukisan itu.


"Suatu saat nanti anak-anak ku akan menjadi pemimpin yang hebat Kak". Senyum Ara menjelaskan lukisan nya "Ini, Kak Han. Walau dia membenci ku tapi aku mencintainya. Saat aku tidak ada nanti, aku harap anak-anak ku yang akan menemaninya". Sambung Ara.


"Sayang". Roger menggeleng kepala dan tidak setuju dengan ucapan Ara "Apapun yang terjadi, Kakak mohon jangan pergi. Ara segalanya bagi Kakak". Roger mengenggam tangan Ara yang terasa sangat dingin.


Ara memaksa kan senyum dibibir pucatnya "Kak, aku punya impian nanti anak-anak kita akan bermain bersama. Segeralah menikah dengan Kak Nana". Ujar Ara mengalihkan pembicaraan Roger "Pasti sangat bahagia melihat mereka bermain bersama Kak". Timpal Ara lagi.


"Sayang".


"Ohhh ya Kak, aku sudah siapkan nama-nama untuk anak-anak ku. Menurut Kakak bagus tidak nama mereka?". Roger tak menjawab dia masih terdiam menatap Ara yang tampak senang menjelaskan lukisan dan membicarakan nama anaknya.


"Keynaro Mahendra, Keyzero Mahendra, Keyzeno Mahendra dan Keynara Mahendra". Ucap Ara menyebutkan nama-nama anaknya. Karena menurut hasil USG, bayi Ara tiga berjenis kelamin laki-laki dan satu berjenis kelamin perempuan.


"Mereka akan tumbuh menjadi anak yang cerdas Kak". Lanjut Ara masih tersenyum bangga pada lukisan dan nama-nama anaknya.


Roger tak berkutip dia menatap adiknya dengan sendu, air matanya tanpa permisi jatuh begitu saja. Dia menyesal dulu pernah jahat pada adiknya, bahkan dia salah satu penyebab Ara menderita. Rasa bersalah dihati Roger membuat pria itu tak berdaya.


"Kakak". Ara melihat Kakak nya yang sudah menangis "Kenapa?". Tanya Ara mengusap air mata Roger. Tangannya sudah tak diinfus karena infuse sudah tidak bisa mengalir dan jalan lagi karena ditolak oleh tubuh Ara.


Roger mengenggam tangan Ara "Maafkan Kakak. Kakak belum bisa jadi Kakak yang baik untuk Ara". Ucap Roger diiringi dengan air matanya yang mengalir. Kali ini dia tidak lagi menyembunyikan kesedihannya didepan Ara. Bagaimana pun dia berusaha kuat tetaplah dia pria lemah yang takut kehilangan.


"Kakak bicara apa sih? Kakak sudah menjadi Kakak yang baik untuk Ara. Jangan menangis lagi Kak". Celetuk Ara memaksa kan senyum mengusap sudut mata Roger "Ara kuat, karena ada mereka yang harus Ara perjuangkan". Ujar Ara tersenyum kuat, meski hatinya miris.


Roger kembali memeluk adiknya. Tuhan demi apapun Roger takkan sanggup jika Ara harus pergi meninggalkan nya. Jika bisa Roger ingin sekali melakukan negosiasi atau penawaran dengan Tuhan agar tidak mengambil Ara dari sisinya.


Wanita hamil enam bulan itu, terlihat sangat lemah kondisi tubuh yang kian hari kian menurun. Daya tahan tubuhnya juga tidak kuat lagi, sering Ara mengalami pendarahan di bagian tubuhnya jika tergores sedikit saja.


Ara kembali mengambar. Sedangkan Roger meminta izin membeli makan siang untuk dirinya.


Butiran bening berjatuhan diatas kanvas itu. Ara yang kuat kini juga tak mampu menahan gejolak dalam dadanya, dia juga ingin diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat pertumbuhan anak-anak nya nanti.


"Tuhan, kuatkan aku. Berikan aku kesempatan hidup setidaknya melihat anak-anak ku tumbuh. Aku juga masih ingin bertemu suamiku, meskipun hanya sebentar. Aku ingin memeluknya dan mengatakan bahwa aku sangat rindu. Aku tidak meminta banyak Tuhan, panjang kan usiaku sejenak".


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk.


Tiba-tiba kerongkongan Ara terasa gatal, dan dia batuk berkali-kali.


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk.


Ara turun dari ranjang untuk mengambil air putih yang terletak diatas nakas karena tidak bisa dijangkau oleh tangannya.


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk.


Ara memegang lehernya yang serasa mencekik dan juga gatal luar biasanya.


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


Ara berusaha meraih gelas yang ada diatas nakas, nafas nya sudah memburu. Kerongkongan nya kering dan gatal.


Pranggggggggggggg


Tangan Ara tak mampu menangkat gelas itu dan seketika jatuh ke lantai dan berserah.


Brakkkkkkkkkkk


"ARA".


Jovan, Jolenta dan Roger langsung berlari menghampiri Ara.


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk.


"ARA".


Ara langsung menutup matanya, untung saja Jovan dan Roger sigap menangkap tubuh Ara jika tidak maka wanita hamil itu akan terjatuh diatas pecahan gelas yang berserakkan dilantai.


"ARA". Teriak mereka.


Jolenta dengan cepat memanggil Hansel bahkan teriakkan kepanikkan pria itu tampak jelas dari wajahnya.


Untung saja tadi mereka memutuskan makan siang dirumah sakit. Kalau tidak mungkin Ara sudah tidak bisa diselamatkan.


Darah mengalir dihidung dan mulut Ara. Wajahnya tampak pucat bak mayat hidup.


Disisi lain......


Seem turun dari jet pribadi miliknya. Dia kembali ke Indonesia karena masalah perusahaan yang membuat nya menginjak kan kaki di tanah air ini.


"Kemana Tuan?". Tanya John.


"Apartement". Sahutnya dingin dan singkat.


Dia menatap kearah jendela, menikmati panas nya kota Jakarta. Sudah lebih dari enam bulan dia tidak kembali ke sini. Harusnya yang pulang adalah Kayhan, tapi pria itu tidak mau sama sekali untuk kembali ke sini.


Seem paham pada perasaan Kayhan yang pasti Indonesia adalah tempat kenangan nya bersama sang istri. Bagaimana pun tidak ada orang yang siap jika harus dihadapkan dengan masa lalu nya.


Seen menghela nafas kasar. Dia tak suka berada di negara ini, tapi bagaimana lagi urusan pekerjaan menuntutnya harus tetap menginap beberapa hari disini.


Sampai ke apartemen mewah Seem. Pria itu langsung turun tanpa menunggu John membukakan pintu untuknya.


"Pangilkan Nathan dan William".


"Baik Tuan".


Seem melepaskan jas yang menempel ditubuhnya. Dia duduk disofa sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit karena terlalu banyak hal yang dia pikirkan.


Ponsel Seem berbunyi, dengan malas dia mengangkat telponnya.


"Ada apa?". Tanyanya dingin.


"Kau dimana Kak?". Tanya suara diseberang sana.


"Indonesia". Sahutnya singkat padat dan jelas.


"Bantu aku cari Ara".


Seem tertawa sinis mendengar permohonan adiknya "Bukankah kau yang mengatakan tak ingin bertemu dan mencarinya lagi?". Ledek Seem. Suara diseberang sana terdiam "Berhenti mencarinya karena percuma kita takkan menemukannya". Lanjut Seem dingin, dia langsung mematikan ponselnya dan tak mau mendengar permohonan Kayhan.


"Maaf Kay, aku tidak akan membiarkan mu bertemu Ara lagi. Kau sudah menyakiti nya dan biarlah aku yang akan menjaganya meskipun aku juga belum menemukannya". Gumam Seem pelan.


Ya yang menelpon Seem adalah Kayhan, pria itu jungkirbalik ingin mencari keberadaan Ara. Mulutnyq yang berkata tak ingin Ara tapi hati nya menginginkan wanita itu.


Tidak lama kemudian Nathan dan William datang. Mereka memberi hormat pada Seem.


"Ada apa Kakak memanggil kami kesini?". Tanya Nathan duduk disamping Seem.


"Bagaimana perusahaan?".


Nathan menghela nafas "Ya seperti itulah. Tuan Bagaskara sengaja menarik para investor agar memutuskan kerja sama dengan kita". Sahut Nathan.


Seem tertawa sinis "Tua bangka itu ternyata tak menyerah juga".


"Bagaimana pencarian Ara?". Ujar Seem lagi.


Nathan dan William menggeleng serentak "Belum ada informasi Kak. Jejak nya saja sangat sulit dicari". Sahut William.


"Bagaimana dengan Martha?".


"Seperti dugaan kita Kak. Kalau Martha bekerjasama dengan Tuan Bagaskara". Sahut William lagi.


"Baik terus awasi dia. Aku yakin mereka sedang merencanakan sesuatu untuk gadisku". Ucap Seem. Nathan dan William saling melihat saat Seem mengatakan jika Ara adalah gadisnya.


"Iya Kak". Sahut mereka berdua.


Nathan dan William merupakan kaki tangan Seem. Jika dulu Nathan menjadi kaki tangan Kayhan, sekarang dia harus bekerja dengan Seem. Meskipun masih dipantau juga oleh Kayhan.


Bersambung.....


Kayhan ❤️ Kimara