
Jika bisa menyesal maka aku sangat menyesal, tapi ku tahu sekedar menyesal takkan mengembalikan kondisi tubuhku.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹
Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dan tumor yang efektif menyelamatkan jutaan jiwa. Namun, dibalik itu kemoterapi juga memiliki efek samping yang beragam.
Efek kemoterapi bisa berbeda-beda pada setiap orang, termasuk tingkat keparahan nya. Efek samping ini muncul karena obat-obatan tersebut memiliki tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat.
Seorang gadis tengah duduk dibrangkar rumah sakit. Didepannya ada meja kecil, dimeja itu ada kanvas dan beberapa cat untuknya mengambar diatas kanvas.
Tangan lentiknya menari dengan lihai, wajahnya tampak serius seakan tak ingin diganggu oleh siapapun.
Rambut panjang yang dulu menjadi kebanggaan nya, kini hanya kepala plontos yang terlihat polos. Kaca mata tebal minus juga bertengger dihidung mancungnya, dia yang tak pernah memakai kacamata sebelumnya diharuskan memakai benda itu.
Perutnya sudah semakin membesar, kulitnya semakin putih dan bersih. Meskipun tanpa rambut, dia tetap saja cantik apalagi aura nya sebagai Ibu hamil.
"Sayang". Tangannya terhenti dan menoleh kearah pintu masuk.
Dia tersenyum hangat dan meletakan kanvasnya.
"Bunda". Aldo langsung berlari kearah arah Ara. Dia naik keatas ranjang Ara dan memeluk wanita hamil itu "Rindu". Renggek Aldo bergelut manja dipelukkan Ara.
Ara mengelus punggung Aldo dengan sayang. Sudah beberapa hari sejak kemoterapi dia tidak bertemu dengan pria kecil yang tampan itu.
Roger dan Joana masuk mengikuti Aldo. Sedangkan Jovan dan Jolenta sibuk mengurus perusahaan dan Shella sedang mengurus pendaftaran sekolah baru Aldo.
"Bunda, Ado punya sesuatu".
"Apa sayang?". Tanya Ara melepaskan pelukkan nya pada Aldo dan membiarkan Aldo mengambil sesuatu itu.
Aldo mengambil topi dalam tas ranselnya. Topi yang dia beli untuk menutup kepala Ara.
"Ini untuk Bunda". Tunjuk Aldo dengan bangga.
Ara tersenyum "Terima kasih sayang".
"Sini, Ado pasangin". Aldo memasangkan topi itu dikepala plontos Ara.
Roger dan Joana menahan tangis, saat ini kondisi Ara setelah kemoterapi benar-benar terlihat sakit.
"Kan Bunda jadi cantik". Senyum Aldo mengembang. Ara hanya tersenyum senang.
"Ada satu lagi Bunda". Aldo menaik turunkan alisnya
"Apa sih sayang?". Ara berlagak seakan tak sabar.
"Tallllllaaaa". Aldo membuka topinya. Ara terkejut melihat Aldo yang juga botak tanpa sehelai rambut pun dikepalanya.
Ara sampai menutup mulutnya tak percaya
"Sayang".
"Ado, ingin nemanin Bunda. Jadi Bunda tidak sendilian tidak ada lambutnya. Ado juga tidak ada lambut". Seru Aldo menyeka air mata Ara.
"Sayang". Ara tak dapat berkata-kata. Dia menarik Aldo dalam pelukkannya. Memeluk pria kecil ini dengan Isak tangis. Ara terharu dengan kasih sayang Aldo padanya. Pria itu rela mencukur rambutnya agar sama dengan Ara.
"Terima kasih sayang". Isak Ara memeluk Aldo. Aldo yang polos juga menangis melihat Bunda Ara-nya menangis.
"Ado, tidak akan meninggalkan Bunda. Ado sayang Bunda". Isak Aldo juga dipelukkan Ara "Bunda, yang mana yang sakit?". Aldo melepaskan pelukkan Ara. Dia memeriksa tubuh Ara.
Ara menggeleng tapi masih terisak "Bunda tidak sakit sayang, Bunda bangga punya Ado. Terima kasih Bunda juga sayang Ado". Ucap Ara mengusap kepala pria kecil itu yang sudah tak berambut.
Roger dan Joana berusaha menahan tangisnya. Aldo sampai merenggek nangis berhari-hari agar diizinkan untuk memangkas semua rambutnya agar sama dengan Ara.
Aldo juga tak mau makan dan tidur sejak Ara di kemoterapi dan radioterapi. Ara yang sempat drop total sehingga tidak bisa berbicara sama sekali, akibat efek dari kemoterapi itu.
Mereka berdua sama-sama rapuh dan tak berdaya melihat kondisi Ara.
Sejak kemoterapi, kondisi kembali melemah. Rambutnya rontok, sering mimisan, kehilangan nafsu makan, kepala sakit luar biasa, berat badan Ara juga menurun, sering mual dan muntah darah secara terus menerus, sesak nafas dan kelainan detak jantung atau anemia. Kulit Ara juga kering dan terasa begitu perih. Pendarahan, mudah memar, gusi berdarah dan juga mimisan. Sering terkena infeksi. Sulit tidur. Tidak jarang juga Ara mengalami gangguan psikologis seperti depresi stress dan cemas.
"Ado mau tidur?". Aldo mengangguk "Sini". Aldo menurut dan berbarinh disamping Ara.
Ara menyanyikan lagu tidur untuk Aldo, dalam hitungan menit pria kecil itu memejamkan matanya dan terlelap.
Ara mengelus wajah Aldo. Air mata luruh kembali dipipinya.
"Sayang". Ara mengarahkan pandangan pada Kakaknya.
"Iya Kak". Ara menyingkir dengan pelan dari tubuh Aldo.
Ara menatap Roger dan Joana dengan senyum.
"Ra". Joana memeluk Ara dengan Isak tangis "Maafkan Kakak yang belum bisa meringankan rasa sakitmu". Tangis Joana pelan takut Aldo terbangun.
Ara mengelus punggung calon Kakak iparnya itu "Kak Nana sudah melakukan yang terbaik untuk Ara. Ara yang meminta maaf karena selalu membuat Kakak repot dan susah".
Joana melepaskan pelukannya. Hatinya berdenyut, ketika menatap wajah pucat Ara.
"Hai sayang, kalian jangan nakal diperut Mommy ya". Joana mengelus perut Ara yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Iya Aunty". Ara terkekeh membalas ucapan Joana.
Roger mendekat kearah adiknya. Dia mengelus kepala Ara yang dibalut topi itu. Musim dingin telah tiba, tubuh Ara gampang sekali drop.
"Senyum donk". Roger menarik sudut bibir Ara.
Ara menampilkan senyum manis pada Joana dan Roger. Wajah pucatnya terlihat imut dan menggemaskan.
Efek kemoterapi membuat tubuh Ara rentan terhadap rasa sakit.
Mata Ara juga infeksi dan membengkak, Aldo sempat menangis histeris mengira Ara sudah menjadi vampir karena melihat penampilan nya.
Ara juga mengalami paru-paru basah, dia harus menjalani beberapa treatment agar daya tahan tubuhnya kuat.
Gagal ginjal, setelah kemoterapi Ara menjalani cuci darah rutin. Mengingat dirinya hanya memiliki satu ginjal.
"Sayang istirahat ya". Ara sudah berbaring disamping Aldo.
Roger menyelimuti adiknya. Ara langsung terlelap bersama Aldo.
Roger dan Joana meninggalkan ruang rawat Ara. Mereka berdua tak sanggup melihat kondisi Ibu hamil itu.
"Kak". Joana memeluk Roger, dia tahu kekasihnya itu dari tadi berusaha tegar untuk menahan tangis.
"Hiks hiksssss". Roger menangis dalam pelukkan sang kekasih. Pria yang biasanya terlihat kuat dan tegas itu, kini benar-benar rapuh dan tak berdaya.
"Menangis lah Kak". Joana mengelus punggung sang kekasih. Dia juga menangis.
Mereka berdua saling bertangisan satu sama lain. Terlihat kuat ternyata menguras tenaga. Menangis juga butuh tenaga dan energi.
Roger selama ini selalu menyembunyikan kesedihannya didepan Ara. Bagaimana tidak terluka kondisi Ara sungguh membuat hati teriris. Seorang Ibu hamil yang seharusnya menikmati saat-saat mengandung buah hati, dan bahagia mengurus kehamilan. Tapi Ara diharus melawan seluruh rasa sakit ditubuhnya, agar sang bayi yang ada dalam kandungan nya bisa bertahan bersamanya. Pengorbanan Ara bukan lah sesuatu yang mudah untuk dilakukan oleh seorang wanita, yang rela mengorbankan segalanya demi bayi yang belum pernah dilihatnya.
Bukan hanya Roger yang rapuh tapi mereka yang lain juga rapuh. Shella bahkan tak mau melihat Ara, dia tak sanggup harus menahan air mata melihat wanita hamil itu harus menderita.
Jovan dan Jolenta, terus saja berusaha mencari dokter-dokter terbaik, bahkan Hansel sudah angkat tangan. Dia mengatakan bahwa kondisi Ara bisa drop tiba-tiba.
Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara