
Setelah sekian lama tersesat didunia manusia, aku baru tahu jika kematian itu ada dua. Mati dalam arti sebenarnya, dimana benar-benar hidup namun terasa mati. Untungnya aku berada didunia ikan.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹
Semilir angin malam melayangkan rambut panjangnya, kedua manusia berbeda jenis dan berbeda usia cukup jauh itu masih membisu ditempat masing-masing. Jika sang gadis sibuk menatap bintang dilangit, maka sang pria tak beralih menatap wajah cantik gadis itu.
"Sering kesini?". Tanya Seem memecahkan keheningan malam.
"Bisa setiap hari, bisa saat ada masalah. Jika setiap hari ada masalah, bisa jadi setiap hari kesini". Jawaban Ara membuat Seem terkekeh, menurut nya jawaban itu lucu.
Seem kagum pada Ara, gadis disampingnya ini sederhana bahkan hanya memakai pakaian rumahan saja terlihat begitu cantik dan mempesona. Pakaian yang dia kenakan terlihat bahwa dia gadis biasa dari golongan bawah.
"Seem". Seem mengulurkan tangan kearah Ara.
Ara menyambut nya dengan memaksakan senyum "Kimara, panggil saja Ara". Balas Ara sambil menarik tangannya kembali.
Sejenak keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Ara menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, sambil menyenderkan punggungnya dikursi taman.
"Aku tidak pernah melihatmu kesini Tuan?". Ucap Ara tanpa menoleh kearah Seem.
"Aku baru kembali dari London, sudah hampir belasan tahun tidak kembali kesini". Jawab Seem "Jangan panggil Tuan, just call me Seem". Pinta Seem yang tidak suka dipanggil Tuan oleh gadis disampingnya ini.
Ara sedikit terkekeh "Aku panggil Kakak saja, sepertinya Kakak lebih tua dariku. Tidak sopan jika aku hanya memanggil nama". Sahut Ara sambil tersenyum kearah Seem.
Seem mengangguk paham, dia mengerti pasti gadis ini dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi kesopanan.
"Sepertinya masalahmu sangat berat sampai ingin mengakhiri hidup?". Seem memincingkan matanya kearah Ara.
Ara hanya tersenyum kecut, lalu menggeleng "Tidak juga, hanya ada sedikit masalah yang membuatku sedikit kesal". Jawab Ara asal dan berbohong. Ara adalah gadis yang tertutup dan tidak mudah menceritakan masalah nya pada orang lain.
"Sudah malam, aku mau pulang duluan". Ara beranjak dari duduknya.
"Aku antar pulang". Tawar Seem yang juga ikut berdiri.
"Tidak usah, rumahku tidak jauh". Tolak Ara halus sambil berjalan.
"Dan aku tidak menerima penolakkan". Seem tak mau kalah bahkan pria itu tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah kesal Ara.
"Baiklah, baiklah". Ara mengalah dan mereka berjalan menuju mobil.
Banyak hal yang keduanya ceritakan, sebenarnyal Ara memang tipe gadis yang mudah akrab dan juga lemah lembut, hanya saja karena banyaknya masalah yang dihadapi olehnya membuat gadis itu terlihat sangat dingin. Seem sempat bertanya-tanya dalam dirinya, mengapa Ara biasa saja saat berdekatan dengannya? Bahkan gadis itu terkesan cuek dan acuh saja, tidak ada raut kagum atau terpesona saat melihat dirinya.
"Terima kasih Kak". Ara membuka pintu mobil.
"Tunggu".Seem memegang pergelangan tangan Ara "Boleh minta nomor ponselmu?". Seem menyerahkan ponselnya pada Ara.
Ara tampak berpikir dan sebelum akhirnya mengangguk lalu mengambil ponsel ditangan Seem dan menuliskan beberapa digit nomor ponselnya disana.
"Aku masuk ya Kak, Kakak hati-hati". Ucap Ara sambil turun dari mobil.
"See you next time Kimara". Balas Seem, dan melanjutkan perjalanan nya meninggalkan rumah sederhana milik Ara.
Sepanjang perjalanan Seem terus saja tersenyum sambil menyetir.
"Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa jantungku berdebar saaat didekat nya? Dan ini, kenapa aku sama sekali tidak gatal-gatal atau bahkan muntah? Apa gadis itu punya obat yang ampuh menghilangkan alergiku? Semoga kita bertemu lagi gadis kecil". Ucap Seem dengan senyum sendiri.
Mobil mewah Seem masuk kedalam kediaman keluarga Bagaskara.
Seem masuk dengan wajah sumringgah dan tak seperti biasanya.
"Darimana saja Kak?". Tanya Kayhan yang turun kedapur sambil mengambil air minum lalu bertemu dengan Kakaknya.
"Keluar". Jawab Seem cuek.
"Oh". Sahut Kayhan tak kalah cuek.
"Ada waktu, temani aku ngobrol dibalkon kamar?". Tawar Seem.
Kayhan hampir saja tersendak mendenar ucapan Kakaknya. Tidak pernah Kakaknya mau berbicara atau sekedar mengobrol dengannya.
"Boleh". Sahut Kayhan singkat.
Karena Seem menderita Gynopobia dan Misoginis akut, jadi semua pelayan yang melayani Seem adalaj pria. Bahkan di Ingrris, Seem tidak pernah memperkerjakan wanita, karena dia selalu merasa jijik jika berdekatan dengan wanita.
"Kenapa?". Tanya Kayhan sambil duduk dikursi balkon dan disusul oleh Seem sang Kakak.
"Aku merasa Gynopobia dan Misoginis ku sudah sembuh". Jawab Seem
Kayhan langsung mengarahkan pandangan pada Kakaknya, Kayhan bahkan berusaha mencerna perkataan Kakak-nya. Tentu Kayhan tahu tentang pobia Kakaknya ini.
"Kakak serius?". Tanya Kayhan menyelidik
Seem mengangguk "Tadi aku bertemu seorang gadis ditaman, dan saat berdekatan dengannya jantungku berdebar kencang rasanya ingin meloncat dari tempat nya. Bahkan saat aku memegang lengannya aku tidak merasakan aneh-aneh ditubuhku, seperti gatal atau ingin muntah. Justru aku merasakan senang". Jelas Seem sambil tersenyum membayangkan wajah cantik Ara.
Kayhan sampai tercengang melihat Kakaknya tersebut, berkali-kali pria tampan itu mengucek wajahnya sambil mematiskan apakah itu Kakaknya yang dingin itu? Atau hanya jelmaan Kakaknya?.
"Apa kau jatuh cinta padanya Kak?". Tanya Kayhan penasaran.
Seem langsung menatap Kayhan "Jatuh cinta?". Ulang Seem "Aku bahkan lupa bagaimana rasanya jatuh cinta Kay, kau tahu kan Kay bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi". Elak Seem.
Seem tak lagi merespon ucapan Kakaknya. Pria itu sibuk menghabiskan minuman dalam gelasnya dan kembali lagi pikirannya teringat pada Ara.
Ara masuk kedalam rumah, sambil memeluk lengannya.
"Dari mana saja Kak?". Tanya Mey ketus ketika melihat Ara masuk kedalam rumah.
"Cari angin sebentar". Jawab Ara singkat.
"Cari angin, atau cari uang tambahan?". Sindir Mey sambil melipat kedua tangannya didada "Ada ya katanya cari angin, eh malah pulang bersama lelaki kaya dalam mobil mewah. Apa Kakak jual diri?". Mey memincing kan matanya.
"Mey". Pekik Ara.
"Tidak perlu berteriak Kak! Apa Kakak malu karena ketahuan jual diri". Tatap Mey sinis "Mumpung Kakak habis jual diri, tolong besok lunasi semua biaya sekolahku dan jangan lupa belikan sepatu baru untukku". Mey dengan rasa tak bersalahnya meletakkan sebuah kartu ditelapak tangan Ara. Lalu Mey pergi meninggalkan Ara yang masih mematung ditempatnya.
Ara menatap punggung Mey yang menghilang dibalik pintu kamarnya. Ara merasakan kembali dadanya sesak, begitu teganya adiknya sendiri mengatakan bahwa dia menjual diri pada pria kaya.
Ara masuk kedalam kamarnya dengan kaki yang dipaksa untuk diseret, kembali lagi bekas operasi diperut Ara merasakan sakit dan sepertinya memang belum pulih sama sekali.
Ara duduk dibibir tempat tidurnya, mengambil obat didalam laci lalu meminum obat anti nyeri itu supaya rasa sakit diperutnya bisa sedikit menghilang.
Ara menengadah kan kepalanya keatas untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia lelah dan juga rapuh, ingin bercerita dan mengeluh tapi tidak tahu kepada siapa.
"Kak Roger". Tiba-tiba Ara mengingat Kakaknya itu "Besok aku akan menjengguk Kak Roger". Gumam Ara mengusap wajahnya.
Ara berbaring dikasur tipis miliknya dengan menyamping sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Gadis itu ingin terlelap dan melupakan semua rasa sakit yang dia derita dan alami.
Terkadang Ara bertanya, mengapa dia berbeda? Mengapa hidupnya seperti ini? Apakah Tuhan membencinya? Apakah Tuhan tidak tahu jika dirinya adalah gadis rapuh, gadis tak berdaya dan gadis yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
**Bersambung.....
Hai para readers pembaca setia Love Story' CEO. Yuk dukung terus ceritanya.
Maaf ya cerita ini, memang banyak mengandung bawangnya karena kehidupan Ara sangat jauh berbeda dari kehidupan gadis pada umumnya.
Tapi tenang saja akan ada masanya Ara bahagia, bersama seseorang yang akan menerima Ara apa adanya.
Siapakah dia
Kayhan?
Seem?
Nathan?
Nickho.
Yuk yang penasaran ikutin terus ya.
Salam hangat.
Kayhan ❤️ Kimara**