
Perpisahan abadi adalah kematian, kebersamaan yang semu adalah ketipastian. Kehilangan paling menyakitkan adalah saat seseorang yang menjadi bagian dari jiwa pergi untuk selamanya. Meninggalkan sejuta kenang yang membuncah seluruh raga.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Drt drt drt drt
Ponsel Ara berbunyi, segera Ara melepaskan pelukkan Martha dan mengangkat ponselnya
"Ada apa Mey?". Tanya Ara saat mengangkat ponselnya
"Kak Ara hiks, Ibu Kak hikssss". Tangis suara panik diseberang sana.
"Ibu kenapa Mey?". Tanya Ara sedikit membentak hingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian termasuk Kayhan dan Nathan yang masih setia duduk dibelakang mereka.
"Ibu kecelakaan Kak hiks, sekarang Mey sudah bawa kerumah sakit". Ara langsung mematikan ponselnya dan memasukkan kedalam tas miliknya.
"Ada apa Ra?". Tanya Martha juga panik.
"Aku harus pergi". Ara berdiri dari duduknya
"Kemana?". Ara tak menjawab dia malah berlari dengan kencang "Ara jangan lari-lari, luka mu belum sembuh". Teriak Martha khawatir melihat Ara yang berlari seperti orang gila. Ara tak lagi mendengar teriakkan Martha, yang Ara inginkan adalah segera bertemu sang Ibu.
Martha menyusul Ara, dia tidak akan mau lagi membiarkan sahabatnya itu sakit dan terluka.
Kayhan juga ikut menyusul dan bahkan Nathan juga ikut bersama Kayhan. Mereka menjadi pusat perhatian. Gosip yang beredar tentang Ara dan Kayhan sepertinya benar bahwa Kayhan dan Ara memiliki hubungan khusus.
Ara memesan taksi online, wajahnya terlihat begitu panik dan takut. Ara tidak mau jika terjadi sesuatu pada Ibunya.
"Tuhan, kumohon jangan ambil Ibu. Dia satu-satunya malaikat yang ku punya saat ini". Tanpa terasa air mata Ara jatuh dipipi manisnya.
Ara sampai kerumah sakit, setelah membayar ongkos Ara berlari dengan kencang menunju ruanh IGD.
"Mey". Panggil Ara saat melihat adiknya duduk dibangku tunggu.
"Kakak". Mey berhambur kedalam pelukkan Ara "Kak Ara hikssss". Tangis Mey pecah dipelukkan Ara.
"Apa yang terjadi Mey?". Cecar Ara melepaskan pelukkan adiknya.
Mey menggeleng kepala berusaha menghentikan tangisnya "Ibu Kak, hiksss. Ibu kecelakaan Kak hiksss". Isak Mey.
Ara seakan membeku dari duduk nya. Tanpa permisi air mata kembali berjatuhan dipipi manisnya. Ara tak berkata-kata, hatinya takut bukan main. Takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Ibu adalah segalanya untuk Ara.
"Maafkan saya Nona, saya tidak sengaja. Saya janji saya akan bertanggung jawab". Ucap seorang pria yang berdiri didepan Ara dan Mey.
Ara mengangkat pandangan nya menatap marah kearah pria itu. Sang pria malah membeku dan terpesona dengan kecantikan Ara.
Ara tak bergeming dia tidak peduli dengan ucapan pria itu.
"Ra". Martha datang bersama Kayhan, Nathan dan Cody.
"Ta". Ara langsung memeluk Martha dengan Isak tangisnya "Ta, Ibu Ta hiks hiks". Tangis Ara menggema diruang tunggu.
Sang pria yang tak sengaja menabrak Wati merasa sangat bersalah. Sumpah demi apapun dia tidak sengaja.
Martha mengelus punggung Ara "Ibu pasti baik-baik saja Ra". Martha berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Kayhan menatap Ara dengan sendu, ingin dia berlari memeluk tubuh Ara, menstranfer kekuatan pada gadis itu tapi gengsinya terlalu kuat. Apalagi saat mendengar ucapan Ara yang tidak ingin memliki hubungan dengan nya, membuat hatinya terkoyak dan terluka.
Nickho keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter tampan itu tampak lesu dengan wajah sendunya.
Ara langsung berlari kearah Nickho "Kak bagaimana, keadaan Ibu? Apa ibu baik-baik saja?". Cecar Ara, terlihat sekali wajah gadis itu takut dan juga khawatir.
"Kak, jawab". Desak Ara yang melihat Nickho terdiam sambil menunduk dan menggeleng kepala.
Nickho menatap Ara dengan kasihan, Tuhan rasanya Nickho tidak ingin mengatakan hal ini dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ara.
"Kak, jawab aku, hikssss. Jangan diam saja Kak". Ara bahkan memegang lengan Nickho yang dari tadi hanya bisa terdiam.
"Ra, Ibu......".
"Kak, Ibu kenapa?". Tanya Ara dengan Isak tangis yang tak bisa dia tahan.
"Kita kehilangan Ibu Ra". Jawaban Nickho langsung membuat Ara membeku ditempatnya, tangis yang tadinya menggema hening seketika. Hanya air mata berjatuhan tanpa suara yang keluar menetes dengan deras.
Seluruh pasokkan udara di paru-paru Ara, serasa menepis. Jantung yang tadinya memompa begitu cepat, kini terdiam tak bergerak. Seluruh tubuh Ara mati rasa, bahkan telinga Ara tak bisa mendengar siapapun yang ada disampingnya.
"Ibu". Teriak Mey, menggema dan langsung berlari masuk kedalam ruangan Wati.
"Ra". Ara masih terdiam, dunianya seketika gelap gulita, bahkan awan-awan yang tadinya cerah kini mendung seakan ingin turunnya hujan.
Kayhan maju, dan menarik Ara dalam pelukkannya bahkan dia sudah tak peduli lagi dengan Nickho dan Nathan. Kayhan juga mengesampingkan egonya, dirinya tak tega melihat gadis special itu tenggelam dalam kehilangan.
"Ibu". Suara Ara masih tercekat.
Sedangkan Martha sudah masuk kedalam ruang Wati, gadis itu juga menangis histeris. Bagi Martha orangtua Ara sudah seperti orangtuanya sendiri.
"Menangislah". Kayhan memeluk Ara dengan erat, bahkan sesekali pria itu mengecup pucuk kepala Ara, berusaha menenangkan gadis ini.
"Ibu". Teriak Ara terdengar mengema.
"Hiks, hiks hiks". Tanpa sadar tangan Ara malah melingkar ditubuh Kayhan. Pelukkan Kayhan benar-benar terasa nyaman dan hangat, bahkan Ara tak menyadari siapa yang dipeluk nya.
"Ibu, hiks hiks hiks". Tangis Ara masih menggema bahkan dengan begitu histeris.
Nathan dan Nickho tak sanggup melihat permandangan itu dan mereka memilih masuk kedalam ruang Wati.
Kayhan semakin memeluk Ara dengan erat, bahkan pria itu ikut menangis.
"Aku akan selalu ada untuk mu". Ucap Kayhan yang masih setia memeluk Ara, membenamkan wajah gadis itu didada bidang miliknya. Kayhan merasakan perih dihatinya, saat melihat tangis Ara yang kian menggema bahkan gadis itu tak peduli lagi dengan siapa yang dia peluk.
Ara melepaskan pelukkannya, sepertinya Ara baru sadar siapa yang dipeluknya ini.
"Maaf Tuan". Ara menyeka air matanya.
"Its okey. Ayo". Kayhan merangkul bahu Ara yang tingginya hanya sampai dada itu.
Ara dan Kayhan masuk, disana suara Isak Mey dan Martha masih terdengar keras.
Kayhan menuntun Ara menghampiri brangkar Wati. Ara menatap wajah sang Ibu, baru saja satu Minggu lebih Ayahnya pergi, kini disusul oleh sang Ibu.
Ara menggeleng tak percaya, bukankah tadi pagi Ibu nya menyiapkan sarapan untuknya? Bahkan wanita paruh baya itu terlihat biasa saja dan wajahnya berseri, seakan takkan pergi meninggalkannya?
Kini, wanita itu terbaring dengan wajah pucat. Matanya tertutup dengan rapat, seluruh tubuhnya dingin bak es batu dalam kulkas.
Ara meraba wajah Wati, lagi dan lagi air matanya mengalir dengan deras. Wajah yang selalu menyambut paginya, wajah yang selalu memeluknya, dan wajah yang terluka saat dirinya sakit kini hanya bisa terbaring kaku dengan wajah pucat tanpa darah.
**Bersambung.........
Salam hangat.
Kayhan ❤️ Kimara**.