Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 156. Maafkan Papi dan Mami



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Ara dan Jovan melepaskan pelukkan Aldo. Setelah pria kecil itu sedikit tenang. Tangis Aldo juga sudah mereda.


Ara menghapus air mata Aldo dengan tangan lembutnya. Dia juga memperbaiki rambut Aldo yang terlihat berantakan.


"Bunda". Renggek Aldo.


"Duduk dulu yuk sayang". Ara menuntun Aldo duduk disoffa. Sementara Jovan tersenyum hangat. Ara memang obat paling manjur untuk Aldo.


Seem dan Shella hanya bisa melihat. Meski pun didalam hati mereka ingin sekali memeluk putranya itu, menangis sejadi-jadinya mengungkap seribu maaf.


"Boleh Bunda bicara sama Ado". Ara berjongkok didepan Aldo dia setengah berlutut menatap putra angkatnya itu.


Aldo mengangguk dengan polos tapi masih segugukan "Boleh Bunda". Sahut Aldo masih terisak. Ara tersenyum gemes. Sungguh Aldo terlihat imut jika menangis sambil memaksakan senyum.


"Ado sayang Mami?". Aldo mengangguk masih terisak.


"Ado sayang Papi?". Sejenak Aldo terdiam. Lalu menggeleng. Hati Seem kembali teriris. Kenapa sakit sekali?


"Kenapa?". Tanya Ara lembut. Dia mengenggam tangan Aldo.


"Papi tinggalin Ado Bunda. Papi yang tidak sayang Ado". Adu Aldo manja menatap wanita cantik didepannya ini.


Ara tersenyum hangat. Dia mencoba memahami perasaan putra angkatnya. Dia paham Aldo memang pria kecil yang begitu sensitif. Sedikit saja tersakiti maka dia akan menaruh dendam pada orang itu.


"Boleh Bunda cerita tentang masa lalu Bunda?". Aldo mengangguk dengan cepat.


"Ado tahu tidak, Ayah nya Bunda itu meninggal setelah satu bulan Bunda selesai di operasi. Lalu Ibu nya Bunda, meninggal selang satu Minggu Ayah Bunda meninggal. Setelah itu adik Bunda, juga meninggal dibulan dan tahun yang sama". Ujar Ara "Apa Ado tahu perasaan Bunda? Bunda merasakan sakit. Kecewa. Marah. Kehilangan. Bunda, tidak terima mereka pergi meninggalkan Bunda. Bunda sangat ingin sekali bertemu Ayah Bunda, memeluk nya menceritakan semua yang Bunda rasakan. Bunda ingin merasakan betapa bahagianya punya Ayah. Bunda ingin seperti orang lain. Bunda pernah berpikir mengakhiri hidup Bunda agar bisa bertemu Ayah nya Bunda". Ara menyeka air matanya.


Aldo menggeleng "Bunda jangan nangis". Secepatnya Aldo menghapus air mata Ara.


"Ado tahu, Bunda rinduuuuuu sekali dengan Ayah-nya Bunda. Jika diberi kesempatan Bunda ingin melihat wajahnya. Sekali saja, melepaskan semua kerinduan yang Bunda tahan selama ini. Bunda ingin mengadu padanya, mengadu bahwa Bunda tidak sanggup hidup tanpanya. Tapi Bunda sadar, yang sudah pergi tidak mungkin bisa kembali lagi. Dia sudah bahagia disana". Ujar Ara menahan air matanya. Aldo segera menyeka air mata wanita itu.


Ara mengenggam tangan Aldo "Harusnya Ado bersyukur, karena diberikan kesempatan untuk bisa bertemu Papi. Ado harus bersyukur, masih punya kesempatan untuk hidup dengan orangtua lengkap. Coba Ado jadi Bunda, Bunda sendirian tidak ada orangtua, tidak ada suami. Tapi Bunda, selalu bersyukur karena Bunda punya Ado, Ayah, Naro, Zero, Zeno, Nara dan Mami. Bunda sudah bahagia memiliki kalian. Tapi Bunda akan lebih bahagia kalau Ado mau maafin Papi sama Mami". Ucap Ara lembut menatap putra angkatnya penuh harap.


"Hiksss maafin Ado Bunda". Pria kecil itu kembali memeluk Ara dengan isakkan tangis. Benar kata Ara harusnya dia bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bisa bertemu kembali dengan Ayah kandungnya.


Ara melepaskan pelukkanya "Ado mau kan maafin Papi sama Mami?". Aldo mengangguk sambil mengusap air matanya "Apa Ado terpaksa? Hanya karena Bunda suruh?". Cecar Ara lagi.


Aldo menggeleng "Bunda, benar harusnya Ado bersyukur masih punya Papi dan Mami. Sedangkan Bunda tidak punya siapa-siapa, tapi masih bahagia dan bersyukur". Ara tersenyum.


Cupppppppppppppppp


"Ado sayang Bunda". Aldo mengecup pipi wanita itu. Membuat Ara terkekeh geli.


"Senyum donkkkk". Ara menarik sudut bibir Aldo.


"Ini Ado sudah senyum Bunda". Ucap Aldo samv tersenyum.


"Sekarang Ado, minta maaf sama Mami dan Papi". Aldo mengangguk.


"Mami". Aldo berhambur memeluk Shella.


"Ado". Tangis Shella pecah. Dia sungguh takut jika putranya ini membencinya. Aldo segalanya untuk Shella.


"Maafin Ado Mami". Ucap Aldo menangis lagi dipelukkan Mami-nya.


"Jangan nangis lagi. Nanti Bunda Ara-nya juga nangis". Celetuk Shella. Mendengar nama Ara, Aldo segera menghapus air matanya. Dia menoleh kearah Ara dan tersenyum pada wanita cantik yang dia panggil Bunda itu.


Aldo beralih pada Seem yang sedari tadi menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Papi".


Hati Seem menghangat ketika Ado memanggilnya Papi untuk pertama kali. Tuhan sesenang ini rupanya menjadi seorang Ayah?


"Ado".


Kedua pria berbeda usia itu saling tangis-tangisan. Mereka meluapkan kerinduan yang selama ini terpendam. Sepuluh tahun Seem membiarkan putranya tumbuh tanpa kasih sayangnya. Hari ini dia diberikan kesempatan untuk memeluk darah dagingnya.


"Maafkan Papi Son". Tangis Seem kembali pecah memeluk putranya dengan isakkan tangis yang menggema.


"Maafin Ado Papi". Ucap Aldo juga. Dia tidak bisa berbohong bahwa dia merindukan pelukkan ini. Meski Jovan selalu menjadi Ayah siaga untuknya, tapi tetap saja ada perbedaan yang Aldo rasakan.


"Papi sayang Ado".


"Ado juga sayang Papi".


Cukup lama Ayah dan anak yang terpisah sejak lahir itu saling tangis-tangisan. Mereka benar-benar meluapkan semua emosi yang mengendap.


"Kak Shella, ayo peluk". Suruh Ara setengah berbisik sambil mempraktekkan dengan kedua tangannya


Shella menggeleng malu. Bagaimana mungkin dia memeluk Seem dan Aldo secara bersamaan. Bagaimana pun dia masih canggung bersama Seem. Meski sudah memiliki anak, tapi mereka bukan pasangan suami istri. Aldo hanya hasil dari kesalahan satu malam, sehingga menghadirkan putra tampan itu.


"Ado, peluk Papi sama Mami sama-sama". Suruh Ara.


"Iya Bunda".


"Mami sini". Aldo melambaikan tangannya.


Mau tidak mau Shella menurut saja. Shella benar-benar merasa canggung. Berbeda dengan Seem yang biasa saja. Dia bahagia bisa memeluk kedua orang ini. Meski dia belum memiliki perasaan apapun pada Shella tapi dia akan bertanggung jawab terhadap Ibu dari anaknya itu.


Berbeda dengan Shella yang menahan gugup. Entahlah, mungkin dia sudah jatuh cinta pada pria dingin ini sejak sepuluh tahun lalu. Jantungnya berdegup kencang ketika kulitnya dan kulit Seem bersentuhan.


John akhirnya bernafas lega, Tuan dinginnya yang selama ini tidak tersentuh. Telah menemukan kebahagiaan dan kedua orang yang dia cari selama sepuluh tahun. John berharap ini adalah awal dari kebahagiaan Seem. Sehingga pria itu juga bisa melupakan Ara


Aldo melepaskan pelukkan kedua orangtuanya. Dia tersenyum hangat.


Cupppppppppppppppp


Cupppppppppppppppp


Aldo mencium pipi kedua orangtuanya secara bergantian.


Seem kembali berkaca-kaca. Dia benar-benar merasakan kehangatan luar biasa ketika Aldo menciumnya. Beginikah rasanya menjadi seorang Ayah?


Sementara Shella tersenyum simpul. Dia mengacak rambut Aldo dengan gemes. Sekarang Aldo jauh lebih baik. Biasanya dia tidak mau mencium Shella karena beranggapan dia sudah besar. Dia hanya mau mencium Ara, karena bagi Aldo dia tetaplah anak kecil bagi Ara.


Bersambung....


Kayhan ❤️ Kimara