
**Maaf adalah caraku mengungkapkan rasa menyesal dan bersalah. Aku tak dapat lagi memperbaiki kesalahanku, tapi aku berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹**
Kayhan, Nathan, Martha dan Cody langsung membawa Ara kerumah, sepanjang perjalanan Martha terus saja menangis menatap wajah sahabatnya dalam pelukkan Kayhan.
Sedangkan Kayhan, hanya mampu terdiam membisu sambil memeluk Ara dengan erat. Rasa bersalah kian menusuk hati pria dingin itu.
Sementara Nathan sudah tak mampu bersuara, seakan seluruh tubuhnya mati rasa. Pria yang biasanya terlihat berkarisma itu kini hanya bisa menunduk dnegan dan buncahan rasa bersalah yang mulai meledak dihatinya. Nathan yang paling banyak membentak Ara dan bahkan bodohnya dia tidak mencari kebenaran nya sebelum memecat Ara.
Sampai dirumah sakit, Nathan langsung membuka kan Kayhan pintu mobil, dan Kayhan langsung berlari.
"Dokter, Suster". Teriak Kayhan menggema sambil berlari membawa Ara dalam pelukkannya. Bahkan pria itu tak memperdulikan tatapan terkejut dari para pasien dan pengunjung pasien dirumah sakit miliknya.
Nickho yang kebetulan sedang mengawasi para dokter yang bertugas di IGD, sontak terkejut dengan teriakkan Kayhan, sepupunya.
"Ada apa Kau?". Tanya Nickho saat melihat sepupunya itu berlari sambil mengendong seorang wanita didalam pelukkannya.
"Tolong dia Nickho". Ucap Kayhan dengan nafas memburu
"Siap......". Mata Nickho terbelalak saat melihat siapa yang ada digendongan Kayhan "Ara". Pekik Nickho refleks berteriak "Cepat siapkan ruang operasi". Teriak Nickho pada para dokter yang ada di IGD.
"Baik Dok".
"Cepat bawa Kayhan". Teriak Nickho sambil menarik tangan Kayhan berjalan menuju ruang operasi.
Nickho panik bukan main, apalagi saat melihat wajah pucat Ara. Gadis yang sudah diam-diam masuk kedalam hatinya itu. Nickho tidak ingin terjadi sesuatu pada Ara. Nickho ingin Ara sembuh, dia sangat menyanyangi gadis itu. Gadis sederhana dengan sifat sopan dan tidak banyak bicara seperti gadis pada umumnya.
Diluar ruang operasi tampak Kayhan, Nathan, Martha dan Cody sedang menunggu. Kayhan terlihat begitu panik dan bahkan dia tidak bisa duduk dengan tenang, dia terus saja mondar mandir didepan ruang operasi seperti orang yang sedang menunggu antrian.
"Maafkan aku Ara, maaf". Batin Kayhan.
Kayhan tak mengerti dengan perasaannya dan ini pertama kalinya dia merasakan takut luar biasa, apalagi ketakutan nya adalah saat melihat wajah gadis asing yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Namun, saat melihat Ara menangis, entah kenapa dada Kayhan serasa sesak dan sakit. Dia tidak tahu penderitaan gadis itu dan Kayhan menyesal karena tidak mendengar kan kata Asisstennya untuk mencari tahu kenapa Ara sampai terlambat dan tidak masuk?
"Argghhhh". Kayhan memukul dinding hingga tangannya mengeluarkan darah, tapi Kayhan sama sekali tak peduli dan saat ini perasaannya tengah kalut.
Wati, Mey dan Roger tampak berjalan tergesa-gesa, ketiga orang itu baru saja mendapat informasi dari sahabat Ara yaitu Martha yang mengatakan bahwa Ara masuk rumah sakit.
"Bibi, hikssss". Martha langsung memeluk Wati dengan Isak tangisnya. Martha benar-benar merasa bersalah, serapuh itu sahabatnya tapi dia tidak tahu sama sekali.
"Apa yang terjadi pada Ara Nak?". Tanya Wati berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu hampir mati jantungan saat mendengar kabar bahwa Ara dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tanpa sadar dan hal itu mengingatkan nya pada almarhum sang suami yang juga meninggal dengan cara yang sama.
"Maafkan Atta bby, hiksss". Tangis Martha "Atta tidak tahu jika Ara sakit, Atta jahat sama Ara, hiksss". Ucap Martha dengan segugukan.
"Sudah Nak, jangan menyalahkan dirimu". Wati mengelus kepala Martha.
Sementara Mey terus saja berjalan mondar-mandir, seperti Kayhan. Bahkan gadis berusia 15 tahun itu dari tadi sudah menangis, karena dia takut jika sampai terjadi sesuatu pada Kakaknya.
Roger, hanya bisa duduk dengan menunduk. Saat mendengar adiknya masuk rumah sakit, entah kenapa dia sangat khawatir dan panik. Roger teringat bagaimana dia sudah jahat pada adiknya itu. Adik yang seharusnya dia lindungi, adik yang seharusnya bersandar padanya harus berjuang sendiri tanpa dirinya. Dirinya yang terlalu terlena dengan uang dan kenikmatan dunia.
"Maafkan Kakak Ra. Maafkan Kakak, Kakak bukan Kakak terbaik untukmu dan Kakak adalah orang jahat yang tidak pantas menjadi Kakak mu, hiks". Batin Roger bahkan pria itu menutup kedua wajahnya dan dia tidak mau kelihatan menangis.
Didalam ruang operasi, Nickho benar-benar tak habis pikir. Bagaimana mungkin luka bekas operasi Ara mengeluarkan nanah dan darah, hingga membuat infeksi di bagian perutnya? Entah apa yang dikerjakan gadis ini sehingga hal sefatal ini bisa terjadi.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan Ra? Apa selama ini kau memaksa dirimu bekerja?". Batin Nickho sambil menatap wajah cantik gadis itu.
Wajah pucat yang tetap cantik tanpa polesan make up. Nickho tersenyum meraba wajah Ara. Gadis ini, sangat sederhana dan rendah hati. Nickho sangat tahu bagaimana kerasnya hidup Ara.
"Nickho, bagaimana keadaannya?". Cecar Kayhan tak sabar.
Nickho menyelidiki wajah Kayhan, keningnya berkerut melihat sepupunya itu tampak khawatir.
"Ikut aku ke ruangan". Ajak Nickho.
Nathan dan Kayhan mengikuti Nickho keruangannya. Sedangkan Martha, Wati, Mey dan Roger masuk kedalam ruang Ara, sebelum dipindahkan keruang rawat inap.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kalian bisa membawa Ara kesini?". Tanya Nickho menyelidik wajah kedua sahabatnya itu.
Ya Kayhan, Nathan dan Nickho adalah sahabat dekat, selain mereka memiliki ikatan keluarga. Mereka bertiga juga menjalin persahabatan sejak kecil dan bahkan ketiganya seusia hanya beda beberapa bulan saja.
"Dia karyawan ku dikantor". Sahut Kayhan.
"Apa kalian tahu, penyakit Ara?". Tanya Nickho.
Kedua pria itu mengangguk dengan bersamaan.
"Dia pernah di operasi satu bulan yang lalu, dan kalian tahu luka operasinya infeksi sehingga mengeluarkan nanah dan darah". Jelas Nickho yang membuat kedua orang itu menatap Nickho.
"Apa maksudmu?". Tanya Kayhan.
"Dia tidak boleh beraktivitas berat, karena aktivitas beratnya membuat luka bekas operasi itu kembali mengangga, apalagi naik motor itu sangat berbahaya". Kayhan dan Nathan tercegang mendengar penjelasan Nickho. Sumpah demi apapun mereka tidak tahu tentang Ara.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada Ara, kenapa dia bisa pingsan dan kenapa dia bisa bersama kalian?". Cecar Nickho.
Kayhan menarik nafas dalam lalu menceritakan semuanya pada Nickho. Tanpa ada yang ditutupi, apalagi ditambah atau dikurang. Semua dijelaskan oleh Kayhan secara detail.
Nickho mengeraskan rahangnya saat mendengar cerita Kayhan. Tangannya terkepal dan wajahnya memerah menahan emosi. Nickho langsung berdiri dari duduknya.
"Brengsekkkkkk".
Brugh brugh brugh brugh
Nickho memukul kedua pria yang ada didepannya itu, sehingga sudut bibir mereke mengeluarkan darah segar.
"Dasar pria-pria brengsekkkk. Apa kalian berdua tahu bagaimana hidup Ara, ha?". Bentak Nickho emosi "Dia sudah cukup menderita dengan hidupnya, dia sudah terlalu lelah. Baru saja Ayahnya meninggal dan sekarang dia harus masuk rumah sakit gara-gara kalian". Teriak Nickho menggema "Jika sampai terjadi sesuatu pada Ara, aku tidak akan memaafkan kalian berdua". Ancam Nickho.
Brakkkkkkkkkkk
Nickho meninggalkan ruangannya dengan wajah emosi. Dia tidak habis pikir, dengan kedua sahabatnya. Hanya karena terlambat menghukum orang membersihkan puluhan toilet dan menaiki belasan tangga, sementara orang yang mereka hukum itu adalah seorang gadis yang baru saja selesai operasi. Entah dimana hati nurani mereka?
Kayhan hanya bisa diam dan menunduk, sakit diwajahnya tidak sebanding dengan penderitaan Ara. Pantas saja gadis itu selalu memegang perutnya dan berjalan sambil kaki diseret dengan paksa.
Sedangkan Nathan sudah menangis dengan penyesalannya, bagaimana mungkin dia bisa menyakiti gadis sebaik Ara? Gadis sederhana yang tak pernah tergoda dengan ketampanannya. Bahkan Ara satu-satunya gadis yang tidak tertarik dengan Nathan.
"Maafkan aku Ra". Lirih Nathan merasa sangat bersalah.
**Bersambung..............
Salam hangat
Kayhan ❤️ Kimara**