
Happy Reading đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—
Bagaskara, William dan Nathan tengah berkumpul diruang kerja milik Bagaskara. Meski sudah tak mampu bekerja namun Bagaskara tetap memantau perusahaannya yang dipimpin oleh Nathan.
“Bagaimana Will apa sudah ada jejak tentang Ara?”. Kali ini Bagaskara berharap banyak jika Ara bisa ditemukan sekali saja.
“Belum Grandfa. William sudah berusaha mencari tahu. Namun tetap saja keberadaan Ara sulit dilacak”. Jawab William.
Wajah Bagaskara langsung sendu. Kesedihan tergambar jelas di wajah tua itu. Dia ingin bertemu Ara.
“Grandfa tenang saja. Kami berdua akan terus mencari keberadaan Ara”. Ujar William mengelus lengan tua itu.
“Grandfa ingin meminta maaf sebelum Grandfa pergi”. Lirih Bagaskara “Grandfa menyesal sudah menyakiti Ara, jika bukan karena dendam masa lalu Grandfa tidak akan sejahat ini pada Ara”.
“Dendam masa lalu?”. Beo Nathan dan William mereka berdua saling melihat.
Flashback on.
“Honey aku mohon jangan tinggalkan aku”. Seorang pria berlutut dikaki sang wanita, berharap wanita yang tengah mengendong bayi dalam pelukkannya tidak meninggalkannya.
“Tidak, apa lagi yang bisa aku harapkan dari pria miskin sepertimu”. Wanita itu menghempaskan tangan pria yang memeluk kakinya dengan erat “Jangan sentuh aku dengan tangan miskin mu itu”. Dia menendang pria itu hingga tersungkur ke lantai.
“Daddy”.
Bagaskara yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat apa yang dilakukan Mommy nya pada sang Ayah.
“Dad”. Bagaskara membantu pria paruh baya itu berdiri. Dia berusia dua puluh tahun.
“Apa yang kau lakukan?”. Tatap Bagaskara tajam dia menatap benci kearah wanita yang masih memeluk seorang bayi dalam pelukkanya. Itu bukan adiknya, karena bukan anak dari Ayahnya. Tapi anak dari selingkuhan sang Ibu.
“Kenapa?”. Tanya wanita itu menatap Bagaskara dengan tajam “Kau dan Ayahmu sama saja. Sama-sama miskin”. Ledek wanita itu menatap Bagaskara dan Ayahnya.
Tangan Bagaskara terkepa dengan erat “Dasar jalang”. Teriak Bagaskara.
Plakkkkkkkkkkkkkkkk
Satu tamparan mendarat dipipi Bagaskara, bahkan sampai luka dan mengeluarkan darah disudut bibirnya.
“Son”. Sang Ayah menatap kasihan pada putranya.
Rahang Bagaskara mengeras ketiga sang Ibu menamparnya dengan sangat keras. Bahkan jari wanita itu menepel dipipinya.
“Brengsekkkkkkkk”. Pekik Bagaskara menatap waniat itu dengan tajam. Jika saja bukan Ibunya Bagaskara pasti sudah memberi perhitungan pada waniat itu.
“Dasar anak tidak tahu terima kasih. Masih bersyukur aku mau menerima Ayahmu dan merawat anak haram sepertimu”.
Deg
Bagaskara terdiam mematung. Bagaimana mungkin Ibunya tega mengatakan dia anak haram didepannya sendiri.
“Apa maksudmu?”.
“Hahha. Kau pasti tidak tahu kan jika aku ini bukan Ibumu?”. Ejek wanita itu “Kau adalah anak yang dilahirkan dari Rahim seorang pelacur. Seharusnya kau bersyukur karena aku masih mau merawat dan membesarkanmu”. Tungkas wanita itu lagi.
“Sudahlah, aku tidak mau lagi bersama pria miskin seperti kalian. Mulai sekarang aku dan kamu bukan lagi pasangan suami istri”. Wanita itu menatap kearah suaminya yang berdiri disamping Bagaskara.
Pria paruh baya itu menggeleng tidak mau “Tidak Santy. Aku tidak mau berpisah darimu”. Tolak pria itu.
“Lepaskan dia Dad. Biarkan dia pergi bersama anak haramnya”. Ucap Bagaskara
“Son?”.
“Aku masih mampu menghidupimu. Tenang saja, kita tidak akan rugi kehilangan wanita ****** sepertinya”.
“Jaga ucapanmu”. Pekik wanita itu.
“Kenapa? Apa ucapanku salah? Bukankah benar kau ******? Bagaimana mungkin wanita bersuami memiliki anak yang bukan darah daging suaminya sendiri. Apa itu bukan ****** namanya?”. Ledek Bagaskara.
Wanita itu mengepalkan tangannya dengan erat. Sedangkan bayi dalam gendongannya menangis mendengar teriakkan orang dewasa yang membuat telinganya serasa sakit.
Wanita itu melenggang pergi dengan menyeret koper dan mengendong bayinya. Entah kemana akan perginya wanita itu.
Sedangkan Bagaskara terduduk disoffa. Dia masih tak menyangka jika dirinya anak haram dari seorang wanita pelacur.
“Son?”.
“Jelaskan padaku Dad?”. Lirih Bagaskara menatap Ayahnya.
Pria paruh baya itu menghela nafas berat. Ini adalah rahasia yang sebenarnya tak ingin dia jelaskan pada putra semata wayangnya itu. Namun Bagaskara sudah terlanjur tahu, jadi mau tidak mau dia harus menjelaskan pada putranya.
“Ibu mu seorang wanita malam. Dulu Daddy sering membokingnya untuk menghabiskan malam. Hingga suatu hari Daddy tidak mengunakan pengaman dan membuat Ibu mu hamil. Lalu Daddy ingin menikahinya, tapi Kakek mu tidak mau memiliki menantu seorang pelacur. Setelah kamu lahir, kamu diserahkan pada Daddy, sedangkan Ibumu dibunuh oleh Santy karena dia ingin menikah dengan Daddy”. Jelas pria itu “Ibu mu meninggal dalam keadaan mengenaskan, kepala dan tubuh terpisah, bahkan tangan dan kakinya tidak ditemukan”.
Bagaskara bagai ditusuk benda tajam ketika mendengar penuturan Ayahnya “Lalu kenapa Daddy tidak membalaskan dendam Mommy. Dan membiarkan begitu saja orang-orang yang sudah membunuh Mommy?”.
“Maafkan Daddy Son. Daddy mu hanya pria biasa, Daddy dipaksa menikah dengan Santy, Ibu tirimu. Kakek mu juga tak memberi Daddy izin untuk membalaskn dendam. Sehingga Daddy menerima apa yang Kakek mu ucapkan”.
Bagaskara tak habis pikir. Ada orang sekejam itu membunuh orang seperti Mafia. Apa yang ada dipikiran mereka? Apa karena Ibunya seorang pelacur? Apakah pelacur tidak layak di perlakukan dengan baik oleh orang lain, bukan kah pelacur juga manusia biasa? Bukanha pelacur juga bisa bertobat.
“Maafkan Daddy Son”. Pria paruh baya itu menggenggam tangan putranya “Daddy, mohon jangan balas dendam. Ikhlaskan saja semua yang terjadi. Biarkan kita hidup dengan tenang tanpa ada rasa dendam”. Ucap sang Ayah.
Bagaskara menatap Ayahnya tak percay “Tidak Dad, aku tidak akan membiarkan perempuan ****** itu hidup bahagia. Aku akan membalaskan dendamnya sampai kepada anak dan cucunya. Bahkan sampai keturunan terakhir”. Tegas Bagaskara.
Sang Ayah menggeleng, dia tidak mau jika putranya hidup dalam dendam “Jangan Son. Daddy mohon, jangan balas dendam”.
Bagaskara berdiri “Aku tidak peduli Dad. Aku tidak akan hidup tenang jika belum membalaskan dendam Mommy. Mau Daddy setuju atau tidak aku akan membalaskan dendamku. Aku akan mencari keturunan wanita ular itu. Aku juga akan melenyapkan bayinya”.
Sang Ayah kembali menggeleng “Tidak Son. Tidak”. Ucapnya penuh permohonan.
Bagaskara tak menjawab dia melengang pergi dari sana. Tanganya masih terkepal menahan emosi. Dia tidak akan membiarkan siapa yang menghancurkannya hidup dengan tenang. Mereka harus merasakan bagaiamana rasanya kehilangan dan perpisahan.
Yang membuat Bagaskara murka, Ibu nya dibunuh dengan begitu sadis. Dia saja belum pernah melihat wajah sang Ibu, dia saja belum pernah merasakan pelukkan sang Ibu. Bagaimana mungkin Bagaskara akan membiarkan orang-orang itu, hidup tenang dan bahagia. Mereka harus merasakan bagaimana sakitnya kehilangan. Itulah ambisi Bagaskara.
Bersambung.....
Kayhan ❤️ Kimara