
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹
Roger, Jovan, Jolenta dan Nickho tampak serius dengan pembicaraan mereka.
“Dugaanku benar bahwa Bagaskara mengikutimu”. Celetuk Roger menatap Nickho.
Nickho menarik nafas dalam “Kau benar!!”. Sahut Nickho “Aku tidak mengerti entah apa yang ada dipikiran pria tua itu”. Timpal Nickho lagi sambil memijit pelipis nya yang terasa berdenyut karena memikirkan Kakek nya yang tak pernah berhenti mengusik Ara.
“Ger, apa Bagaskara punya dendam masa lalu pada keluargamu? Aku tidak yakin jika hanya karena Ara tidak memiliki keturunan yang membuat Bagaskara sangat ingin menyingkirkan Ara”. Ucap Jolenta menimpali
“Aku tidak tahu pasti. Dimasa lalu aku dan Ara tidak sedekat ini, jadi aku tidak tahu apa saja yang terjadi pada Ara dan keluargaku”. Jawab Roger
“Kita harus selidiki semua ini. Jangan sampai Bagaskar mencelakai Ara lagi”. Sambung Jovan.
“Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?”. Ujar Nickho.
“Nick, sebaiknya kau kembali ke Australia. Masalah Ara biar kami yang mengurusnya. Karena jika kau terus berada disini, maka Bagaskara akan lebih muda menemukan Ara”. Saran Roger. Jolenta dan Jovan mengangguk setuju.
“Benar Nick”. Ucap Jovan menimpali.
“Baiklah. Aku akan segera mengurus kepulanganku”. Ucap Nickho “Kalian jaga Ara dan Quardruplets KM dengan baik”. Tandas Nickho.
“Tenanglah, kami akan menjaganya”. Ketus Jovan tidak suka. Jovan baru tahu jika dokter itu menyukai Ara juga. Walau perasaannya pada Ara sebatas adik Kakak tapi tetap saja, Jovan tidak suka jika Nickho mencemaskan Ara secara berlebihan.
“Kapan kau akan kembali?”. Tanya Roger mengalihkan pembicaraan.
“Mungkin hari ini, aku tidak mau jika Kakek menemukanku”. Nickho berdiri dari duduknya “Ayo, aku ingin menemui Ara sebelum pulang”. Ajak Nickho.
Jolenta menjalankan mobilnya menuju kediaman keluarga Van Derg. Keempat pria tampan itu focus pada pikirannya masing-masing.
“Bagaskara sudah sampai ke bandara”. Kata Jolenta memecahkan keheningan.
“Ayo, jalankan mobilnya Jo”. Desak Jovan. Dia mulai panic jika Bagaskara menemukan Ara, ini akan berbahaya. Meski Ayahnya orang berkuasa di Belanda tapi Bagaskara lebih berkuasa dimana-mana. Mereka akan sulit melawan pria tua itu.
Jolenta mempercepat kelajuan mobilnya. Mereka berempat tampak panic. Jovan menungaskan para pengawal untuk menjaga rumahnya dengan ketat jangan sampai membiarkan orang yang tidak mereka kenal masuk.
Sampai dikediaman Van Derg, mereka berempat langsung turun tanpa membalas sapaan para pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Objek yang ingin ditemui Nickho adalah Ara, jantungnya berdebar hebat takut jika Bagaskara menemukan keberadaannya dan menyakiti Ara.
“Ara”.
Ara yang tengah mengambil dot anak-anaknya dari arah dapur terkejut mendengar suara yang sangat dia kenal. Suara dokter yang dulu merawatnya dan mantan Kakak iparnya.
“Kak Nickho”. Ara tersenyum saat Nickho, Jovan, Jolenta dan Roger berjalan kearahnya dengan tergesa-gesa.
Nickho langsung memeluk Ara. Dengan memeluk Ara dia bisa menghilangkan semua perasaan gelisah dan takutnya. Tak peduli jika Ara mantan istri adik sepupunya, bagi Nickho siapapun Ara dia tetapa akan melindungi gadis ini.
“Ara, Nickho harus kembali ke Australia”. Ucap Jovan mewakili.
Ara menatap Nickho “Kenapa kembali Kak? Apa Kakak tidak ingin tinggal disini bersama Ara, Twins N dan Double Z?”. Cecar Ara.
Nickho menghempaskan nafas berat “Kakak harus kembali Ra. Jika Kakak terus disini itu akan bahaya buat kamu dan keempat bayimu. Maafkan Kakak ya, jika keadaan sudah aman Kakak akan kembali lagi menjengguk kalian”. Jelas Nickho. Ara terdiam, dia tahu pasti ini berhubungan dengan Bagaskara.
Ara mengangguk paham. Dia juga tidak mungkin menahan Nickho untuk selalu melindunginya. Sebenarnya alasan Ara menahan Nickho adalah agar dia bisa terus menanyakan kondisi suaminya.
Hati Ara teriris saat mendengar cerita Nickho, betapa menderitanya Kayhna saat dirinya tengah mengidam. Hati Ara juga berdenyut saat Nickho menceritakan Kayhan yang membencinya dan menganggapnya berkhianat. Namun, Ara berusaha memahami perasaan suaminya. Dia tahu jika itu hanya ungkapan rasa kecewa suaminya. Ara tahu jika Kayhan-nya masih mencintainya dan ingin bertemu dengannya. Namun semua dia tutupi dengan rasa benci dan marahnya.
Setelah berpamitan pada Ara. Nickho segera menuju bandara diantar oleh Jolenta. Sedangkan Jovan dan Roger mengatur dan memperketat keamanan Ara. Roger dan Jovan membuat system keamanan yang akan sulit diretas oleh orang lain.
“Kabari aku jika ada apa-apa dengan Ara dan bayi-bayinya”. Ucap Nickho sambil menyeret kopernya masuk kedalam bandara.
“Baik”. Sahut Jolenta.
Setelah mengantar Nickho. Jolenta segera kembali ke rumahnya. Dia juga ikut memperketat keamanan rumahnya. Sedangkan Van Derg dan Syaneth sedang ada perjalanan bisnis ke Indonesia sekalian menjengguk keluarga Syaneth yang ada disana, karena Ibu nya sedang sakit.
Dibandara.
Bagaskara dan Bagas baru saja landing beberapa menit lalu. Ayah dan anak itu segera keluar dari bandara dan dijemput oleh supir yang bertugas menjemput mereka.
Bagaskara memiliki rumah di Belanda, pembisnis yang sering melakukan perjalanan bisnis sepertinya tentu akan sering berada diluar negeri, sebab itulah Bagaskara membeli rumah di Negara ini.
“Apa langkah kita selanjutnya Dad?”. Bagas sambil menyenderkan punggungnya di jok mobil. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu membuat tubuhnya terasa letih.
“Menemukan Nickho. Dad yakin jika dia bersama Ara sekarang”. Jawab Bagaskara menyesap rokok yang terselip didalam jarinya.
“Iya Dad. Jangan sampai gadis mandul itu lepas dari tangan kita. Dia harus mati, dia harus merasakan bagaimana rasakan kehilangan”. Tangan Bagas terkepal dan rahangnya mengeras, ketika mengingat masa lalu yang tidak bisa dia lupakan sampai hari ini.
“Kau benar. Dia harus merasakan bagaimana rasa sakit kita. Dad tidak peduli dia istri Kayhan, selama dia berhubungan darah dengan pria brengseekkk itu maka Daddy akan melenyapkannya”. Sahut Bagaskara dia melempar putung rokoknya keluar jendela.
“Sebentar lagi dia akan merasakan sakit itu”. Ujar Bagas.
Kesalahan masa lalu dan dendam dimasa lalu yang tidak diketahui oleh seseorang selain Bagaskara dan Bagas. Ayah dan anak itu menyimpan dendam yang takkan bisa dilepaskan. Mereka takkan melepaskan Ara begitu saja. Mereka sudah menemukan target untuk membalaskan dendamnya. Ara harus mati dan itu harus terjadi. Sekalipun waktunya Tuhan mengambil nyawa Ara, Bagaskara akan memaksa Tuhan mengambil nyawa gadis mandul itu. Tidak peduli jika harus melawan sang pencipta. Bagi Bagaskara selama Ara masih bernafas, selama itu juga dia takkan tenang.
Bagaskara tak peduli lagi dengan cucunya Kayhan. Toh cucunya itu juga takkan mau memaafkannya jadi untuk apa bersusah payah menemui Kayhan dan meminta maaf. Yang ada Kayhan akan semakin membencinya.
**Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara**