
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Mommy”.
“Bunda”.
“Mommy, kami dan Ayah sudah menunggumu”.
Suara itu membuat keduanya tersadar. Ara segera menjauh dari pria yang mematung menatapnya dengan tatapan sulit diartikan itu.
Jovan mengendong Nara. Sementara Aldo, Naro, Zero dan Zeno berjalan disampingnya dengan meneteng beberapa kantong hasil dari lempar boneka. Mereka menghampiri Ara tanpa melihat pria yang berdiri memunggungi mereka.
"Mommy". Panggil mereka.
Ara tersadar dan melihat kearah anak-anaknya yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Mommy, apa kau baik-baik saja? Ayah sudah menunggu Mommy dari tadi". Ujar Zeno.
Lalu tatapan mereka bertemu dengan pria yang berdiri didepan Ara.
"Kayhan". Batin Jovan
"Uncle Kay". Batin Aldo.
"Daddy". Batin Zero
"Daddy". Batin Zeno
Sementara Naro memasang wajah datar. Sedangkan Nara hanya diam saja karena tidak tahu apa-apa.
"Ayo Mommy, kita pulang". Naro mengandeng tangan Ara.
"A-arra". Lidah Kayhan terasa kelu ketika melihat siapa yang ada didepan matanya. Matanya semakin membulat sempurna ketika melihat tiga bocah yang begitu mirip dengannya. Ditambah dengan gadis kecil yang bergelut manja digendongan Jovan.
Jovan hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apalagi ketika melihat wajah syok Ara, membuat Jovan merasa sangat bersalah.
"Anda siapa Tuan?". Tanya Naro dingin. Dia menatap tak suka pada Kayhan.
Kayhan dan Cody terkesiap mendengar pertanyaan Naro. Copyan Kayhan sangat melekat pada bocah tampan itu. Bukan hanya Cody yang syok, tapi juga para bodyguard dan penghujung yang ada disana. Mereka sampai mengucek mata berulang kali ketika melihat wajah Naro, Zero dan Zeno yang begitu mirip dengan Kayhan.
"Ayo Mommy". Zero dan Zeno ikut mengandeng tangan Ara.
"Ayo Mommy, Ayah bilang dia sudah lapal". Sambung Nara.
Kayhan menatap putri kecil yang digendongan Jovan. Hatinya berdebar hebat ketika melihat wajah munggil yang begitu mirip dengan Ara.
"Apakah mereka anak-anak ku Tuhan?". Batin Kayhan sambil menutup mulutnya.
"Bunda, ayo". Aldo ikut menimpali.
"Ayo sayang".
Ara segera mengambil tangan Naro dan Zeno. Dia melangkah jauh dari Kayhan.
"Ayo Kak". Ajak Ara pada Jovan yang juga masih mematung tak percaya.
Sementara Kayhan terdiam menatap punggung Ara dan Jovan yang berjalan menjauh darinya. Tubuh pria itu bergetar hebat menahan tangis. Apa selama lima tahun banyak yang dia lewatkan? Wajah istrinya jauh berubah dari yang dulu. Ara semakin cantik dengan dandanan sederhana yang menempel diwajahnya. Kulit nya semakin putih dan halus.
Dan lagi ada empat bocah kembar yang begitu mirip dengannya dan sang istri. Tuhan sungguh Kayhan tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tuan". Panggil Cody.
"Tuan". Cody menepuk pundak Kayhan.
"Cody, ayo cepat kita kejar mereka". Kayhan setengah berlari
"Baik Tuan".
Mereka berlari menyusul Ara dan anak-anaknya. Kayhan benar-benar berharap anak-anak itu adalah anak-anak nya. Jika mereka anak Jovan kenapa tidak mirip Jovan dan lebih mirip mirip dirinya.
Meski dalam hati masih ada sedikit keraguan tentang anak-anak itu tapi Kayhan berusaha menepis perasaannya dan menyakini diri sendiri bahwa mereka adalah anak-anak nya.
Kayhan dan Cody mengejar Ara dan anak-anaknya. Namun sayang mereka sudah tidak ada dan mobil mereka juga sudah melaju jauh.
"Cody, cepat kejar mereka". Kayhan masuk kedalam mobil.
"Baik Tuan". Cody yang juga sebenarnya masih syok dengan kejadian tadi. Cody tidak tahu jika Ara sudah kembali ke Indonesia. Karena informasi tentang Ara memang sengaja disembunyikan Jovan dan Nickho.
Didalam mobilnya. Ara terlihat melamun. Dia menatap kosong kearah jendela.
"Kak Han". Batin Ara. Jantungnya kembali berdegup kencang saat bertemu dengan mantan suaminya itu
"Ra". Jovan mengenggam tangan wanita ini. Dia tahu jika Ara pasti masih memikirkan pertemuannya dengan Kayhan tadi.
"You okay?". Ara mengangguk
"Kak, boleh aku memelukmu?". Jovan menepikan mobilnya dan merentangkan tangannya menyambut pelukkan Ara.
Sedangkan anak-anak Ara dibawa pulang oleh Nickho dan supir Jovan untuk menghilangkan jejak karena seperti dugaan mereka bahwa Kayhan akan mengejar mereka.
"Kak, aku takut Kak Han akan merebut anak-anak ku. Aku takut Tuan Bagaskara juga mencariku, hikss Kak. Aku takut". Adu Ara terisak dipelukkan Jovan
"Stttttttt, tenang ya. Dia tidak akan membawa anak-anak mu. Ada Kakak dan Nickho yang akan melindungi mereka. Mereka aman bersama Nickho". Jovan mengelus pundak Ara dengan sabar.
Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat permandangan menyakitkan itu.
"Brengsekkkk". Umpat Kayhan "Apa mereka benar-benar sudah menikah?". Rahang Kayhan mengeras.
Brakkkkkkkkkkk
Kayhan keluar dari mobil dan membanting pintu. Tangannya terkepal dan berjalan menghampiri mobil Jovan.
"Tuan". Cody juga turun dari mobil menyusul Kayhan.
Tok tok tok tok tok tok
Kayhan mengetuk dengan paksa kaca mobil Jovan. Dia sudah tak sabar ingin menanyakan hubungan mereka.
"Kak Han". Ara melepaskan pelukkannya.
"Ra, tunggu disini ya. Kakak akan keluar menemuinya. Ingat jangan keluar sebelum Kakak suru keluar". Ara menganggguk patuh.
Jovan keluar dari dalam mobil dan langsung menghadap Kayhan.
"Ada apa?". Tanya Jovan dingin. Dia menatap Kayhan tajam.
"Katakan padaku ada hubungan apa kau dan Ara?". Tanya Kayhan mengintimidasi.
"Apapun hubungan ku dengan Ara itu sudah bukan urusanmu. Ingat kau dan dia sudah bercerai lima tahun yang lalu". Ucap Jovan santainya dia memincingkan mata kearah Kayhan.
"Cihhh, berarti benar kau juga yang menghamili Ara?". Cibir Kayhan.
Mendengar ucapan Kayhan membuat tangan Jovan terkepal.
Brugh brugh brugh brugh
"Brengsekkkk". Ucap Jovan dengan nafas memburu.
"Hentikan Ayah". Suara itu membuat kedua pria yang tengah baku hantam itu berhenti.
"Naro, Zero, Zeno, Ado". Jovan langsung berdiri, begitu juga dengan Kayhan.
"Ayah". Mereka berempat membantu Jovan yang sudah terluka. Sementara Cody membantu Kayhan.
Melihat itu, Ara turun dari mobil ketika melihat anak-anaknya datang.
"Kak Jovan". Ara melihat Jovan terluka dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Ohhh jadi ini suami barumu? Ini alasan kau meninggalkanku dan menikah dengan laki-laki brengsekkkk ini?". Tuduh Kayhan. Hatinya berdenyut sakit saat Ara memperhatikan Jovan.
Satu tetes air mata jatuh dipipi Ara mendengar tuduhan sang suami. Ara sudah pernah disakiti dan dicaci maki oleh keluarga suaminya. Namun saat mendengar tuduhan itu langsung dari mulut Kayhan membuat hati Ara seketika merasakan sakit yang luar biasa.
"Tutup mulutmu Kayhan". Pekik Jovan.
"Kenapa?". Kayhan menatap sinis Jovan. Pria yang sudah merebut istrinya.
Naro dan Aldo mengepalkan tangannya. Kedua bocah yang dewasa sebelum waktunya itu benar-benar tidak terima mendengar ucapan dan tuduhan Kayhan pada Ibu mereka.
"Jika tidak tahu apa-apa jangan menunduh dan mengatakan yang tidak-tidak Tuan". Singgung Naro.
Kayhan dan Cody terkesiap mendengar ucapan Naro yang begitu kecil itu.
"Iya benar. Kau tidak akan tahu bagaimana perjuangan Bunda. Jadi stop menuduhnya sembarangan". Sambung Aldo.
"Naro".
"Ado".
Ara menggeleng supaya anak-anak nya tidak melanjutkan perkataannya.
"Tidak Mom. Pria ini sudah menyakiti mu dan menuduh Mom yang tidak-tidak". Ujar Naro "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Mom. Kau berarti bagiku". Ucap Naro menggenggam tangan Ara.
"Ayah, ayo kita bawa Mommy pulang. Kami sudah lapar. Tidak baik berlama-lama disini". Ucap Naro kemudian. Yang lain mengangguk setuju.
Ara melihat Kayhan dengan tatapan sendunya. Ada kekecewaan ditatapan itu. Sedangkan Kayhan hanya ada tatapan intimidasi dan tuduhan yang dia layangkan.
"Jangan pernah menyakiti Mommyku. Dan jangan menyesal jika suatu saat nanti Anda tahu yang sebenarnya". Setelah mengucapkan kata itu Naro langusng menyusul untuk masuk kedalam mobil.
Kayhan masih berdiri ditempatnya. Kenapa tatapan bocah itu begitu menusuk relung hati terdalam nya? Ada ikatan batin. Apa benar itu anaknya?
Bersambung...
Kayhan ❤️ Kimara