Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 44. Bahagia bersamamu.



**Bahagia aku bila bersamamu, tenang hatiku dalam pelukanmu. Tetap denganku, hingga kau menua hingga memutih rambutku. Tenang hatiku saat bersamamu.


@Haico


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹**


Ara membuka matanya, pantulan sinar matahari menyinari wajah wanita cantik itu. Objek pertama yang dia lihat, adalah wajah tampan sang suami yang tengah memeluknya dengan lelap.


Tangan Ara terulur mengusap wajah tampan suaminya, Kayhan merasakan sentuhan tangan Ara.


Kayhan tersenyum sambil membuka matanya "Good Morning istriku. Morning kiss dulu". Kayhan menciumi seluruh wajah Ara dengan gemes.


"Hahha Hubby geli". Ara sambil tertawa berusaha menghindar, dan jadilah mereka berdua perang-perang cium. Kayhan sangat gemes melihat tingkah Ara yang menurut menggemaskan, apalagi malu-malu.


"Say morning dulu". Terakhir Kayhan mengecup bibir istrinya.


"Good morning my Hubby". Ucap Ara mencium pipi Kayhan "Doa dulu yuk". Mereka berdua duduk, lalu saling berpegangan tangan untuk mengucap syukur karena kebaikkan dan kemurahan Tuhan mereka ada sampai hari ini.


"Amin". Ucap keduanya kompak.


"Sayang, aku mandi dulu". Kayhan bangkit dari tidurnya.


"Iya Bby, aku siapin baju sama buat sarapan". Senyum Ara.


"Iya sayang". Kayhan ciri-ciri kesempatan mencium kening istrinya, dia terkekeh melihat wajah cemberut Ara lalu berlari kekamar mandi yang berada didapur.


Ara menggeleng sambil tersenyum bahagia. Dia membereskan selimut dan bantal dikasur kecil itu. Ara juga menyiapkan pakaian untuk suaminya. Hanya ada kaso oblong dan celana jeans berwarna hitam.


Ara menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk sang suami. Ara terus saja tersenyum, dia membuatkan nasi goreng sederhana dengan telur ceplok ditambah dengan beberapa potongan cabe.


Ara terkejut saat merasakan sebuah tangan melingkar diperutnya "Bby". Pekik Ara kesal melihat suaminya "Aku belum mandi, jangan peluk-peluk dulu. Aku bau tahu". Gerutu Ara.


Kayhan malah terkekeh dia menciumi tengguk belakang istrinya "Belum mandi saja masih wangi dan istri kecilku ini". Ucap Kayhan terkekeh dagunya tertumpu pada pundak Ara "Masak apa sih? Wangi baunya?". Seru Kayhan sambil mengendu-ngendus masakkan Ara didalam wajan.


"Bby, minggir dulu. Ini aku mau sajikan". Ara berusaha melepaskan dirinya. Bukannya melepas Kayhan malah memeluk Ara dari belakang dengan erat, dia suka jika istrinya kesal.


Jadilah Ara dibuntuti Kayhan sambil berjalan kesusahan, ingin rasanya dia cakar wajah suaminya itu saling kesalnya. Tapi mau bagaimana, dia juga yang sakit nanti melihat wajah rusak suaminya.


"Lepas Bby. Sarapan dulu". Kesal Ara sambil berjalan menuju meja makan, suaminya masih menempel dibelakang nya


"Baiklah sayang". Kayhan mengecup ujung kepala Ara dengan sayang dan penuh cinta.


Kayhan duduk disamping istrinya, dia memperhatikan bagaimana Ara melayaninya dengan telaten dan penuh kesabaran. Kayhan tersenyum bangga. Tak pernah Kayhan bayangkan jika dia akan menikah. Belum pernah pacaran seumur hidup, tidak pernah jatuh cinta pada siapapun. Namun, hatinya justru berlabuh pada gadis kecil yang berhasil membuat jantungnya berdebar. Gadis yang dulu sering dia hukum membersihkan puluhan toilet perusahaan. Jika teringat hal itu Kayhan benar-benar merasa bersalah.


"Ini Bby". Ara menyerahkan piring yang sudah berisi nasi itu.


"Suapin". Renggek Kayhan manja.


"Manja".


"Tidak apa-apa, kan sama istri sendiri".


Ara tertawa kecil. Suaminya ini benar-benar seperti bayi besar, makan harus disuapin tidur juga harus dipeluk. Sejak menikah, Kayhan tidak bisa tidur jika tidak dipeluk Ara dan begitu juga dengan Ara. Mereka kecanduan dengan tubuh masing-masing.


Ara menyuapi Kayhan dengan sabar, saat suaminya terus merengek bergantian menyuapi dirinya. Drama suap-suapan masih terus berjalan seperti setiap paginya.


Setelah selesai sarapan, Ara membereskan meja makan sambil membawa piring kotor ke wastafel.


"Sayang, aku berangkat ya". Kayhan memeluk istrinya. Rasanya tidak rela berpisah dengan Ara walau barang satu jam


"Iya Bby hati-hati". Ara menyalimi dan mencium punggung tangan suaminya "Ini bekal untuk Hubby". Ara menyerahkan rantang nasi berisi nasi goreng buatannya


"Terima kasih sayang". Senyum Kayhan mengambil rantang nasi itu "Sayang, ini untuk belanja kebutuhan kita ya. Nanti sayang beli saja apa yang ingin sayang beli, jangan takut uangnya habis. Kan ada aku yang cari uang. Selama suami mu ini sehat, akan selalu ada uang mengalir walaupun dikit". Ucap Kayhan bangga, dia terkekeh sendiri.


Ara mengambil uang lima lembar dengan angka seratus itu "Aku akan beli sesuai kebutuhan kita Bby. Nanti aku akan buat buku pengeluaran dan pemasukan biar keuangan kita bisa stabil. Hubby jangan bohong, ini uang terakhir Hubby kan? Aku tidak butuh apa-apa, selain dirimu. Jadi jangan berlebihan". Ara mengembalikan tiga lembar uang, dan hanya mengambil dua untuk membeli semua keperluan rumah.


Kayhan berkaca-kaca, istri kecilnya ini benar-benar luar biasa. Tidak pernah menuntut apapun padanya, bahkan selalu mendukung dalam segala hal.


Ara membalas pelukkan suaminya "Aku juga bahagia bersamamu Bby". Ara melepaskan pelukkan suaminya "Semangat". Dia mengepalkan tangannya diudara memberi semangat pada Kayhan


"Aku berangkat". Kayhan melambaikan tangannya, sebelum akhirnya berangkat bekerja.


Ara menghela nafas menatap punggung sang suami yang semakin menjauh. Jujur Ara kasihan pada Kayhan, tak pernah terbayangkan seorang CEO terkenal seperti Kayhan rela hidup menderita bersama istrinya.


"Terima kasih Kak, aku bahagia bersamamu. Aku berjanji akan membuat mu bahagia. Kau segalanya untukku". Ucap Ara menyeka air matanya.


Kayhan sampai disebuah caffe yang diyakini caffe temannya. Semua mata tertuju pada Kayhan, mereka benar-benar terpesona dengan ketampanan suami Ara itu.


Kayhan langsung masuk menemui pemilik caffe "Kay". Sapa seorang pria tersenyum lebar saat melihat Kayhan masuk kedalam ruangan.


"Duduk Kay". Suruh pria itu menuntun Kayhan duduk disofa ruangannya.


"Terima kasih Jo". Ucap Kayhan sambil terduduk.


"Ada yang bisa aku bantu Kay?". Tanya Jolenta yang belum tahu masalah Kayhan.


"Seperti yang kukatakan padamu kemarin. Aku ingin bekerja disini". Ucap Kayhan santai.


Jolenta hampir tersendak ludahnya sendiri "S-serius?". Tanya Jolenta tak percaya "Kau ingin bekerja disini? Apa itu benar? Sungguh?". Cecar Jolenta masih tak percaya.


"Apa aku terlihat bohong?". Ketus Kayhan.


Jolenta adalah pria keturunan Belanda-Indonesia, dia merupakan teman satu angkatan di kampus Kayhan saat itu. Mereka biasa menjalin hubungan kerjasama, dan perusahaan Jolenta juga dibawah naungan perusahaan Kayhan.


"Bekerja sebagai apa?". Tanya Jolenta masih dalam mode tidak percaya.


"Apa saja". Sahut Kayhan singkat "Yang bisa menghasilkan uang cepat dan digaji perhari". Sambung Kayhan dengan nada sedikit memaksa.


Jolenta memincingkan mata kearah Kayhan "Sebenarnya apa yang terjadi padamu?". Tanya Jolenta curiga "Apa kata dunia seorang CEO bekerja sebagai pelayan di caffe rekan bisnisnya?". Cerocos Jolenta.


Kayhan kesal "Aku tidak butuh pertanyaanmu, karena aku tidak menjawabnya. Cepat berikan aku pekerjaan yang langsung dibayar hari ini". Celetuk Kayhan.


Jolenta kesal sendiri "Baiklah, disini hanya ada lowongan sebagai pelayan. Apa kau mau? Jika tidak mau ya sudah, hanya pekerjaan itu saja yang sedang kosong". Jelas Jolenta.


"Baik aku ambil, dan harus bayar hari ini". Paksa Kayhan.


"Ck, yang Boss nya siapa? Yang mengatur siapa?". Protes Jolenta.


"Aku tidak peduli". Sahut Kayhan acuh.


Kayhan menjadi pelayan dicaffe Jolenta. Pria tampan itu mencuri banyak perhatian. Bagaimana tidak, seorang CEO perusahaan ternama malah menjadi pelayan. Yang menarik nya, Kayhan tak gengsi sama sekali dengan pekerjaannya justru pria itu terlihat enjoy dan menikmati.


Keringat bercucuran dikening Kayhan, namun semangatnya tak pernah padam. Pria tampan berwajah dingin itu mengerjakannya dengan ikhlas demi istri tercintanya.


"Ini gaji mu hari ini". Jolenta menyerahkan amplop berwarna putih pada Kayhan.


"Terima kasih Jo". Kayhan mengambilnya dengan senang hati.


Jolenta menatap Kayhan dengan kasihan, sebenarnya apa yang terjadi pada Kayhan. Kenapa sesenang itu saat mendapat uang dengan jumlah yang sangat kecil??


"Kay, apa sebenarnya terjadi padamu? Apa perusahaan mu bangkrut?". Cecar Kayhan. Jolenta memang tidak tahu jika Kayhan sudah menikah. Karena ketika Kayhan melangsungkan pernikahan, Jolenta sedang pulang ke Belanda.


"Tidak ada". Jawab Kayhan singkat, lalu memasukkan amplop itu kedalam saku celananya "Aku pamit, besok aku kembali lagi. Terima kasih untuk pekerjaan nya". Ujar Kayhan menepuk pundak Jolenta yang masih menatap nya dengan bingung.


Jolenta masih tidaj percaya jika Kayhan bekerja dicaffe miliknya "Ada apa dengannya?". Gumam Jolenta menghela nafas lalu kembali ke ruangannya.


**Bersambung......


Jangan lupa jempol dan dukungannya ya guys....... iloveusomuch....


Salam hangat.


Kayhan ❤️ Kimara**