Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 23. Penyesalan



**Aku pernah merasakan betapa hampanya tak memiliki tujuan hidup, sementara kematian enggan menjemput.


Happy Reading 🌹🌹🌹**


Tiupan angin malam yang terasa mencekam ditubuhnya, tak dia pedulikan. Dia terduduk sambil melingkarkan kedua tangannya pada lutut yang ditekuk. Tatapannya kosong, sesekali dia menyeka air matanya.


Bahkan dia tidak peduli pada beberapa orang yang menatapnya dengan heran, biasanya dia selalu bersikap dingin tak tersentuh, tapi malam ini dia seperti lelaki tengah putus cinta.


"Ayah, Ibu". Lirihnya sambil menahan Isak tangis "Maafkan Roger". Ya pria itu adalah orang. Kematian sang Ibu yang mendadak membuat pria itu memberontak dan meminta izin untuk pulang walau hanya sebentar. Tapi satuan polisi disana tidak mengizinkan jika tidak ada yang menjemputnya langsung.


Penyesalan yang teramat sangat Roger rasakan, dia belum pernah membahagiakan kedua orangtuanya dan kini malah ditinggal pergi disaat dirinya dalam masalah besar.


Roger menyesal dulu menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat kedua orangtuanya bahagia. Dia malah jahat dan membangkang sang Ayah dan dia sering memukul wajah Ayahnya. Betapa berdosanya Roger melakukan hal sekejam itu pada seorang pria yang tidak lain adalah Ayah kandungnya sendiri.


Roger menangis dalam diam, wajahnya dia benamkan didalam lututnya, supaya isakkan tangisnya tidak terdengar.


"Ara, Mey. Maafkan Kakak". Dia teringat pada dua gadis yang kini hidup terlantar tanpa siapa-siapa. Dua gadis yang masih terbilang muda harus menelan pil pahit hidup tanpa orangtua.


Beberapa pria yang berada sama didalam jeruji besi itu saling melihat, dan mereka mengangkat bahu mereka tanda tidak tahu apa yang membuat pria tampan itu terlihat rapuh.


Salah satu dari mereka mendekat, dan menepuk bahu rugi "Aku tidak tahu apa masalah mu, tapi jika butuh teman curhat kami siap mendengarkanmu". Ucap pria itu menepuk bahu Roger.


Roger mengangkat pandangan nya dan hanya menggeleng bahwa dia tidak apa-apa.


"Tidak perlu sungkan teman. Kita adalah orang yang pernah bersalah dimasa lalu, dan kita sudah mendapat hukuman yang setimpal, setidaknya kita masih bisa berubah menjadi orang baik setelah keluar dari ini". Senyum pria itu kearah Roger


Roger menatap kedepan, tiga orang pria yang lainnya duduk disamping Roger dan siap mendengarkan cerita pria tampan itu.


"Ayah dan Ibu meninggal hanya beda beberapa Minggu saja. Aku.. aku mengkhawatirkan kedua adik perempuan ku, aku takut mereka kenapa-napa karena tidak ada yang menjaga". Jelas Roger.


Mereka terdiam, permasalahan Roger cukup membuat mereka simpati, bagaimana pun sebagai seorang Kakak pasti akan ada rasa khawatir saat adiknya berada diluar jangkuannyan apalagi perempuan.


Ara dan Mey sedang makan malam hanya berdua, kedua makan dalam diam hanya dentingan sendok yang terdengar saling bersahutan.


Mey menunduk dengar air mata yang terjatuh kedalam piringnya. Tangannya mengaduk-aduk sendok tanpa niat untuk memasukan sendok berisi makanan itu kedalam mulutnya.


"Mey". Ara mengenggam tangan adiknya "Kita harus kuat". Tandas Ara.


Namun Mey hanya terdiam tak menanggapi perkataan Kakak-nya, Mey kecewa semuanya disebab oleh Ara. Andai saja dulu mereka lebih mementingkan kesehatan Ferarer dibanding Ara, pasti Ayah nya tidak akan pergi meninggalkan mereka. Andai saja Wati tidak berniat membuatkan makanan kesukaan Ara dan berbelanja di pasar, pastinya Ibu mereka masih ada disini.


"Ini semua salah Kakak". Mey bangkit dan menunjuk wajah Ara dengan amarah.


"Alah, Kakak tidak perlu berpura-pura tidak tahu. Semua ini disebabkan oleh Kakak, Ayah meninggal karena Kakak dan Ibu meninggal karena Kakak dan sekarang Kak Roger dipenjara juga karena Kakak. Hidup kita sudah susah Kak, setidaknya hilangkan semua kesialan itu didalam diri Kakak". Setelah. Mengucapkan kata itu Mey beranjak pergi kekamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan kasar.


Sedangkan Ara mematung ditempatnya, otaknya langsung mencerna semua perkataan Mey. Perkataan seorang adik yang sedang meluapkan semua emosi didalam dadanya.


"Apa benar ini semua karena aku?". Lirih Ara dengan mata berkaca-kaca, dia menatap makanan sederhana diatas meja yang hanya dimakan sedikit dan banyak sisanya.


"Hiks, hiks, hiks". Ara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya sakit dan perih, mengapa masalah dalam hidupnya tak pernah berkesudahan?


Ara memukul-mukul dadanya berulang kali agar sesaknya segera pergi, namun nyatanya tangis nya semakin menjadi dan seluruh tubuhnya serasa melemas.


Ditengah kesedihan kehilangan' sang Ayah dan sang Ibu dia justru dihadapakan oleh kemarahan adiknya yang mengatakan semuanya terjadi karena Ara.


"Tuhan, aku lelah". Ara berjalan kearah kamarnya dan masuk lalu menutup pintu kamarnya dengan pelan.


Ara merebahkan tubuhnya diatas kasur tipis miliknya. Ara menatap foto keluarga yang dia simpan diatas nakas, foto keluarga lengkap dimana disana masih ada kedua orangtuanya dan juga Kakak nya yang waktu itu sangat memanjakan Ara.


Ara adalah anak kedua dan kesayangan kedua orangtuanya, selain karena gadis ini memiliki kesehatan berbeda Ara juga penurut dan pintar dalam segala hal, selain itu dia baik hati dan sopan kepada kedua orang tuanya. Hal itu yang justru membuat Roger jenggah dan akhirnya memberontak, dan Mey juga baru mengeluarkan semua unek-unek tak bisa dipungkiri bahwa dia iri dengan apa yang dimiliki Ara. Disayangi keluarga, dan bahkan diterima bekerja disebuah perusahaan besar tanpa seleksi ketat. Hingga kedua orangtuanya meninggal karena Ara.


"Ayah, Ibu". Ara mengelus kaca foto itu. Foto beberapa tahun silam, sebelum semuanya berubah menjadi dingin.


"Apa benar itu semua salah Ara?". Ara terus bermonolog dengan benda mati itu, sesekali Ara memeluk foto itu dengan erat dan menangis sesenggukan mengeluarkan semua tangis yang tak berhenti ini.


Hati Ara berdenyut saat Mey mengatakan bahwa semuanya adalah salah dirinya. Ayahnya meninggal karena Ara, Kakaknya masuk penjara karena Ara dan Ibunya meninggal juga karena Ara. Perkataan-perkataan itu masih saja terngiang didalam benak Ara.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks". Tangis Ara terdengar rintih dan menyayat hati. Gadis itu terduduk dan bersandar didinding tempat tidurnya, bahkan sampai matanya membengkak.


Ara memegang perutnya sambil menangis, karena terlalu banyak tarikkan bekas operasinya kembali sakit apalagi dari kemarin Ara tidak meminum obatnya. Terlalu fokus dengan rasa kehilanhan Ara tidak lagi memikirkan kesehatan nya. Ara terlalu mengabaikan dirinya, bagi Ara sekarang hidup atau mati sama saja dirinya akan merasa hampa.


Sekarang adiknya Mey, satu-satunya orang yang Ara miliki ikut membenci Ara dan mengatakan semua salahnya. Ini adalah jalan takdir hidupnya, dia juga tidak mau merasakan hal seperti ini. Namun bagaimana lagi takdir sangat suka sekali bercanda dan mempermainkan dirinya.


Ara menatap langit-langit kamarnya, terblesit dalam diri gadis itu untuk mengakhiri hidupnya. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Bukankah kalau dia bunuh diri itu hanya akan menambah beban? Bagaimana kalau dia masuk neraka? Disiksa selama-lamanya disana. Surga tidak akan menerima orang yang mengakhiri hidupnya sebelum sang Pencipta mengambil nya.


**Bersambung......


Salam hangat.


Kayhan ❤️ Kimara**