
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ara dan keempat anaknya sedang berperang dengan alat-alat dapur. Anak-anak Ara membantu sang Ibu menyiapkan bahan masakkan.
"Mommy, yang mana lagi?". Ucap Zeno dengan antusias meletakkan panci kecil didekat Ara
"Ambilkan bawang nya ya sayang". Perintah Ara
"Biar Zeno yang potong bawang nya ya?". Pinta pria tampan itu.
"Apa Zeno bisa? Zeno bisa pegang pisau?". Tanya Ara menatap putranya untuk memastikan.
Zeno mengangguk dengan wajah polosnya "Bisa Mommy". Dengan semangat Zeno mengambil pisau untuk memotong.
"Mommy ini". Naro meletakkan piring yang berisi daging mentah.
"Terima kasih sayang". Senyum Ara lembut pada putranya.
"Sama-sama Mommy".
Setelah berkutat hampir satu jam, masakkan Ibu dan anak itu siap dihidangkan. Keempat kembar itu menyusun dengan telaten makanan nya bersama Ara. Ara memang memakai asisten rumah tangga hanya untuk membersihkan rumah saja. Jika masalah perut anak-anak nya maka dia sendiri yang turun tangan. Anak-anak Ara sangat rewel mereka tidak mau makan masakkan orang lain selain masakkan Ibu nya.
"Selamat malam semua". Suara datang menuju meja makan.
"Ayah". Keempat bocah kembar itu berhambur kearah sang suara. Lalu memeluk sumber suara itu dengan sayang.
"Pasti rindu Ayah kan?". Godanya sambil terkekeh.
"Iya Ayah". Sahut keempat masih saling memeluk.
"Ya sudah ayo. Mommy sudah menunggu". Ajaknya.
"Ayo Ayah". Nara mengandeng tangan pria yang mereka panggil Ayah itu.
"Kak". Senyum Ara "Ayo Kak, silahkan duduk". Ucap Shella mempersilahkan.
"Terima kasih Ra". Senyumnya.
"Bunda". Aldo datang bersama Shella.
"Hei sayang. Kak Shella". Senyum Ara
Aldo dan Shella ikut bergabung dengan mereka. Tak lupa Aldo duduk disamping Ara. Membuat keempat bocah kembar itu merenggut kesal.
"Kak Ado. Jangan rebut Mommy kami". Sergah Naro menatap Aldo tajam.
Bukannya merespon Aldo malah cuek dan mengambil makanannya.
"Sayang, tidak boleh begitu dengan Kak Ado". Tegur Ara.
"Iya Mommy". Sahut Naro patuh.
Jovan dan Shella hanya bisa tersenyum sambil menggeleng. Sifat Aldo tak juga berubah. Masih saja seperti dulu pada Ara. Posessif dan sangat menyanyangi Ara. Bahkan Aldo sering bertengkar dengan keempat bocah kembar itu untuk merebutkan Bunda-nya.
Mereka makan sambil saing bercanda. Keempat bocah kembar itu berebut ingin disuapi sang Mommy.
Aldo merenggut kesal. Sejak kehadiran adik kembar nya posisinya dihari Ada bergeser. Bahkan dia tidak bisa lagi bermanja-manja dengan Bunda Ara-nya itu.
"Pelan-pelan sayang makannya". Tegur Ara pada Nara sambil memberikan segelas air minum pada putri bungsunya itu.
"Masakkan Mommy enak". Ucap Nara menunjukkan jempolnya dengan mulut yang penuh dengan makanan. Membuat gadis kecil itu tampak menggemaskan.
Ara tersenyum hangat, putrinya ini sungguh sangat mirip dengan wajahnya. Namun tidak dengan sifatnya. Jika Ara adalah wanita pendiam dan sedikit dingin. Maka Ara adalah kebalikan sifat Mommy-nya. Nara gadis periang, manja dan juga cerewet.
"Sini, Naro, Zeno dan Zero biar Ayah suapin". Jovan menggeser piringnya agar mendekat pada ketiga bocah itu.
Naro, Zeno dan Zero menggeleng serentak wajah mereka menunjukkan ekspresi yang sama.
"Tidak mau. Mau nya disuapin Mommy". Celetuk Zeno dengan mengerecutkan bibirnya kedepan tangannya terlipat didada.
Jovan mengendus kesal "Sudah tidak sayang Ayah lagi?". Jovan memasang wajah sedihnya.
Nara langsung memeluk Jovan "Nara sayang Ayah. Bial Nara disuapin Ayah saja". Ungkap Nara. Dia sangat menyanyangi Jovan seperti dia menyanyangi Ayah kandung nya sendiri.
Jovan tersenyum senang "Sini, sayang". Jovan melepaskan pelukkan Nara dan mengambil piringnya.
Ara dan Shella terkekeh gemes. Putri bungsu Ara ini sungguh memiliki sifat yang centil pada pria, apalagi Jovan. Nara begitu menyukai Jovan, Ayah angkatnya itu
Sedangkan Aldo dia menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Dia malah fokus dengan makanan yang ada dipiringnya tanpa tergantung dengan suara berisik Quardruplets itu.
Lagi-lagi Ara tersenyum. Sifat ketiga putra kembarnya sangat mirip dengan mantan suaminya, Kayhan. Saking sayangnya anak-anak Ara padanya mereka tidak mau tidur terpisah dari Ara.
"Ado bagaimana dengan sekolahmu, Nak?". Tanya Ara hangat. Aldo sungguh jauh berbeda dari usia lima tahun. Pria yang baru berusia 10 tahun itu, sudah terlihat begitu dingin tak tersentuh.
"Baik Bunda. Ado bisa mempelajari semua pelajaran yang diberikan guru". Sahut Aldo dengan senyum. Jika berbicara pada Ara, maka dia akan semangat dan hangat. Sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Setelah makan. Shella dan Ara membersihkan piring-piring kotor diatas meja. Mengumpulkan sisa makanan dan menyimpannya didalam lemari pendingin.
Sedangkan Jovan, Aldo dan keempat bocah kembar itu segera membersihkan diri ke kamar masing-masing.
"Mommy". Renggek Nara manja.
"Kenapa sayang?". Ara meletakkan piringnya dan menghampiri sang putri.
"Nara mau mandi". Ucap Nara dengan suara gemesnya.
"Iya sayang. Ayo". Ara mengendong Nara "Kak Shella aku mandi kan Nara dulu ya". Ucap Nara pada Shella.
"Iya Ra. Biar Kakak yang bereskan semuanya". Sahut Shella sambil tersenyum.
"Maaf ya Kak". Ucap Ara tak enak.
"Tidak apa-apa Ra. Sekarang mandi kan putrimu". Suruh Shella.
Ara mengendong putrinya menuju kamar. Dia memandikan putri manjanya itu. Tak lupa juga dia menyiapkan piyama tidur untuk keempat anaknya.
Jika ketiga putranya begitu mandiri dan bisa mandi sendiri, maka berbeda dengan Nara. Dia tidak bisa mandi jika bukan Ara yang memandikannya. Dia juga tidak mau mandi jika bukan sang Mommy yang memandikannya.
"Sini sayang".
Nara mendekat pada Ibunya. Ara mengeringkan rambut Nara dengan lembut dan telaten. Menyisir rambut panjang putrinya dan memakaikan piyama tidur untuk Nara.
Sedangkan ketiga putranya, sudah bisa mengurus diri mereka sendiri. Naro, Zero dan Zeno sudah terbiasa dan dibiasakan mandiri dalam segala hal. Mereka adalah pria-pria yang dewasa sebelum waktunya.
Naro memiliki sifat yang sangat sensitif, mudah tersinggung dan juga dingin. Dia tidak suka basa-basi dan bertele-tele. Dia hanya akan lembut dan penurut jika bersama Ara atau Jovan dan juga Shella. Karena Naro yang memang dibesarkan dengan bantuan Jovan, dia begitu dekat dengan Ayah angkatnya itu.
Sedangkan Zero dia memiliki kepribadian ambivert bisa dingin bisa juga hangat. Dia perasa dan mudah peka, namun sangat pendendam bila ada yang menyakitinya atau menyakiti sang Mommy.
Berbeda jauh dengan Zeno, pria kecil yang satu ini memiliki sifat yang humoris, periang dan juga berisik. Nara adalah teman debat yang selalu membuat Zeno kalah dari adik bungsunya itu. Sifatnya berbanding terbalik dari kedua Kakaknya.
"Mommy".
Naro, Zero dan Zeno sudah memakai pakaian lengkap. Namun rambut mereka belum disisir.
"Sini sayang".
Ketiganya mendekat. Ara menaburkan bedak bayi diwajah anak-anak nya. Tak lupa juga minyak telon, agar kulit mereka tidak digigit nyamuk atau bintang lainnya. Ara menyisir rambut ketiga putranya secara bergantian, sedangkan Nara hanya memperhatikan.
Begitulah kegiatan Ara setiap hari baik pagi dan malam. Dia mengurus anaknya dengan telaten dan sabar. Ara tidak mau menggunakan jas baby sitter karena dia ingin turun tangan sendiri dalam pertumbuhan anak-anak nya.
Jovan dan Shella juga membantu Ara. Namun tetap saja keempat bocah kembar itu tidak mau diurus orang lain selain sang Mommy.
"Terima kasih Mommy". Ucap mereka serentak.
"Sama-sama sayang". Ara menciumi anak-anak nya secara bergantian "Sekarang kalian tidur ya". Suruh Ara.
Keempatnya menurut saja. Ranjang king size itu memang sengaja Ara beli untuk dia dan keempat anaknya. Naro, Zero, Zeno dan Nara tidak bisa tidur tanpa Ara.
"Mommy akan bacakan dongeng buat kalian".
"Yesss Mommy". Teriak mereka kesenangan.
Ara membacakan dongeng anak-anak. Sebagai pengantar tidur untuk keempat bocah kembar itu. Begitulah setiap malam, Ara akan menina bobokan anak-anak nya.
Ara tersenyum hangat menatap keempat wajah menggemaskan yang sudah terlelap itu. Dia tak menyangka jika Tuhan memberinya anugrah terbesar. Setelah mengalami pahitnya kehidupan, Tuhan membayar jerih payah Ara dengan hadiah yang tidak biasa Ara nilai dengan apapun.
Tangan Ara terulur mengelus kepala Naro. Putra sulungnya ini menuruni sifat sang suami. Posessif dan pencemburu, manja dan juga dingin.
"Kak Han". Gumam Ara "Sekarang mereka sudah besar Kak. Apa kau akan senang jika bertemu mereka?". Monolog Ara.
Selama lima tahun berusaha tegar. Nyatanya Ara tak sekuat itu. Dia tetaplah seorang wanita lemah. Dia tetaplah seorang wanita yang butuh kasih sayang seorang suami. Namun, Ara tetap berusaha kuat demi anak-anak nya meski bayangan Kayhan masih saja melekat dalam ingatannya.
Bersambung.....
Kayhan ❤️ Kimara