
Aku tak ingin ada kata akhir diantara kita. Namun, jika akhirnya kau memilih pergi aku tak bisa melarang. Karena aku tahu cintaku takkan mampu mengalahkan egomu.
Happy Reading🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ara mengumpulkan sejuta keberanian nya. Bagaimana pun dia harus menemui Bagaskara dan meminta bantuan pada pria tua itu.
Ara akan melakukan segalanya untuk suaminya Kayhan. Apapun nanti yang terjadi, Ara hanya ingin Kayhan cepat bangun dan sembuh agar bisa bersama lagi seperti dulu.
"Ra, kamu yakin ingin menemui Tuan Bagaskara? Kamu tahu kan bagaimana orangtua itu?". Tanya Shella saat ini mereka sedang berada diruang tunggu pasien.
"Tidak ada cara lain Kak. Hanya Tuan Bagaskara yang bisa menyelamatkan Kak Han. Aku akan melewati apapun agar Tuan Bagaskara mau membantuku". Jawab Ara dengan penuh keyakinan.
Shella menghela nafas "Apa sebaiknya hubungi Kakakmu, agar dia bisa membantu?". Saran Shella, karena Shella yakin jika Tuan Bagaskara akan melakukan sesuatu yang bisa membuat Ara dan Kayhan terpisah.
"Tidak Kak". Bantah Ara "Ini adalah masalah rumah tanggaku, aku akan menyelesaikan nya sendiri. Aku tidak mau menyusahkan Kak Roger". Sergah Ara tetap pada pendirian nya.
"Ya sudah. Apa perlu ditemani?". Shella mengalah, karena percuma Ara takkan mau mendengarkan ucapannya.
"Tidak perlu Kak, aku akan pergi sendiri. Terima kasih Kakak sudah ada untukku". Ara memeluk Shella
Shella tersenyum mengelus kepala Ara "Kakak sudah menganggapmu seperti adik Kakak sendiri. Jadi jangan sungkan, kita adalah keluarga". Senyum Shella.
Ara tersenyum hangat. Shella memang seperti keluarga sendiri untuk Ara dan Kayhan. Wanita anak satu itu sudah banyak membantu Ara.
Ara berjalan keluar dari rumah sakit. Dia harus pulang kerumah untuk menganti bajunya. Serta menutup galeri miliknya.
"Uang tabunganku hanya segini, tidak akan cukup untuk membayar tagihan rumah sakit". Ara menghembuskan nafas kasar.
Ara berjalan dengan kaki yang terasa berat, rasanya Ara tidak sanggup bertemu dengan Bagaskara. Pasti dia akan menerima kembali caci dan maki. Namun demi suaminya Kayhan apapun akan Ara lakukan.
"Ta". Tak sengaja Ara melihat Martha dan William yang baru saja keluar dari supermarket.
"Ara". Gumam Martha saat melihat Ara tersenyum kearah.
William langsung berbinar melihat Ara. Namun keningnya berkerut, saat melihat perubahan Ara. Rambut panjang nya kini hanya sebahu, pakaian Ara juga terlihat biasa saja tidak sama sekali mencerminkan seorang istri dari CEO ternama.
"Apa yang kau lakukan?". Tanya Martha dingin dan sinis tak seperti biasanya
Ara menautkan alisnya heran "Aku ingin membeli minum". Jawab Ara polos
"Ra".
"Will". Senyum Ara.
Martha mencibir mendengar sapaan kedua orang itu, dia melipat tangan didada.
"Kenapa bajumu seperti ini? Apa Tuan Kayhan bangkrut?". Ejek Martha menatap Ara dengan sinis dan tak suka.
Ara terjingkrak mendengar apa yang diucapkan sahabat nya itu. Kenapa Atta nya jadi seperti ini?
"Ta apa maksudmu?". Tanya Ara tak mengerti dan heran melihat perubahan Martha.
Martha tertawa sinis "Aku tidak bermaksud apa-apa". Jawab Martha ketus "Ayo, sayang". Martha mengandeng tangan William.
Sontak William terkejut dan menghempaskan tangan Martha "Lepaskan Mar!! Kau ini kenapa sih, kau sudah berjanji padaku untuk memperlakukan Ara dengan baik, apakah begini sikapmu?". Sentak William emosi melihat sikap Martha yang menurut William keterlaluan.
Ara yang mendengar tambah bingung. Apa maksudnya?
"Ini semua karena mu William. Kau pikir aku tidak tahu bahwa perasaanmu masih untuk Ara? Kau ingat bukan selama hatimu belum jadi milikku, maka jangan harap Ara-mu akan mendapat perlakukan baik".
Ara tercengang saat mendengar pengakuan Martha. Apa maksudnya perasaan William padanya? Memangnya William siapa Ara? Ara bahkan tidak akrab sama sekali dengan William.
"Apa maksudmu Ta?". Sambung Ara menaikkan kedua alisnya bingung.
Martha menatap sinis "Kau senang kan karena banyak laki-laki yang menyukai mu? Kau juga pasti tahu jika William menyukai mu? Pawang apa yang kau berikan pada mereka?". Tuduh Martha.
"Sudahlah, jangan sok lugu". Sergah Martha "Mulai sekarang kau sudah bukan sahabat ku lagi. Jangan pernah temui dan cari aku, lagian juga kau sudah jatuh miskin kan karena suami katamu itu diusir dari keluarga Bagaskara". Ejek Martha.
Ara menatap tak percaya dengan ucapan sahabat nya. Ya memang hubungan rumah tangga Ara dan Kayhan sempat viral beberapa bulan lalu, karena Kayhan yang tiba-tiba resign dari perusahaan ditambah dengan Kayhan yang bekerja di caffe milik Jolenta, menjadi kisah Ara dan Kayhan tranding diberbagai media.
"Mar". Hardik William menggeleng.
"Ra, aku duluan ya". William menarik tangan Martha dengan kasar. Dia tidak habis pikir bagaimana seorang sahabat tega mengatakan hal itu pada sahabat nya.
William merasa bersalah, karena dirinya Ara menjadi sasaran kecemburuan Martha. Padahal William sudah berusaha baik pada Martha dan bersikap biasa saja saat bertemu Ara. Tapi tetap saja Martha tak puas melampiaskan perasaan sakitnya.
Ara terduduk, dibangku depan supermarket. Dia tak bisa berkata apa-apa saat mendengar semua perkataan Martha. Sahabat yang Ara kenal paling baik dan selalu ada untuknya. Kini juga ikut membenci Ara. Padahal Ara sangat butuh dukungan mereka.
"Hiks, Ayah, Ibu, Mey. Ara sendirian". Ara mengangkut tangannya diwajah sambil menahan Isak tangis nya "Kak Han". Dia langsung teringat pada sang suami. Segera Ara menghapus air matanya. Tidak, Ara tidak boleh lemah. Dia masih memiliki Kayhan dan Roger yang akan menjadi alasan untuk Ara kuat.
Ara membeli minuman untuk meredakan sakit di tenggorokan nya. Kebanyakkan menangis membuat gadis bersuami itu merasa dehidrasi.
"Aku harus kuat". Ucapnya sambil menarik nafas dalam.
Ara sudah berdiri didepan sebuah bangunan mewah, Mansion yang terletak diatas dua hektare persegi itu terlihat mencolok dari bangunan lainnya. Sangat besar dan megah.
Ara menarik nafas dalam. Apapun itu jika bisa membuat suaminya kembali bangun Ara akan berkorban untuk itu.
Ara berjalan menuju pos satpam, karena rumah semewah itu tentu tidak akan mudah masuk begitu saja.
"Nona Ara?". Sapa Pak Satpam.
"Paman Diman". Senyum Ara.
"Selamat datang Nona. Ada yang bisa saya bantu?". Tanya Diman ramah kearah mantan Nona Muda-nya itu.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Bagaskara Paman". Sahut Ara.
"Sebentar Nona, saya hubungi dulu". Diman menekan intercom yang tersedia di post satpam itu.
"Silahkan masuk Nona, sudah ditunggu Tuan". Senyum Diman.
"Terima kasih Paman, kalau begitu saya masuk". Balas Ara juga tersenyum hangat.
Ara masuk dengan langkah ragu, para pelayan yang melihat Ara langsung memberi hormat. Mereka masih sangat ingat bagaimana menderitanya Nona Muda mereka itu. Namun, Ara tetap tak mengeluh meski diperlakukan bak binatang tak berharga.
"Nona Ara".
"Bik Amy".
Ara memeluk wanita paruh baya itu, wanita yang sudah dianggap seperti Ibu nya sendiri. Bik Amy merupakan pelayan tertua di Mansion ini, dia juga yang mengasuh Kayhan dan Seem kecil kala itu. Bik Amy istri Paman Diman.
"Apa kabar Nona?". Tanya Bik Amy melepaskan pelukkan nya.
"Ara baik-baik saja Bby! Bagaimana dengan Bibi?". Balas Ara
"Puji Tuhan, sehat Non". Senyum Bik Amy.
Bik Amy, merasa kasihan pada Ara. Dia teringat bagaimana dulu Ara mengerjakan semua pekerjaan di Mansion seorang diri tanpa bantuan pelayan. Bik Amy, ingin membantu Ara tapi tidak bisa karena dia hanya pelayan di Mansion mewah itu.
Bersambung.......
Kayhan ❤️ Kimara
Guys guys jangan lupa dukung selalu ya.
i love u semua.....