
Kalimat aku tidak bisa hidup tanpamu itu benar. Mungkin aku akan tetap hidup seperti manusia pada lainnya, dan secara bersamaan hatiku juga mati tanpa penghuninya.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kimara POV.
Aku berjalan menuju ranjang, dikamar tamu yang disediakan keluarga Kak Jovan.
Hari ini, hari pertama aku menjalani hari tanpa suamiku. Bagaimana pun aku menyembunyikan kesedihan untuk tetap kuat, nyatanya butiran bening tanpa warna itu menetes begitu saja dipipiku.
Rasanya aku tak mampu hidup, tulang-tulang ku terasa patah, hatiku hancur berkeping-keping dan retak begitu saja.
Kalimat aku tak bisa hidup tanpamu itu benar adanya. Mungkin aku tetap hidup, namun hatiku mati perlahan. Sehingga tak bisa merasakan apapun yang ada hanya patah hati dan kesedihan.
Aku duduk ditepi ranjang kamar mewah ini. Sangat mewah dengan fasilitas lengkap padahal hanya kamar tamu, bagaimana dengan kamar utama? Mungkin seribu kali lebih mewah dari ini.
Ku elus kasur king size yang mampu menampung sampai lima orang diatasnya. Teringat lagi aku pada kamar mewah suamiku di Mansion mewah kediaman Bagaskara. Bisa dikatakan mirip dengan desain interior yang menyilaukan mata.
Biasanya malam-malam begini, kami berdua duduk saling berpegangan tangan menceritakan apa saja yang terjadi hari ini, lalu berdiskusi, dan mencari solusi bersama. Tak ubahnya kami berdebat, alhasil kami saling tertawa dan tidak berakhir pada pertengkaran. Setelahnya kami berdoa agar cinta kami kekal abadi. Namun sayang, semua kandas ditengah jalan.
Tanpa permisi dan izin, dadaku terasa sesak pipiku mulai panas dan lagi-lagi aku menangis dengan isakakn yang menyayat hati. Untung saja Aldo malam tidak tidur bersamaku, jika dia tahu aku menangis dipastikan pria kecil yang ingin mengantikan posisi suami ku itu, akan menangis sejadi-jadinya bersamaku sambil menyeka air mataku untuk tidak menangis, padahal dia juga menangis.
"Apa kabar kamu Bby? Apa kau sudah bangun dari koma? Apa kau mencariku saat mendapati aku tidak ada disisi mu?". Gumamku sambil menekuk lutut ku lalu membenamkan wajahku disana.
Aku yakin jika suamiku, maksudku mantan suami ku akan membenciku karena meninggalkannya dalam keadaan tanpa sadar. Dia pasti berpikir aku tak mau menerima kondisinya, padahal mau dia bagaimana pun aku mencintainya dengan tulus. Namun kenyataannya fakta akan diputar balikkan oleh Bagaskara.
Malam kalbu, tanpa pelukka hangat dari Kak Han. Tanpa ucapan selamat tidur darinya. Rasanya benar-benar terasa mati. Ingin berteriak memanggil namanya dan mengatakan aku tak bisa tanpanya, tapi apa yang bisa aku lakukan hanya menangis dan menangis.
"Kak Han, hiksss". Lirihku.
Aku benar-benar ingin bertemu Kak Han, aku ingin tahu bagaimana kabarnya saat ini? Aku ingin tahu apakah dia bisa tidur? Apakah dia bisa makan?
Terkadang aku suka bertanya pada Tuhan, kenapa hidupku berbeda? Aku pernah berjuang tanpa Ayah menjadi tulang punggung keluarga bukan pilihanku, dan aku dipaksa harus dewasa sebelum waktunya. Aku juga kehilangan Ibu, yang sangat sabar dan tulus menyanyangi ku. Lalu aku dihadapkan dengan penyakit Mey dan mendonorkan salah satu ginjalku untuknya agar dia bisa tetap bertahan hidup, tapi takdir berkata lain.
Sekarang, saat aku juga harus dipaksa berpisah dengan orang yang paling kucintai dan mencintaiku. Aku pernah merasakan kehilangan, tapi ini adalah kehilangan paling berat dalam hidupku. Rasanya sulit untuk ikhlas dan melepas. Rasanya sulit menjalani hidup tanpa sentuhan tangannya. Aku pernah berpikir mungkin mati adalah jalan satu-satunya untuk bahagia, tapi entah kenapa aku belum siap menerima kematian?
Mungkin ini memang saatnya aku melepaskan Kak Han. Membiarkan dia bahagia tanpa aku, tapi bolehkah aku jujur bahwa aku tidak suka kalimat itu? Dia memang terlalu sempurna untuk gadis mandul sepertiku. Dia adalah bintang dilangit, yang terlihat terang dan semua orang ingin menggapai nya. Sedangkan aku hanya orang utan dibumi yang hampir tak terlihat oleh manusia-manusia yang mengaggapku tak ada.
Aku merasa udara dalam paru-paru mulai menipis, kupukul dadaku berkai-kali menghilangkan sesak yang semakin mendesak. Jika ditampung mungkin air mataku sudah mampu membuat sebuah danau. Jika air mataku benar-benar mengering mungkin itu terakhir kalinya kumenangis. Namun, sebanyak apapun aku menangis tak juga bisa menghilangkan sesak yang memaksa. Mungkinkah setelah ini aku benar-benar akan mati rasa?.
Kurasakan usapan lembut dibahumu. Ku dongrakkan kepalaku melihat siapa yang mengusap bahuku.
Kak Roger menarikku dalam dekapan nya. Mungkin tadi dia mengetok pintu, tapi karena aku yang menangis tanpa henti hingga aku tak mendengar suara ketukkan Kak Roger.
"Kakak tahu ini berat untukku".
"Kak, hiksssss".
Mungkin menangis tidak menyelesaikan masalah, tapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada.
Kak Roger mengusap kepalaku dengan lembut, wajahku kubenamkan dalam dada bidang nya. Seandainya Kak Roger masih dipenjara dan belum sadar akan kesalahannya, aku tidak tahu harus mengadu dan berlindung pada siapa?. Aku tidak tahu harus menyadarkan kepala ku pada bahu siapa? Atau memeluk siapa untuk meredakan sakitnya dadaku.
"Ini hanya masalah proses sayang. Mungkin terasa sangat berat untukmu. Tapi Kakak yakin kau pasti bisa melewati semua ini. Jika memang dia jodohmu suatu saat nanti kalian akan kembali bersama. Tuhan punya maksud untuk semua ini mungkin Tuhan ingin kalian sama-sama belajar arti rindu".
"Tapi Kak, Ara tidak bisa tanpa Kak Han. Ara mencintai nya Kak. Kak ayo kita pulang ke Indonesia kita temui dia Kak. Ara ingin tahu keadaan nya". Renggekku sambil melepaskan pelukkan Kak Roger.
Kak Roger tersenyum hangat "Sayang, ingat kau hanya terbiasa hidup dengannya bukan tidak bisa hidup tanpanya. Kau mau kembali bagaimana? Surat perceraian itu sudah ditandatangani dan juga keluarga Bagaskara tidak akan bisa menerima mu kembali".
"Tapi Kak.........".
"Kau harus ikhlas dan belajar melepas. Kadang cinta saja tidak cukup untuk membuat orang bahagia jika tidak ada dukungan dari orang-orang yang mereka sayang. Bukankah cinta tidak harus memiliki sayang? Jadi cobalah untuk melangkah. Jangan habiskan hidupmu untuk menangisi sesuatu yang takkan pernah kembali dalam pelukkanmu".
Aku semakin terisak mendengar ucapan Kak Roger.
"Hiks hiks hiks hiksssss".
Jika ada lomba menangis mungkin aku akan menjadi jawaranya. Sudah hampir satu Minggu aku terus saja menangis memikirkan nasib yang tega memisahkan ku dengan Kak Han, suamiku.
Malam kelabu yang terasa abu-abu, tak lagi terdengar suara canda dan tawa serta cinta-cintaan dikamar tidurku. Tak ada lagi yang memelukku sambil menepuk-nepuk punggung ku agar terlelap.
Kini hanya bantal dan selimut yang menemani malam kelabuku yang terasa dingin. Kupeluk bantal ini dengan erat, kuanggap saja bantal ini suamiku, agar aku segera terlelap.
Mungkin memang benar, kadang melepaskan lebih baik. Bukan karena tidak cinta, hanya saja sadar diri bahwa sesuatu yang diperjuangkan takkan menuai kebahagiaan. Tapi bolehkah aku tidak setuju dengan kalimat itu?
Selama ini aku dan Kak Han sudah mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaan kami, meskipun kehilangan segalanya tapi kami tetap bahagia tanpa harta dan jabatan. Tapi kebahagiaan itu justru dirampas dengan paksa oleh orang-orang yang tidak tahu cara menghargai hidup.
Bersambung...........
Kayhan ❤️ Kimara