
**Aku menyanyangi mu setulus hati, maaf jika caraku salah dan berlebihan aku hanya ingin kau tahu betapa berharganya dirimu untukku.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹**
Ara sudah terbaring diruang operasi. Hari ini gadis itu sengaja meminta izin dari kantor dengan alasan mengurus semua biaya administrasi sekolah adiknya. Kayhan yang memang dasarnya sudah cinta dan bucin akut, percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Ara.
Ara menatap kearah brangkar Mey, gadis itu masih tidak sadarkan diri dan setia menutup matanya.
"Maafkan Kakak Mey, yang belum bisa menjadi Kakak terbaik untuk mu. Kakak menyanyangi mu". Satu tetes butiran bening lolos dipelupuk mata Ara.
Mata Ara perlahan terpejam karena pengaruh obat bius.
Dikantornya Kayhan tampak gelisah, beberapa kali dia menelpon Ara tapi gadis itu tidak menjawab panggilannya sama sekali. Kayhan bahkan sudah mencoba berulang kali tapi tetap saja Ara tidak menjawab.
"Ra, kau dimana?". Kayhan tampak khawatir dan gelisah, dia takut terjadi sesuatu pada sang kekasih.
"Semoga kau baik-baik saja Ra". Gumam Kayhan mengusap wajahnya kasar.
Martha dan William juga tak kalah gelisah, karena tidak biasanya Ara menghilang tanpa kabar.
"Ara dimana ya?". Gumam Martha terlihat tak tenang.
"Memangnya Ara sering seperti ini?". Tanya William penasaran.
"Iya, biasanya jika ada masalah dia pasti suka menghilang". Martha menarik nafas dalam.
"Memang nya Ara itu seperti apa sih orangnya?". William sangat penasaran dengan kepribadian Ara, tampak gadis itu memang pendiam dan sedikit cuek. Bayangkan saja dalam satu divisi hanya Ara yang tidak genit pada William, padahal mereka berdekatan tempat duduk tapi Ara biasa saja dan tidak seperti kebanyakan gadis lainnya.
"Susah deh kalau mau menceritakan seperti apa Ara itu?". Martha menarik nafas dalam "Gadis sederhana, yang selalu menolak bantuan orang lain. Bayangkan saja, dia dioperasi tapi bilangnya cuti karena tidak mau orang lain tahu kalau dia sakit". Martha mengenang sifat Ara "Ayahnya meninggal saja dia tidak mengatakannya pada siapapun, sampai akhirnya dia dipecat karena kesalahpahaman. Untungnya semua bisa diselesaikan dengan baik". Jelas Martha.
William terdiam mendengar penjelasan Martha, kenapa William jadi tertarik dengan kisah Ara. Sepertinya gadis itu memang berbeda dari yang lainnya.
"Dia tulang punggung keluarga, kedua orangtuanya sudah meninggal, Kakaknya dipenjara dan dia hanya hidup bersama adiknya". Lanjut Martha.
"Tulang punggung?". Beo William.
Martha mengangguk "Dia keras kepala, selalu ingin berdiri diatas kakinya sendiri, padahal dia membutuhkan orang lain hanya saja karena terlalu banyak masalah yang dia hadapi membuat Ara jadi gadis mandiri". Timpal Martha lagi.
Nathan juga tak kalah gelisah, bukan karena apa jika Ara tidak masuk dia pasti dibuat repot setengah mati oleh tingkah Kayhan yang semakin membuat kepalanya pusing. Entah ada hubungan apa kedua orang berbeda jenis itu? Padahal mereka hanya bos dan anak buah, tapi ikatan kekompakan nya seperti pasangan suami istri. Nathan tidak tahu saja jika sebentar lagi keduanya akan menjadi sepasang suami istri sah.
Beberapa kali Nathan memijit pelipihnya menghilangkan sedikit rasa pusing dikepalanya. Pasti sebentar lagi Kayhan akan memanggilnya dan mengamuk.
Kring kring kring
Intercom milik Nathan berbunyi.
"Nathan, keruangan ku segera". Pekik kan suara dibalik telpon membuat Nathan bercebik kesal. Baru saja dia merasa sedikit tenang, sudah ada lagi harimau yang mengamuk padanya.
Nathan masuk keruangan Kayhan dengan wajah ditekuk kesal. Ingin rasanya Nathan tenggelamkan wajah Kayhan yang menyebalkan itu.
"Ada apa lagi kau memanggilku?". Tanya Nathan ketus sambil duduk dikursi depan meja Kayhan.
"Kerjakan ini". Kayhan melempar beberapa dokumen didepan Nathan.
"Apa kau sudah gila? Mana bisa aku membackup semuanya". Protes Nathan mengambil berkas itu.
"Aku tidak menerima alasan. Terserah padamu bagaimana cara kau menyelesaikannya dengan cepat. Aku mau Minggu depan barang itu sudah sampai diperusahaan kita". Tegas Kayhan tak mau kalah "Sudah! kau boleh keluar". Usir Kayhan.
Nathan keluar dengan wajah merah padam menahan amarah. Sahabatnya itu benar-benar membuatnya darah tinggi. Entah apa yang terjadi pada pria sedingin es itu?
"Iya Tuan". Cody menghadap Kayhan.
"Tolong lacak keberadaan Ara, aku khawatir dia dalam bahaya". Suruh Kayhan, yang membuat Cody mengerutkan keningnya.
"Baik Tuan". Meski pun bingung sang Assisten itu tetap saja menuruti perintah Tuan-nya.
Diruang operasi
Para dokter dan beberapa perawat tengah berjuang menyelamatkan nyawa dua orang gadis, kondisi kedua gadis itu cukup parah. Pembalikan rahim dan pembuatan lubang ****** Mey, membuat gadis itu pendarahan hebat serta ginjal yang didonorkan Ara ternyaya ditolak oleh tubuh Mey.
"Dok, pasien kritis". Ucap salah satu perawat terlihat panik.
"Sambungkan pendetak jantung, percepat tekanan nya". Perintah Dokter Bayu
"Baik Dok". Sahut perawat itu.
Terlihat ketegangan diwajah para Dokter itu, terutama Dokter Bayu. Tidak ada penanganggung jawab dari operasi ini, karena Ara sendiri yang menandatangi surat perjanjian sebelum operasi.
"Dok, pasien kekuarangan banyak darah". Ucap salah satu Dokter.
"Lakukan tranfusi darah". Tandas Dokter Bayu.
"Maaf Dok, stok darah kita habis. Golongan darah Nona Mey tergolong langka, untuk mencari pendonor memerlukan waktu lama". Jelas Dokter Susi.
"Bagaimana dengan darah Nona Ara?". Tanya Dokter Bayu.
"Maaf Dok, Nona Ara kondisinya kritis, dan fisiknya tidak mampu untuk kembali mendonorkan darah". Jawab Dokter Susi
Dokter Bayu dan beberapa Dokter lainnya serta para perawat masih berjuang menyelamatkan kedua Kakak beradik itu. Operasi yang cukup menyita waktu banyak, ternyata tak menghasilkan buah. Kondisi kedua nya seketika melemah, tubuh Mey menolak donor ginjal dari Kakaknya. Sedangkan Ara kondisinya, kritis karena banyaknya darah yang didonorkan kepada Mey.
"Dok.......".
Tit tit tit tit tit tit tit tit tit tit
Semua Dokter dan perawat terdiam, ketika salah satu layar monitor pendetak jantung itu menunjukkan garis lurus.
Dokter Bayu hanya diam mematung, operasi yang memakan waktu delapan jam lebih itu gagal ditengah jalan karena salah satu diantara kedua gadis itu kalah sebelum garis finish.
Dokter Bayu menghembuskan nafas kasar, entah bagaimana perasaan Dokter paruh baya itu. Ada rasa sesal dihatinya karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kedua Kakak beradik.
Pranggggggggggggg
Gelas yang dipegang Roger seketika jatuh.
"Ada apa?". Tanya salah satu temannya khawatir menghampiri Roger. Saat ini mereka sedang makan siang bersama.
"Tidak!! Perasaanku tidak enak". Roger mengusap tengguknya "Apa terjadi sesuatu pada Ara dan Mey?". Gumam Roger tak tenang, pikirannya tertuju pada kedua adik perempuannya.
Roger mengambil gelas baru, pikiran pria tampan itu terlihat tidak tenang. Dia cemas dan takut jika terjadi sesuatu pada kedua adiknya, karena mereka hidup hanya berdua apalagi perempuan itu akan sangat bahaya.
"Tuhan, jaga Ara dan Mey. Semoga mereka berdua baik-baik saja". Batin Roger sambil menyuap makanan.
**Bersambung.......
Salam hangat.
Kayhan ❤️ Kimara**