Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 11. Kenyataan Pahit



**Seandainya aku punya sayap terbang, terbanglah aku. Kucari dunia yang lain untuk apa ku disini? Menjerit dan menangis pilu dan derita, merintih dan berdoa dimana pun berada.


@Geisha


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹**


Ara sampai kerumah sakit langkahnya terlihat tergesa-gesa, tangan kanannya masih terus memegang makanan ditangannya sambil menyuap nasi sambil berjalan.


Ara meletakkan makanannya di kursi tunggu pasien, dia segera masuk kedalam ruang Nickho.


Jantung Ara berdegup kencang takut jika yang dikatakan Nickho tentang kondisi Ayahnya. Ara tidak bisa bayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada sang Ayah.


"Kak".


Nickho yang sedang asyik dengan berkas pasien ditangannya sontak mengangkat kepala dan dia tersenyum saat melihat siapa yang datang.


"Duduk Ra". Suruh nya. Sambil meletakkan dokumen di tangannya.


"Terima kasih Kak". Senyum Ara "Bagaimana Kak, apa yang ingin Kakak katakan tentang kondisi Ayah?". Cecar Ara terlihat seperti tak sabar.


Nickho menghembuskan nafas pelan "Ra, kondisi Ayah kamu semakin memburuk, maaf Ra, sepertinya sudah tidak ada harapan lagi". Jelas Nickho dengan jujur, dia tidak mau memberikan harapan pada gadis yang ada didepannya ini.


Ara terdiam, dia berusaha memalingkan wajahnya kearah lain. Ketakutan yang selama ini selalu Ara rasakan kita benar-benar akan menyiksa Ara. Bagaimana jika Ayahnya benar-benar pergi, Ara tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya tanpa sang Ayah.


"Apa tidak ada cara lain Kak?". Tanya Ara masih berharap bahwa Ayah nya bisa bangun dan tersenyum lagi kearahnya.


Nickho menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas berat.


"Kalau begitu aku permisi Kak". Ara berdiri dan melangkahkan kakinya.


"Ra". Langkah Ara terhenti.


"Jika butuh bahu untuk bersandar, aku selalu ada untukmu". Ara masih terdiam ditempatnya mendengar ucapan Nickho.


Nickho berdiri dan menghampiri Ara, dia menarik lengan gadis itu hingga jatuh ke pelukan nya.


"Aku memang tidak bisa membantumu tapi setidaknya bahuku yang tidak terlalu kuat ini mampu menopang kepalamu". Ucap Nickho sambil memeluk Ara, mengelus kepala gadis yang tingginya hanya sampai dada itu.


"Hiks, hiks Kak". Tangis Ara pecah kembali ini untuk kedua kalinya dia menangis dalam pelukkan Nickho. Ara merasakan betapa nyamannya bila ada seseorang yang merelakan tubuhnya hanya untuk melepaskan segala penat yang membellengu jiwanya.


Ara masuk kedalam ruang ICU tempat Ayahnya dirawat. Disampingnya seorang wanita paruh baya tertidur dengan satu tangan menopang kepala dan satu tangan lagi mengenggam tangan sang suami.


Ara menatap wajah Ayahnya yang terpejam dengan damai dan tenang. Wajah yang biasanya menjadi penghilang lelah saat dirinya pulang kerja. Wajah yang selalu panik saat dirinya sakitan.


"Ayah". Gumam Ara.


"Ayah bangun, apa Ayah tidak merindukan Ara? Ara disini Ayah! Ara rindu Ayah, Ara rindu diantar kekantor bareng Ayah. Buka matamu Ayah". Lirih Ara dalam batinnya


Ara kembali kekantor karena jam makan siang hampir habis. Langkahnya terasa pelan, wajahnya tampak kacau, matanya sembab dan tatapannya kosong. Berkali-kali dia menyeka air matanya, jangan sampai ketiga dia dikantor nanti ada orang yang menyadari jika dirinya menangis dengan hebat.


Ara melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Pikiran berlarian kemana-mana, memikirkan sang Ayah dan Kakak nya Roger yang sampai hari ini tidak menjengguk Ayahnya sendiri. Entah terbuat dari apa hati Kakaknya itu, kenapa sangat keras sekali?


Ara memarkir motornya diparkiran khusus motor perusahaan tempatnya mengadu nasib. Sebenarnya Ara tidak ingin meninggalkan Ayahnya, dia ingin menjaga sang Ayah tapi dia juga harus bekerja, jika tidak maka dia bisa saja dipecat.


Sementara itu seorang pemuda tampan tengah menatap keluar jendela ruangan nya yang menampakkan permandangan Ibu kota. Tatapannya sulit diartikan.


"Siapa gadis itu? Kenapa dia terlambat? Apa yang terjadi padanya?". Pertanyaan itu terus yang selalu menghantui pikirannya.


Drt drt drt drt drt


Ponselnya berbunyi. Segera dia meronggoh saku celananya untuk mengambil benda pipih dari sedari tadi bergetar.


"Ada apa?". Tanyanya dingin.


"Cih, jangan terlalu dingin padaku". Cibir suara kesal diseberang sana "Kapan kau akan datang ke rumah sakit? Aku sudah merekap semua data pasien yang kau minta". Jelasnya.


"Baik! Kirim lewat email ku". Sahutnya dengan nada dingin tapi terdengar tegas.


"Seperti biasa mereka selalu harmonis dan romantis". Jawabnya "Kenapa kau tidak pulang saja ke Mansion untuk melihat kondisi mereka?". Timpalnya lagi.


"Kau tahu kan setiap kali aku pulang mereka selalu bertanya kapan menikah? Aku rasakan mau muntah mendengar pertanyaan itu terus". Celetuk suara diseberang sana "Tapi sebentar lagi aku akan membawa gadisku kesana". Terdengar suara sumringah diseberang sana.


Dirinya hanya bisa mencibir dengan wajah kesalnya. Pasti jika sepupunya itu sudah mendapatkan calon istri, kini giliran dirinya yang akan selalu diserbu dengan pertanyaan kapan menikah?


Tok Tok Tok Tok


Segera dia mematikan telponnya dan menatap kearah pintu masuk.


"Masuk".


Ara masuk dengan membawa ember dan kain pel ditangannya.


"Permisi Tuan, sesuai dengan perintah anda saya akan membersihkan ruangan anda". Ucap Ara sopan.


"Silahkan". Suruh Kayhan dengan nada dingin.


Ara mengangkat pelan ember yang sudah berisi air itu. Lagi-lagi dia meringis kesakitan.


Kayhan langsung berdiri "Biar aku saja". Kayhan mengambil ember itu dari tangan Ara


"Tidak per......".


"Sudah cepat kerjakan". Potong Kayhan meletakkan ember itu.


Lalu Kayhan pergi keruang istirahat kamarnya. Ya didalam ruangan itu dilengkapi dengan kamar tidur yang menjadi tempat istirahat Kayhan siang hari, karena dia tidak bisa jika tidak tidur siang.


Ara membersihkan ruangan Kayhan dengan pelan-pelan dan hati-hati takut jika ada barang nya yang lecet atau tidak sengaja disentuh olehnya.


Satu jam kemudian Ara selesai membersihkan ruangan Kayhan. Dia terduduk disofa dengan meringgis kesakitan.


Ara mengambil obat dalam tasnya lalu meminum dengan air mineral yang selalu dia bawa kemana-kemana.


Ara memberanikan diri membuka bekas jahitan diperutnya. Sebelumnya dia mengedarkan pandangannya takut jika tiba-tiba Kayhan kembali keruangan.


"Awwwwwww". Pekik Ara menahan sakit "Pantas saja sakit ternyata berdarah". Dia menutup kembali bajunya.


"Lelah sekali rasanya". Tanpa sadar dia menutup matanya dan tertidur disofa ruang kerja Kayhan.


Wajahnya sangat lelah bahkan terlihat begitu rapuh. Entah apa yang membuat gadis itu terlihat tak berdaya.


Kayhan keluar dari kamar rahasia nya. Dia tersenyum saat melihat ruangannya sudah bersih.


Namun langkahnya terlihat ketika melihat seorang gadis tertidur disofa dengan bersender, tangannya memegang kearah perut.


Kayhan mendekati Ara, menatap wajah cantik gadis itu. Entah kenapa jantung Kayhan berdetak saat melihat wajah cantik Ara.


Kayhan membelai wajah Ara menyelipkan, anak rambutnya kedaun telinga, sudut bibir Kayhan tertarik.


Ara merasakan ada yang menyentuh wajahnya langsung tersadar dan membuka mata


"Astaga". Ara terkejut saat melihat wajah Kayhan yang begitu dekat dengan.


"Maaf". Kayhan langsung berdiri menyembunyikan gugupnya.


"Saya yang minta maaf Tuan karena ketiduran. Kalau begitu saya permisi Tuan". Ara langsung mellengang pergi sambil menahan malu.


**Bersambung....


Salam hangat


Ara ❤️ Kay**