Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 47. Berjanjilah padaku untuk tidak pergi.



Berjanjilah untuk tidak pergi apalagi hilang. Aku akan melakukan segala cara, agar kau tetap berdiri disampingku......


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Kayhan melangkah gontai. Dia masih terus terbayangkan tentang percakapannya bersama Roger. Kayhan takut jika Roger membawa Ara pergi darinya, terlihat sekali jika Roger sangat menyanyangi Ara.


Membayangkannya saja Kayhan tidak sanggup apalagi sampai hal itu terjadi, bisa-bisa dirinya mengakhiri hidup jika terpisah dari Ara.


"Sayang". Sapa Kayhan saat istrinya membuka pintu menyambutnya dengan senyum manis.


"Selamat Bby, pasti capek". Ara menarik tangan suaminya lalu mengecup punggung tangan Kayhan seperti kebiasaannya.


Kayhan malah memeluk Ara dengan erat, dia tidak akan sanggup jika suatu hari terpisah dari istri kecilnya.


"Bby kenapa?". Tanya Ara.


Kayhan mengeratkan pelukkannya "Sayang, biarkan sebentar. Aku sangat lelah, dengan memelukmu aku bisa sedikit tenang". Lirih Kayhan pelan. Tangannya mengerat ditubuh istrinya.


Ara tahu jika ada sesuatu yang sedang terjadi pada Kayhan. Setiap kali ada masalah begitulah Kayhan, dia akan memeluk Ara dengan erat sampai puas setelah itu baru dia menceritakan apa yang terjadi padanya.


Ara membalas pelukkan Kayhan. Tak peduli dengan bau tubuh suaminya yang belum mandi, apalagi keringat terasa basah dibantu kaos yang Kayhan kenakan. Ara mengelus punggung suaminya dengan sayang, seperti seorang Ibu sedang menenangkan anaknya menangis.


"Bby, kenapa?". Tanya Ara lembut sambil melepaskan pelukkan Kayhan "Ayo, duduk dulu Bby". Ajak Ara membawa suaminya duduk dikursi kayu yang terletak diruang tamu kontrakan kecilnya.


Bak kerbau dicucuk hidungnya, Kayhan hanya menurut ketika Ara menarik tangannya untuk duduk dikursi "Tunggu sebentar ya, aku ambilkan air minum dulu". Ucap Ara.


Ara mengambilkan segelas air minum untuk suaminya "Minum Bby". Kayhan hanya menurut dan meminum air yang diberikan oleh istrinya.


"Sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi?". Ara mengenggam tangan suaminya "Jangan dipendam sendirian Bby, aku istrimu yang selalu siap mendengar apa saja yang ingin kau ceritakan". Ucap Ara dengan suara lembut nya membuat hati Kayhan berdebar saat mendengar ucapan sang istri.


Kayhan menatap Ara "Tadi, aku bertemu Roger". Kayhan menghela nafas "Aku menceritakan semua masalah yang sedang kita hadapi. Lalu dia menawarkan untuk tinggal bersamanya. Tapi aku menolak". Ucap Kayhan "Maaf ya sayang, bukan aku tidak mau dibantu. Tapi aku tidak ingin berhutang budi pada orang lain". Jelas Kayhan.


Ara tersenyum hangat dan sekaligus bangga. Suaminya adalah pria berkelas, tentu saja dia tidak akan mau menerima bantuan orang lain. Sama seperti Ara yang tidak mau bergantung pada orang lain.


"Tidak perlu minta maaf Kak. Yang Kakak lakukan sudah benar. Kita tidak perlu mengandalkan orang lain". Seru Ara dengan senyum manis.


"Tapi sayang, aku takut jika Roger mengambilku dariku".


Ara terkekeh mendengar ucapan suaminya "Bby, Kak Roger tidak berhak membawaku pergi. Meskipun dia Kakakku. Sekarang aku adalah milikmu, aku tanggungjawab mu. Siapapun tidak berhak mengambilku apalagi memisahkan kita kecuali Tuhan. Aku akan selalu ada untukmu". Senyum Ara.


Kayhan menatap Ara dengan berkaca-kaca "Berjanjilah sayang, apapun yang terjadi kau tidak akan pergi meninggalkan ku. Kau adalah sumber kekuatan ku dan segalanya untukku. Jangan hilang duniaku bisa hancur dan hidupku takkan teratur". Kayhan memeluk istrinya dengan erat. Isak tangis menggema dirumah kontrakkan kecil itu. Tangis kebahagiaan Kayhan begitu terdengar. Ara dengan sabar dan juga terharu. Dia tahu betapa suaminya sangat mencintai dirinya dan begitu pun sebaliknya.


Kayhan melepaskan pelukkan Ara "Tadi, aku juga bertemu Grandma dan Grandfa, mereka masih saja mengajukan penawaran untuk meninggal kanmu. Tapi aku tetap tidak akan pernah melakukan itu sayang. Sekarang aku sudah bahagia bersamamu, aku tidak butuh apa-apa lagi". Ucap Kayhan.


Kayhan tersendak kaget saat Ara menciumnnya duluan, pria itu senang bukan main. Dengan antusias dia membalas ciuman Ara. Ciuman yang awalnya lembut dan perasaan, kini malah menuntut lebih.


Ciuman Kayhan turun ke leher jenjang istrinya, dia meninggalkan bekas kepemilikkan disana. ******* pun terdengar diruang tamu kontrakkan mereka. ******* dan erangan kenikmatan terdengar disana. Jadilah mereka bercinta diruang tamu selama berjam-jam.


Terkadang Ara jengkel dengan suaminya jika berbicara tentang bercinta maka tidak akan cukup sekali, bisa Kayhan minta berkali-kali sampai Ara kelelahan. Tapi dia juga senang bisa melayani suaminya dan dia juga menikmati permainan Kayhan yang lembut selaku membuat nya terbang melayang.


Ditempat lain. Sejak Martha tahu perasaan William pada sahabatnya Ara. Gadis itu memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Ara. Bukan Martha iri atau benci pada Ara, hanya saja setiap kali mengingat perkataan William hatinya selalu sakit.


"Maaf Ra, aku harus menjauh darimu. Sekarang kau juga sudah memiliki Tuan Kayhan, dan kumohon biarkan William jadi milikku. Kali ini saja aku menang darimu". Gumam Martha. Mata Martha tertuju pada William yang tengah asyik menyantap makanan. Sekarang mereka sedang makan siang dikantin kantor.


"Kenapa Mar?". Tanya William heran karena sedari tadi Martha terus saja menatapnya dengan senyum.


"Ahhh, tidak". Martha salah tingkah sendiri.


"Ohh ya kalian tahu tidak jika Tuan Kayhan sudah tidak memimpin kita lagi. Menurut gosip nya Tuan Cody yang akan mengantikan posisi".


"Memangnya Tuan Kayhan kemana? Apa kembali ke Australia? Apa Ara juga diajak?".


"Tidak tahu bagaimana jelasnya. Yang pasti sudah hampir tiga bulan, kita tidak pernah melihat Tuan Kayhan datanh kekantor".


Gosip-gosip terus beredar membicarakan tentang Kayhan. Memang tidak ada yang tahu penyebab Kayhan tidak datang keperusahaan selain Cody. Cody memang tidak mengatakan pada siapapun termasuk Nathan.


"Bagaimana dengan Ara?". Gumam William masih terdengar jelas ditelinga Martha.


Martha mengepal kan tangannya saat mendengar ucapan William yang pelan tapi masih didengar oleh Martha


"Mar, apa kau pernah menghubungi Ara? Apa kalian masih berkomunikasi?". Cecar William.


"Tidak". Sahut Martha ketus, dia kembali melanjutkan makannya dan tidak peduli lagi dengan pertanyaan William tentang Ara.


Nathan terdiam. Saat ini dia dan Cody sedang makan siang juga dikantin bersama para karyawan. Nathan terus mengorek informasi tentang Kayhan pada Cody, tapi sepertinya asissten Cody sengaja menutupi fakta tentang Kayhan dan Ara.


Kayhan dan Ara menghilang bak ditelan bumi. Informasi tentang mereka seperti nya memang sengaja ditutupi oleh seseorang. Nathan bahkan membayar detektif ternama untuk mencari keberadaan Kayhan dan Ara, namun pasangan suami istri itu tak juga ditemukan.


"*Kemana sebenarnya Kay dan Ara? Apa mereka baik-baik saja? Atau mungkin Kayhan membawa Ara ke Australia untuk menjauhkannya dariku? Tapi bukankah disana ada Nickho? Perasaan Nickho juga pasti masih sama untuk Ara?". Batin Nathan sambil menyantap makanan nya.


**Bersambung.......


Salam hangat .


Kayhan ❤️ Kimara***