Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 88. Ultrasonografi (USG).



Bertemu denganmu adalah hal yang selalu ku nantikan. Jika aku belum bertemu denganmu, maka aku akan tetap menanti dan menunggu.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹


Ara duduk dikursi roda yang didorong oleh Roger. Karena hari ini Ara akan memeriksa kandungan nya pada dokter Obgyn.


Jovan, Jolenta, Joana, Shella serta Aldo mengekor mengikuti Ara. Aldo digendong oleh Jovan dengan manja pria kecil itu melingkar kan lengannya dileher Jovan.


Sampai diruang pemeriksaan, Ara segera turun dari kursi roda.


"Pelan-pelan sayang". Roger membantu Ara dengan telaten untuk berbaring di ranjang yang sudah disediakan.


"Terima kasih Kak". Senyum Ara sambil berbaring.


"Bunda". Renggek Aldo turun dari gendongan Jovan dan langsung mengenggam tangan wanita hamil itu.


"Iya sayang?". Tangan Ara terulur untuk mengelus kepala putra angkatnya itu.


"Sayang, biarkan Bunda diperiksa sama dokter dulu ya. Sini Ado sama Mami saja". Tanpa menunggu Aldo protes Shella langsung mengendong putranya. Takut jika putranya itu menganggu, Ara yang sedang melakukan pemeriksaan.


"Saya akan mulai periksa ya Nona". Dokter menuangkan gel diperut buncit Ara.


Ara mengangguk dengan senyum. Dia tak sabar untuk melihat kondisi bayi nya yang didalam perut sana.


Mereka semua menoleh kelayar monitor USG. Melihat perkembangan bayi Ara.


"Apa anda melihat nya Nona?". Tanya dokter. Ara mengangguk dengan mata berkaca-kaca "Bayi anda lebih dari satu".


"M-maksud dokter anak saya kembar?". Tanya Ara hampir tak bercahaya bahkan air matanya hampir menetes.


"Benar Nona dan lebih dari dua".


"Lebih dari dua?". Beo mereka semua saling melihat.


Dokter tersenyum sambil membersihkan perut Ara bekas gel tadi "Iya. Bayi Nona Ara kembar empat". Senyum dokter.


"K-kembar empat dok?". Dokter mengangguk dengan senyum, melihat kebahagiaan diwajah wanita hamil enam bulan itu.


"Kakak bantu sayang". Roger dan Jolenta membantu Ara turun dari ranjang dan kembali duduk dikursi roda.


Mereka semua duduk disofa ruang dokter kandungan itu, siap mendengar kan kembali penjelasan dari sang dokter.


"Nona anda harus jaga pola makan dan jangan berpikir keras, jangan lupa minum susu hamil agar bayi Anda sehat". Jelas doker.


"Saya akan memberikan vitamin untuk anda sebagai asupan gizi untuk bayi anda". Lanjut sang dokter.


"Apa sudah kelihatan jenis kelaminnya Dok?". Tanya Roger.


Dokter hanya tersenyum "Itu akan menjadi rahasia sang pencipta Tuan. Tapi menurut hasil USG, bayi Nona Ara berjenis kelamin laki-laki dan perempuan". Sambung dokter.


"Terima kasih Dok". Sahut Ara dengan bahagianya.


Roger kembali membawa adiknya keruang rawat inap Ara.


"Kak Nana". Ara berhambur memeluk Joana dengan bahagia. Joana membalas pelukkan Ara, dia turut bahagia melihat senyuman diwajah cantik Ibu hamil itu.


"Selamat ya Ra". Joana mengelus perut Ara yang sudah membesar itu.


"Terima kasih Kak".


Ara beralih pada Shella "Kak Shella". Shella memeluk Ara juga dengan senyuman bahagia. Dia pernah berada diposisi Ara merasakan kebahagiaan sebagai wanita yang dipercaya kan Tuhan untuk menerima sebuah titipan terindah.


"Selamat ya sayang". Shella melepaskan pelukkannya "Sehat-sehat diperut Mommy ya sayang, jangan nakal". Shella mengelus perut Ara.


"Terima kasih Aunty, kami akan baik-baik didalam perut Mommy". Ara menirukan suara anak kecil membuat mereka tertawa gemas.


"Kak Roger". Roger juga memeluk Ara dengan bahagia dan rasanya dia ingin menangis terharu melihat senyuman diwajah adiknya yang sudah lama sekali memudar.


"Kak, Ara akan punya anak kembar Kak". Ara menangis bahagia dipelukkan sang Kakak.


"Iya sayang. Dan Kakak punya keponakan empat sekaligus". Roger melepaskan pelukkannya "Jangan nangis donk. Senyum". Roger menarik sudut bibir adiknya.


"Ara menangis bahagia Kak". Isak Ara mengusap air matanya.


Roger tersenyum gemes "Kakak senang Ara bahagia". Roger mengecup kening adiknya dengan sayang. Ara merasakan kehangatan saat sang Kakak mencium keningnya.


Shella, Joana, Jovan dan Jolenta ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan Ara. Mereka tahu bagaiamana sulit wanita yang sebentar lagi akan jadi Ibu itu berjuang keras.


"Bunda". Aldo berlari dan naik ke brangkar Ara.


"Iya sayang". Ara memeluk Aldo. Aldo melingkarkan tangan mungilnya diperut Ara "Kenapa hmmm?". Tanya Ara mengelus kepala Aldo.


"Ado senang". Jawab Aldo singkat.


"Selamat ya Ra". Jovan merentang kan tangannya untuk memeluk Ara. Ara tersenyum dan hendak menerima pelukkan Jovan. Namun, belum juga tangan Ara dan Jovan bersentuhan Aldo sudah menepis tangan Jovan dengan kasar.


"Sayang".


"Aldo".


"Jangan sentuh Bundaku". Pekik Aldo memeluk lengan Ara dengan posessif.


Jovan menelan salivanya kasar. Sedangkan Jolenta menggeleng tak percaya. Roger hanya bisa menahan tawa, dan Joana tersenyum mengejek. Shella menghembuskan nafas kasar.


"Aldo tidak boleh begitu". Tegur Shella sedikit membentak putranya. Dia merasa tidak nyaman baik pada Ara mau pun Jovan.


Mata Aldo berkaca-kaca saat Shella membentaknya. Aldo adalah pria kecil yang ketika menyanyangi sesuatu atau seseorang selalu tidak rela jika orang menyentuh.


"Kak". Ara menggelengkan kepala, supaya Shella tidak kasar pada Aldo.


Sedangkan Shella hanya bisa menghela nafas kasar.


"Sayang". Ara mengangkat dagu Aldo dengan lembut agar melihat padanya. Aldo menatap wajah cantik Ara "Ado sayang Bunda?". Aldo mengangguk dengan polos air mata berjatuhan dipipi mulus pria kecil itu.


"Sttttttt, jangan nangis donk. Ado mau Bunda juga nangis?". Aldo menggeleng dengan cepat. Aldo tidak suka jika Ara menangis.


"Boleh Bunda ngomong sama Ado?". Aldo mengangguk dengan cepat. Yang lain melihat sambil tersenyum gemes.


"Ado tidak boleh begitu dengan Uncle Jojo".


"Tapi Ado tidak mau ada yang ambil Bunda dali Ado". Jawab Aldo air matanya sudah menetes. Demi Tuhan Ara rasanya ingin tertawa lepas melihat wajah Aldo yang menangis justru terlihat begitu lucu dan menggemaskan.


"Tidak akan ada yang ambil Bunda dari Ado. Bunda kan punya Ado?". Rayu Ara.


Aldo mengangguk dengan polosnya sambil menyeka air matanya.


"Sekarang Ado minta maaf sama Uncle Jojo ya". Aldo mengangguk.


Dia beralih pada Jovan yang memasang wajah kesalnya "Uncle Jojo, maafin Ado ya". Aldo memeluk Jovan. Seketika emosi Jovan mereda saat Aldo memeluknya.


"Iya sayang. Tapi janji jangan gitu lagi ya". Jovan mengecup ujung kepala Aldo yang sudah dianggap anaknya sendiri.


Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Ado, boleh 'kan Uncle Lenta peluk Bunda?". Tanya Jolenta dengan senyum lebar penuh makna.


Aldo memincingkan mata curiga, namun saat melihat wajah Ara dirinya langsung tersenyum "Boleh".


"Selamat ya Ra". Jolenta memeluk Ara. Pertama kali nya dia memeluk gadis ini.


"Terima kasih Kak". Balas Ara.


"Jangan banyak berpikir dan jaga kesehatan". Jolenta melepaskan pelukannya.


"Ado sayang, peluk Uncle Lenta". Aldo beralih memeluk Jolenta dengan senyuman mengembang "Jangan lebut Bunda Ado". Tegas Aldo sambil memeluk Jolenta.


Mereka semua tertawa mendengar celotehan pria kecil itu. Sungguh Aldo sangat mirip seseorang. Ara selalu saja membandingkan itu tapi tak berani menanyakan dimana Ayah kandung Aldo.


Mereka sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya. Sedangkan Ara dan Aldo saling berbincang-bincang.


"Bunda, kata Doktel adik Ado kembal empat ya?". Ara mengangguk "Kembal itu banyak ya Bunda?". Tanya Aldo lagi polos.


"Iya sayang, lebih dari satu". Jelas Ara.


"Memang lebih dali satu itu belapa Bunda?".


"Sini tangan Ado". Aldo menyerahkan tangannya.


Ara menghitung keempat jari Aldo "Jadi empat itu lebih dari satu. Seperti jari Ado ini". Ara menjelaskan dengan sabar sambil menunjukkan keempat jari Aldo.


Aldo beroh-ria seakan mengerti "Berlalti Ado tidak disayang lagi kalau Ado punya adik banyak?". Celetuk Aldo dengan sendu sambil menunduk kan kepalanya.


"Kata siapa sayang?". Tanya Ara lembut dan juga heran.


"Uncle Lenta". Semuanya menatap kearah Jolenta yang sudah salah tingkah. Jolenta meruntuki kepolosan Aldo.


"Kau ajarkan apa padanya Jo?". Tatap Jovan tajam


"Heheh aku tidak mengatakan apapun". Elak Jolenta.


"Bohong. Uncle Lenta bilang, kalau Dedek bayi nya lahil nanti Ado tidak disayang lagi". Adu Aldo.


Jolenta melototi Aldo yang bicara jujur dan apa adanya. Shella dan Joana menahan tawa. Sedangkan Roger dan Jovan menatap tajam kearah Jolenta yang sudah kikuk.


"Jangan mengajari anak kecil yang tidak-tidak Jo". Tegur Jovan kesal.


"Ck, aku tidak mengajari nya apa-apa Van". Jolenta masih berusaha membela dirinya.


"Sudah tidak apa-apa". Potong Ara. Dia melihat kearah Aldo "Ado, dengarin Bunda. Kalau Dedek bayi nya lahir, kita semua tetap sayang Ado. Ado kan pintar dan baik". Ara mengacak gemes rambut Aldo.


"Terima kasih Bunda".


Suara ruang rawat Ara, terdengar canda dan tawa. Mereka selalu tertawa dengan celotehan Aldo yang membuat mereka kadang-kadang gemes dan juga kesal. Terutama Jovan dan Jolenta, mereka selalu saja dibuat bungkam saat ingin berdekatan dengan Ara. Aldo seperti seorang suami yang menjaga istrinya dari pria lain.


Bersambung.......


Kayhan ❤️ Kimara