
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
"Papa datang". Teriak Nickho dari arah pintu masuk.
"Papa".
Nara, Zero dan Zeno berlari kearah Nickho. Sedangkan Naro berjalan santai tanpa ekspresi sambil menggandeng tangan Ara menyambut kedatangan Nickho.
"Anak-anak Papa". Nickho berjongkok merentangkan tangannya memeluk ketiga bocah kembar itu.
Ketiganya memeluk Nickho dengan sayang. Mereka sangat menyukai Nickho. Apalagi Zeno, sepertinya putra Ara yang satu ini ada bakat menjadi dokter terlihat dari sikapnya dan gayanya.
"Papa lindu". Peluk Nara manja naik kedalam gendongan Nickho.
"Papa juga rindu sekali putri Papa ini". Nickho mencubit hidung Nara dengan gemes. Astaga gadis kecil ini benar-benar mirip dengan Ibunya.
"Ini Papa bawa makanan kesukaan kalian". Nickho menunjukkan kantong kresek yang dia bawa.
"Terima kasih Papa". Zero dan Zeno langsung mengambilnya dengan senang. Nickho paling tahu makana kesukaan mereka, apalagi kalau bukan pizza
"Sayang, salim Papa dulu". Suruh Ara.
"Papa". Mereka menyalimi Nickho secara bergantian. Termasuk Naro, tapi tangannya masih setia mengenggam tangan sang Ibu.
"Kak Nickho". Ara juga ikut menyalimi pria yang sudah dia anggap Kakak itu.
Nickho tersenyum. Tanganya terulur mengelus kepala wanita beranak empat itu.
"Bagaimana kabarmu? Maaf Kakak baru bisa menjengguk kalian. Banyak pasien Kakak dirumah sakit yang butuh penanganan".
"Puji Tuhan sehat Kak. Tidak apa-apa. Anak-anak menyanyakan Kakak terus". Senyum Ara.
Hati Nickho menghangat. Anak-anak Ara memang menerima Nickho dan bahkan menganggapnya sebagai Ayah kandung mereka sendiri. Sama seperti Jovan.
"Ayo Kak masuk. Kebetulan kita mau makan malam". Ajak Ara.
"Ayo Pa. Nala sama Kakak yang banyuin Mommy, masak". Sambung Nara.
"Ayo". Ajak Nickho antusias.
Nara digendong oleh Nickho. Sedangkan tangan Nickho yang satunya mengandeng tangan munggil Zeno. Zero menenteng plastik yang dibawa Nickho dan Naro mengandeng tangan Ara dengan posessif. Jika ketiga saudaranya menyukai Nickho, maka tidak dengan Naro. Naro lebih suka Jovan dan bahkan Naro pernah mengharapkan Jovan menjadi Ayah sungguhannya dan menikahi sang Mommy. Namun Ara dengan keras menolak keinginan putranya itu.
Mereka masuk. Terlihat sangat harmonis. Seperti pasangan suami istri. Nickho yang masih mengenakan jas dokternya terlihat begitu tampan dan manis. Ara yang hanya memakai baju rumahan ala Ibu-ibu muda juga terlihat imut dan menggemaskan ditambah dengan wig yang berponi itu menjadikannya, wanita cantik alami.
"Selamat malam semua". Sapa Nickho.
"Nickho".
"Kak Seem".
Kedua pria itu saling melihat bingung. Terutama Nickho, Jovan memang belum menceritakan masalah Seem dan Shella pada Nickho.
Sementara Seem menatap bingung. Berarti benar informasi yang dia dapat selama ini jika Nickho memang sudah tahu keberadaan Ara dan anak-anaknya.
"Duduk Nick. Nanti kita bicara". Ucap Jovan yang tahu kebingungan diwajah Nickho.
Nickho mengangguk dan meletakkan Nara duduk dikursi yang sudah ditarik oleh Naro agar adik bungsunya bisa duduk.
"Mommy". Renggek keempat bocah kembar itu saat Ara mengambil makanan.
"Iya sayang. Mau yang mana, biar Mommy ambilkan?". Tanya Ara tersenyum lembut.
"Ayam madu, ayam goreng, ayam rendang, ayam rica-rica". Zeno menyebut semua menu yang dia mau.
"Ck, Dek terlalu banyak nanti tiba habis". Protes Zero.
"Pasti habis kok Kak kan kita berlima. Kak Ado juga, iya kan Kak Ado". Sahut Zeno menunjukkan rentetan giginya.
"Nara sama Ayah saja ya?". Tawar Jovan.
"Iya Ayah". Nara menurut.
"Zero sama Zeno sama Papa. Kak Naro sama Kak Ado sama Mommy". Ujar Nickho.
"Baik Pa". Mereka kembali menurut.
Anak-anak Ara memang begitu, selalu saja menurut apa saja yang dikatakan oleh orang dewasa.
Mereka makan dengan canda dan tawa, apalagi mendengar ocehan Nara kecil yang berbicara sambil makan menjadikan gadis yang imut dan menggemaskan.
Jika yang lainnya asyik menyuapi anak-anak mereka. Maka berbeda dengan Seem dan Shella yang hanya terdiam canggung satu sama lain. Jika tatapan Shella pada makanan dipiringnya. Maka berbeda dengan Seem, tatapan tertuju pada wanita yang tengah asyik menyuapi kedua putranya sambil sesekali juga menyuapi dirinya sendiri.
"Ara kau tidak berubah sama sekali. Kau wanita terbaik. Wanita Impian. Entah sampai kapan perasaan ini menghilang. Kuharap suatu hari nanti kebahagiaan menjadi milikmu". Batin Seem tanpa sadar sudut bibir nya terangkat
Shella yang melihat tatapan tak biasa Seem pada Ara, membuatnya sedikit terganggu. Hatinya kenapa seperti ditusuk oleh ribuan pisau? Padahal Shella tahu jika Ayah dari anaknya itu sama sekali tidak menyukainya. Seem saja belum menjawab apakah dia bisa menikahi Shella. Bahkan Seem meminta waktu untuk memikirkannya.
"Aku yang terlalu berharap banyak. Padahal dia sama sekali tidak menyukaiku. Dia hanya menyukai Ara, harusnya aku sadar bahwa dia tidak pernah menyukaiku". Batin Shella mengenduskan nafas pelan
"Mommy, suapi Ayah". Renggek Nara. Dia berharap Jovan benar-benar menjadi Ayahnya
Jovan tersenyum canggung. Sedangkan Ara tersenyum manis. Sudah tak aneh anak-anak nya itu memang suka sekali membuatnya gemes.
"Sini Ayah". Ara mengambil satu sendok nasi
"Buka mulutmu Ayah". Suruh Nara. Jovan menurut saja dan menyambut suapan dari Ara. Jantungnya kembali berdegup. aahhh benar-benar tak bisa diajak kerja sama, gerutu Jovan dalam hati
"Mommy, Papa juga mau". Ujar Zeno tak mau kalah. Naro dan Aldo mencebik kesal. Selalu saja mereka merebutkan Ara.
"Sini Papa".
"Buka mulut mu Pa". Perintah Zeno.
Nickho menurut dan membuka mulutnya.
"Horeeeeeee". Zeno berjingkrak senang. Dia menjulurkan lidahnya mengolok Nara yang terlihat kesal.
Ara hanya bisa menggeleng gemes. Jika Zeno dan Zero menginginkan Ara bersama Nickho, maka Naro dan Nara ingin Ara menikah dengan Jovan. Kadang Ara dibuat pusing sendiri dengan keinginan aneh anak-anaknya. Untung saja kedua pria dewasa itu sama-sama paham, padahal dalam hati mereka sudah berharap dipilih, hehhe.
Seem benar-benar tercenggang melihat permandangan langka itu. Dia sampai tak percaya. Apalagi melihat Nickho seakrab itu dengan anak-anak Ara. Panggilan Papa itu membuat Seem iri. Sedangkan anak-anak Ara memanggilnya dengan sebutan Uncle. Sungguh jauh sekali.
"Ayo habiskan makannya". Perintah Ara
"Iya Mommy".
"Iya Bunda".
Setelah selesai makan. Shella dan Ara membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke wastafel. Meski ada pembantu dan pelayan tapi kedua Ibu itu selalu kompak dalam melayani anak-anak mereka.
"Ra"
"Iya Kak". Ara baru saja menyimpan piring yang sudah dia cuci "Ada apa Kak?". Ara mengelap tangannya dengan sapu tangan yang sengaja digantung didekat wastafel.
"Apa kau sudah lama mengenal Seem?". Tanya Shella hati-hati.
"Sudah Kak. Sebelum menikah dengan Kak Han aku sudah mengenalnya. Kenapa Kak?". Tanya Ara balik.
"Tidak hanya ingin bertanya saja". Sahut Shella tersenyum. Padahal banyak yang ingin dia tanyakan pada Ara.
Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara