Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 110. William dan Martha 2



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


William menggenggam tangan gadis yang sedang duduk melamun dikursi roda. Tatapannya kosong dan wajahnya tampak sendu seperti banyak kesedihan yang terlihat. Sejak terbangun dari koma beberapa waktu lalu. Gadis itu tak banyak bicara saat mengetahui dirinya tidak bisa berjalan.


“Mar”. William menatap wajah gadis itu. Dia menyeka air mata yang luruh dipipinya “Jangan bersedih terus. Aku selalu bersamamu”. Ucap William lembut mengusap pipi Martha


“Will”. Martha menatap William dengan perasaan bersalah “Maafkan aku Will”. Lirih Martha.


William menggeleng “Tidak Mar. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku yang meminta maaf karena sudah mengabaikanmu selama ini”. Ucap William tulus “Kamu seperti gara-gara aku. Maafkan aku ya”. William menggenggam tangan Martha.


Martha menunduk air mata kembali jatuh dipipinya “Aku sadar apa yang sudah aku lakukan pada Ara. Aku sudah jahat padanya. Aku melukainya. Aku mencelakainya dan membuatnya menderita, hikssss”. Isak Martha.


William merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukkannya. Martha banyak berubah setelah kecelakaan yang dialami. Gadis itu terlihat sangat menyesal.


“Aku pantas menerima hukuman ini Will”. Ucap Martha masih terisak dipelukkan William. Dia menangis lagi dalam pelukkan laki-laki yang sangat dicintainya ini.


William mengelus punggung Martha dengan sabar. William baru menyadari perasaannya jika dia juga jatuh cinta pada gadis ini. Meski terlambat tapi William ingin memperbaiki semuanya dengan menjaga dan merawat Martha.


Saat William tahu kehidupan Martha, dia merasa bersalah karena selama ini dia selalu mengabaikan gadis itu. Martha hanya ingin dicintai oleh orang yang dia cintai. Dia merindukan cinta yang sudah lama menghilang sejak kematian Ayahnya. Martha tak mendapatkan kasih sayang dari Ibu nya karena Ibunya selalu sibuk dengan dunia nya sendiri.


William melepaskan pelukkannya “Aku membawamu ke Amerika kita akan berobat kesana”. Ucap William


Martha menggeleg “Tidak usah Will. Aku tidak mau merepotkanmu”. Tolak Martha. Dia tidak mau berhutang budi pada orang lain.


William mengelus kepala Martha “Kau tidak pernah merepotkanku Mar. Aku ingin menebus semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Maaf sudah mengabaikanmu”. Tandas William


“Tapi aku cacat……”.


“Stttt, aku tidak peduli. Aku menerimamu apa adanya. Setelah kau sembuh aku akan segera menikahimu. Daddy dan Mommy merestui kita. Jadi tidak ada alasan untukmu menolak”. Sergah William.


Martha berkaca-kaca. Rasa seperti bermimpi saat pria ini mau menikahinya. Rasanya bermimpi pria yang dia kejar setengah mati ini, mau menerima dia apa adanya. William akan memperjuangkan Martha. Setelah mendengar nasehat Nathan dan Ibu nya. William yakin dengan perasaannya dia akan memperjuangkan gadis yang duduk dikursi roda ini. Dia yakin jika Martha adalah gadis yang tepat menjadi pendamping hidupnya.


“Terima kasih Will. Aku mencintaimu”. Martha memeluk William.


“Aku juga mencintaimu Angelina Martha”. Balas William tersenyum bahagia memeluk gadis ini. Tak disangka William bisa begitu mencintai gadis cacat yang ada didalam pelukkannya ini. Setelah mengabaikan cinta yang tulus, William bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk memiliki cinta itu.


“Ayo”.


William mendorong kursi roda Martha. Mereka bersiap-siap berangkat ke Amerika. Disana Martha akan melakukan beberapa terapi untuk menyembuhkan kelumpuhannya. Karena menurut dokter Martha tidak lumpuh permanen jadi masih ada kemungkinan bahwa dia bisa sembuh dari penyakit lumpuhnya.


Martha bersandar dibahu William, sekarang mereke sedang berada di pesawat milik Seem. Seem menyuruh William mengantar Martha dengan jet miliknya. Seem pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta jadi dia paham perasaan William yang ingin gadisnya segera sembuh.


“Will”.


“Iya Mar?”.


“Apa kalian sudah menemukan dimana Ara?”. Tanya Martha masih bersandar dibahu William sambil menikmati penerbangan yang cukup memakan waktu panjang itu.


William menghela nafas “Belum. Kak Seem sudah berhenti mencari dimana Ara?”. Sahut William bernafas berat rasanya.


William terdiam sejenak. Jika sudah berbicara tentang Ara, dadanya selalu sesak. Bukan karena perasaan William masih untuk Ara. Tapi karena dia kecewa saat Ara memilih bersama pria lain. Walaupun di video itu hasil editan William tetap saja merasa kecewa. William sudah menyelidiki alasan Ara pergi dan benar Ara pergi bersama pria lain dan meninggalkan Kayhan.


“Karena Ara tidak akan kembali. Ara telah bahagia bersama pria lain dan dia memilih pria lain dibandingkan Kayhan”. Jawab William


Martha tercenggang yang benar saja Ara berkhianat.


“Will maksudmu Ara selingku begitu?”. Seru Martha menatap kekasihnya.


William mengangguk “Aku sudah menyelidiki semuanya dan benar Ara pergi bersama Tuan Jovan, pemilik Van Derg Group”. Sahut William


Martha menggeleng tak percaya “Tidak Will. Aku yakin Ara tidak seperti itu”. Bantah Martha.


Martha memang bekerja sama dengan Bagaskara menyingkirkan Ara tapi dia tidak tahu jika Ara benar-benar mendua. Yang Martha tahu Ara pergi bersama Roger dan sahabatnya. Karena Martha juga mengenal William, sahabat Roger.


“Tapi kenyataannya begitu Will”. Sahut William


Martha menghela nafas kasar. Apa sebenarnya yang Bagaskara lakukan pada Ara? Kenapa semua orang mengatakan jika Ara berkhianat dan menduakan Kayhan.


“Will”.


“Iya Mar?”.


“Aku mau ngomong sesuatu”. Ucap Martha matanya berkaca-kaca.


“Apa Mar?”.


“Tapi aku mohon jangan marah dan tinggalkan aku karena aku sekarang menyesal karena telah menyakiti Ara”. Lirih Martha berkaca-kaca saat mengingat apa yang dilakukannya pada Ara.


William tersenyum “Aku tidak akan marah Mar. Aku menerimamu apa adanya. Aku menerima masa lalumu. Jangan takut mengatakannya. Walaupun itu salah, tapi berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi”. Ujar William lembuat.


Martha mentralisir perasaannya “Will, aku yakin Ara tidak mendua. Ini pasti ada hubungannya dengan Bagaskara. Kau tahu kan Will, yang menyebabkan kecelakaan itu adalah rencana Bagaskara untuk membunuh Ara dan memisahkan Ara dan Kayhan. Jadi aku yakin jika informasi yang kamu dapatkan itu hasil sabotase Bagaskara. Dia orang berkuasa Will, dia bisa melakukan apa saja dengan kekuasaannya”. William terdiam mencerna ucapan Martha.


“Aku mengenal Ara sudah lama Will. Dia bukan wanita seperti itu. Jika memang dia mau meninggalkan Tuan Kayhan pasti sudah lama”. Ucap Martha lagi “Kau tahu kan aku pernah bekerja sama dengan Bagaskara? Bagaskara akan terus mengusik Ara selama dia masih hidup dan dia takkan membiarkan Ara kembali lagi pada Tuan Kayhan. Bahkan dia menyuruhku menjadi umpan agar Ara keluar dari persembunyian. Tapi itu tidak berhasil karena ada Kak Roger dan Kak Jovan yang melindungi Ara”. Jelas Martha.


William menatap Martha “Apa itu benar?”. Tanya William terbata-bata


“Aku yakin Will. Kalian sudah salah menilai. Ara tidak seperti yang kalian pikirkan. Dia gadis yang baik dan tulus”. Tungkas Martha lagi.


William terdiam. Jika yang dikatakan Martha benar bahwa dibalik perginya Ara adalah rencana Bagaskara. Maka William takkan memaafkan tua Bangka itu.


Sedangkan Martha merasakan penyesalan. Betapa jahatnya dia pada Ara. Bahkan tega mengatakan putus hubungan, padahal Ara adalah sahabat yang selalu mengerti kondisi Ara.


**Bersambung.....


Kayhan ❤️ Kimara**