
**Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sapardi Djoko Damono
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹**
Ara duduk didepan komputer nya, setelah tiga bulan kepergian Mey, Ara memaksa dirinya untuk bekerja. Ara juga meminta kepada Kayhan supaya pernikahan mereka ditunda sebulan lagi karena Ara sedang ingin memperbaiki hatinya.
"Ra". Martha dan William menghampiri Ara.
Ara membalas dengan memaksakan senyum diwajah rapuhnya.
"You okay?". Tanya Martha sambil mengelus punggung Ara. Sedangkan William hanya menatap Ara dengan sendu dan sayu. William tidak tega melihat penderitaan Ara. Sungguh kisah hidup gadis ini sangat mneyakitkan. William tidak bisa bayangkan bagaimana sakitnya menjadi Ara.
"I'm okay". Sahut Ara pelan, sambil mencoba tersenyum gentir kearah Martha dan William.
"Kita makan siang yuk". Ajak William menatap Ara.
Ara mengangguk lalu membereskan meja kerjanya dan mematikan komputer miliknya.
"Ra, jangan terlalu sedih ya. Masih ada kami yang menyanyangi mu, kau tidak pernah sendirian". Ucap Martha tulus, tangannya masih terulur mengelus pundak Ara.
"Iya Ta, Will thanks ya". Ucap Ara lagi.
Mereka bertiga, berjalan melalui pintu lift. Hari ini Martha dan William sengaja mengajak Ara makan siang diluar, untuk menghibur gadis itu.
Tatapan mata William terus saja tertuju pada Ara. Dia salut pada gadis ini, setelah sekian banyak masalah yang menimpanya gadis ini tak pernah terlihat mengeluh, atau sekedar merenggek pada orang lain. William kagum, dengan kepribadian Ara yang menurut nya langka dan unik. Gadis sesabar Ara diterpa berbagai masalah tapi tetap saja masih bisa terlihat tersenyum meskipun terpaksa.
William tidak tahu saja, bagaimana sulitnya Ara hidup. Ara tetaplah Ara yang selalu enggan terbuka pada orang lain walaupun itu sahabat nya sendiri. Ara selalu menyembunyikan kesedihannya, gadis itu tak ingin banyak orang yang tahu betapa sulitnya dia hidup. Apalagi sekarang dirinya hanya sendirian tentu saja itu membuat orang empati, tapi Ara yang keras kepala tidak ingin dikasihani. Baginya hidup dalam kesendirian adalah sesuatu yang bukan asing lagi.
"Sayang". Panggil seseorang. Mereka bertiga langsung menoleh kearah sumber suara.
Tampak Kayhan dan Cody tengah berjalan menghampiri ketiganya
"Kakak". Senyum Ara.
Ya semua orang sudah tahu hubungan Ara dan Kayhan. Meskipun banyak yang mencibir Ara dan lebih tepatnya mereka iri, tapi Kayhan selalu mempertegas hal itu pada Ara bahwa jangan memperdulikan pendapat orang lain, karena mereka yang menjalani.
"Ikut aku yuk". Ajak Kayhan sambil menyelipkan anak rambut Ara ke daun telinganya dengan senyum mengembang. Tanpa memperdulikan manusia-manusia yang menatapnya dengan iri.
"Kemana Kak? Aku mau makan siang bersama Atta dan Willy". Sahut Ara.
Kayhan tersenyum "Rahasia". Kayhan mengedipkan matanya kearah Ara, hal itu membuat Ara terkekeh. Lebih tepatnya pura-pura tertawa kecil, menyembunyikan kesedihannya.
"Tapi bagaimana dengan mereka?".
"Sudah Ra, ikut saja dengan Tuan Kayhan. Aku dan William akan makan berdua saja". Sambung Martha, karena dia tahu jika Ara selalu merasa tidak enakkan.
"Ya sudah kalau begitu aku duluan ya Ta, Will". Senyum Ara pada kedua orang itu.
"Iya Ra, hati-hati". Martha melambaikan tangan tangan. Sedangkan William tidak merespon wajahnya datar dan juga dingin.
"Silahkan Tuan, Nona". Cody membukakan pintu mobil untuk keduanya.
Kayhan membantu Ara masuk kedalam mobil, tangan sebelah kanannya dijadikan pelindung kepala Ara supaya tidak terantuk di kap mobil.
Cody tersenyum melihat tingkah Kayhan yang begitu peduli pada Ara, Cody yang menemani Kayhan selama sepuluh tahun, sangat tahu bagaimana kepribadian Tuan-nya ini.
Kayhan juga masuk kedalam mobil menyusul Ara. Senyum tak pernah pudar dari wajah pria tampan itu.
"Kak, kita mau kemana sebenarnya?". Tanya Ara penasaran.
Kayhan mengenggam tangan Ara, lalu mengecup punggung tangan gadis itu "Aku ingin membawamu bertemu orangtuaku, sebelum mereka kembali ke Australia". Senyum Kayhan.
"Tapi, apa mereka akan menerimaku Kak?". Tanya Ara sedikit cemas, takut jika ditolak.
"Jika mereka menolak mu, apa kau akan berhenti berjuang denganku?". Tanya Kayhan, manik matanya menatap mata Ara ingin tahu apa tanggapan gadis ini.
Ara menggeleng "Kecuali Kakak yang menyuruhku pergi. Bukan kah kita sudah berjanji apapun yang terjadi, kita akan lewati bersama?". Jawab Ara dengan senyum mengembang.
Perasaan Kayhan terasa hangat mendengar jawaban dari gadis disampingnya ini "Iya sayang, terima kasih ya sudah mau berjuang bersamaku. Aku akan selalu ada untukmu berjanjilah jangan pernah pergi". Balas Kayhan.
"Iya Kak, aku berjanji pada Kakak". Senyum Ara mengembang, sebenarnya dia sangat takut bertemu orangtua Kayhan tapi dia harus berani mengambil resiko, hatinya sudah terlanjur pria ini sangat malah.
Kayhan menyandarkan kepala Ara didada bidang miliknya. Kayhan sangat bahagia memiliki Ara, gadis sederhana yang tak pernah meminta apapun padanya.
"Sayang, kita ke salon dulu ya". Ajak Kayhan.
"Mau apa kita kesana Kak?". Tanya Ara heran.
Kayhan tersenyum gemes, lalu menciun pipi Ara "Ya dandalah sayang, masa iya orang disalon makan". Celetuk Kayhan terkekeh lucu mendengar pertanyaan Ara.
Bibir Ara mengerecut "Kak, bukannya aku menolak niat baik Kakak. Apa sebaiknya tidak usah saja Kak, aku ingin menjadi diri sendiri saat bertemu orang tua Kakak. Aku ingin mereka tahu aku yang sebenarnya, bukan bersembunyi dibalik make up yang bisa luntur". Ujar Ara mengenggam tangan Kayhan.
"Tapi sayang.....".
"Kak, cantik itu adalah bonus. Jika memang aku cantik tidak perlu make up, begini saja sudah terlihat cantik 'kan? Jadi untuk apa make up dan baju yang mahal, yang terpenting adalah bagaimana aku mencintai Kakak". Ara mengelus wajah Kayhan dengan lembut "Cantik itu bisa luntur Kak, tapi ketulusan hanya dimiliki oleh mereka yang setia. Aku mencintai Kakak tanpa syarat, bukan karena Kakak kaya atai karena Kakak tampan bukan juga karena Kakak sudah membantuku, tapi aku mencintai Kakak tanpa alasan. Kenapa tanpa alasan? Karena jika suatu saat alasan itu hilang aku juga akan berhenti mencintai Kakak, tapi jika tanpa alasan aku selalu mencintai dan menyayangi Kakak meskipun didepanku ada banyak duri yang akan aku injak". Sambung Ara lagi.
Kayhan berkaca-kaca mendengar ucapan Ara. Sungguh, tak bisa Kayhan ucapkan dengan kata-kata betapa dia bersyukur nya memiliki gadis seperti Ara. Selama menjalin kasih tidak pernah meminta apapun, bahkan gadis itu yang selalu memberikan segalanya untuk Kayhan, kasih sayang dan perhatian yang tidak pernah Kayhan dapatkan orang lain termasuk keluarga nya sendiri.
"Sayang, terima kasih. Aku bangga memilikimu. Aku juga mencintaimu tanpa syarat, aku berjanji apapun yang akan kita hadapi aku tidak akan meninggalkanmu. Aku menjadi orang satu-satunya tempatmu mengadu". Kayhan kembali menarik Ara dalam pelukkannya. Setetes air mata bahagia jatuh dipipi Kayhan.
"Betapa beruntungnya Tuan memiliki gadis seperti Nona Ara. Andai saja aku yang pertama mengungkap perasaan pada Nona Ara, pasti aku adalah pria paling bahagia. Semoga Tuan dan Nona bahagia selamanya dan semoga Tuan mendapat restu dari Tuan Besar dan Nyonya Besar". Batin sambil tersenyum mendengar percakapan kedua orang dibelakang nya.
**Bersambung.....
Salam hangat
Kayhan ❤️ Kimara**.