Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 155. Dia Papi Ado



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Diruang tamu. Tampak Ara, Aldo, Seem, Shella, John dan Jovan. Sementara anak-anak Ara sudah ditidurkan lebih dulu oleh Ara.


Jovan dan Ara duduk menghimpit Aldo. Sedangkan Shella hanya bisa menunduk melihat tatapan kecewa putranya. Entah kenapa Shella merasakan cemburu ketika Aldo lebih patuh pada Ara yang notabene hanya Ibu angkat dibanding dia yang Ibu kandung? Entah kenapa perasaan bodoh Shella seakan iri pada Ara yang selalu bisa membuat Aldo merasa nyaman. Padahal dia juga Ibu kandung Aldo tapi dia tidak bisa membuat putranya itu merasa beruntung memiliki nya sebagai Ibu.


"Maafkan Mami Ado". Ujar Shella menatap putranya.


Sementara Seem juga berkaca-kaca. Tak dia sangka bocah yang pernah bertemu dengannya itu adalah putranya. Pantas saja dia merasa ada ikatan batin.


"Ado". Panggil Seem "Maafkan Papi". Ujar Seem berharap sekali ingin merengkuh tubuh putranya itu. Seem tak mengira jika cinta satu malam bisa menghasilkan pria kecil setampan Aldo.


Aldo membuang muka tak mau menatap kedua orangtuanya. Entah kenapa dia kecewa? Dia kecewa pada Mami-nya yang mengatakan jika Papi-nya sudah meninggal.


"Jelaskan". Suruh Aldo dingin tanpa menatap kedua orangtuanya.


Jovan dan Ara kompak mengelus punggung Aldo. Berusaha menangkan emosi bocah berusia sepuluh tahun ini.


"Mami". Seem mencegah Shella. Dia meminta agar dia saja menjelaskan.


"Begini Ado. Sepuluh tahun yang lalu, kami dijebak oleh orangtuaku. Kami sama-sama patah hati, sehingga kami yang dalam pengaruh obat melakukan kesalahan satu malam, hingga kamu hadir". Jelas Seem menatap putranya "Maafkan, Papi". Ujar Seem dia mengigit bibir bawahnya menahan tangis.


"Lalu kenapa kau tidak bertanggung jawab? Dan menikahi Mami?". Cecar Aldo menatap tajam Seem. Tatapan keduanya sama tajam dan juga dingin.


"Ado".


Lagi-lagi Seem menahan Shella untuk berbicara "Papi mencari kalian berdua setelah kejadian itu, tapi Papi tidak menemukan kalian. Sejak saat itu Papi menderita Gynopobia atau alergi terhadap wanita". Seem menghela nafas berat "Maafkan Papi". Sambung Seem lagi.


"Kenapa Mami mengatakan jika Papi sudah meninggal? Kenapa Mami berbohong? Kenapa Mi?". Teriak Aldo pada Shella


Shella berjingkrak kaget begitu juga dengan yang lainnya.


"Kenapa Mami bilang seperti itu? Apa Mami tidak ingin Ado punya Papi? Apa Mami tidak suka Ado bahagia? Ado pengen seperti anak-anak yang lainnya Mi, punya orangtua utuh". Tatap Aldo sambil menangis.


Shella menggeleng "Bukan begitu sayang. Maafkan Mami. Mami hanya takut kehilangan Ado. Ado segalanya untuk Mami. Maafkan Mami". Shella berusaha meraih tangan putranya dengan deraian air mata.


Aldo secepatnya menarik tangannya. Tatapan Aldo terarah pada Seem.


"Aku juga bukan putramu. Jika aku putramu, pasti kau akan mencariku dan tidak menyerah begitu saja. Tapi lihatlah sekarang, setelah aku sudah besar kau datang dan mengatakan kau Papiku. Aku membencimu. Kemana saja kau selama ini? Kau membiarkan aku tumbuh tanpa kasih sayangmu. Kau tahu, aku selalu dihina karena tidak memiliki Papi, untung saja ada Ayah yang selalu melindungi ku". Teriak Aldo pada Seem sambil menangis. Pria kecil itu terluka, pria kecil itu merasakan perih. Selama ini dia selalu menahan kecewa dan sakit sendirian ketika teman-teman nya membully dia yang tidak punya Ayah.


Seem membeku ditempatnya. Tanpa permisi pria itu meneteskan air mata. Teriakkan Aldo memenugi gendang telingannya, kenapa sakit sekali?.


"Ado". Suara Seem dan Shella tercekat.


"Ado". Ara langsung menarik tubuh Aldo kedalam pelukkannya.


"Menangislah Nak".


"Hiks hiks hiks hiks hiks Bunda. Kenapa Mami jahat sama Ado? Kenapa Mami mengatakan kalau Papi sudah meninggal? Hiks hiks Bunda". Tangis Aldo semakin keras dipelukkan Ara. Untung saja Quardruplets KM sudah tidur, jika mereka mendengar teriakkan Aldo mereka pasti menangis juga.


John juga tak mampu menahan harunya, dia paham perasaan Tuan Kecil nya itu. Sedangkan Jovan juga terdiam menyaksikan. Jovan lah yang lebih tahu bagaimana menderitanya perasaan Aldo. Oleh sebab itu dia memutuskan untuk mengangkat anak Ara dan anak Shella, agar mereka merasakan bagaimana punya Ayah. Namun tetap saja perasaan anak kecil itu tidak bisa dibohongi.


"Bunda, hiks hiks hiks". Tangis Aldo pecah dengan hebatnya. Badannya sampai bergetar.


Shella da Seem juga menangis segugukan. Penyesalan mereka justru menumbuhkan rasa benci dan dendam dihati Aldo.


Seem merasakan patah hati hebat saat ini. Sekarang dia paham bagaimana perasaan Ayah dan Ibu nya saat Seem mengatakan membenci kedua orangtuanya. Sekarang Seem memahami betapa terlukanya ketika darah daging kita sendiri membenci dan bahkan mengatakan kekecewaan yang teramat sangat.


Ara mengelus punggung Aldo. Aldo masih menangis dipelukkan wanita empat anak itu. Dari dulu pelukkan Ara memang selalu bisa membuat Aldo merasa lebih baik. Pelukkan Ara seperti sebuah sentuhan yang membuat jiwa Aldo kembali hidup.


"Bunda, hikssss". Tangis Aldo masih terdengar keras. Jovan juga meneteskan air matany, memahami kesakitan pada pria kecil itu.


"Ado". Jovan mendekat lalu memeluk kedua orang itu. Kedua orang yang sama berartinya dalam hidup Aldo.


"Ayah, hiksss". Renggek Aldo memeluk kedua orangtua angkatnya bersamaan.


"Ayah paham perasaan Ado. Menangis lah Son, selagi pelukkan Ayah bisa memberikan kenyaman untuk Ado. Tapi setelah ini, Ayah tidak akan membiarkan Ado menangis karena kecewa, Ayah akan buat Ado menangis karena bahagia". Ujar Jovan mengelus pundak Aldo.


Ara ikutan tersenyum mendengar penuturan Jovan. Kakak angkatnya itu selalu hebat dalam merangkai kata-kata. Tapi sayangnya. Ara sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Jovan. Meski Jovan dengan terang-terangan mengatakan perasaannya.


"Ayah, Bunda hiksssss". Secara bersamaan Jovan dan Ara mengelus pundak Aldo dengan sabar. Membiarkan pria kecil itu meluapkan semua kecewa dan emosinya melalui tangisan.


Hingga baju Ara dan Jovan terasa basah karena air mata Aldo.


Sedangkan Seem dan Shella sudah tak mampu mengungkapkan apa-apa lagi. Perasaan bersalah dan menyesal masih menelusup dihati keduanya.


Penyesalan Shella adalah ketika dia pergi dan menghilang menghindari Seem sampai dia diusir dari keluarga nya karena hamil diluar nikah. Shella takut kala itu Seem akan memaksa nya mengugurkan kandungannya. Apalagi ketika mereka bercinta Seem terus menyebut nama kekasihnya membuat Shella enggan untuk bertemu pria itu.


Sementara Seem, sejak kejadian itu dia menderita Gynopobia akut. Dia memang sempat berhenti mencari keberadaan wanita yang telah dia renggut kesuciannya. Apalagi setelah dia bertemu Ara, perasaan nya untuk mencari Shella semakin hilang. Seem berharap, Ara adalah gadis yang akan membawanya keluar dari semua masalah nya dan berharap Ara adalah jodoh yang dia nantikan selama ini, hal itu terbukti ketika bertemu Ara Gynopobia Seem menghilang dan dia sembuh. Namun lagi-lagi takdir berkata lain


Bersambung....


Kayhan ❤️ Kimara