Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 42. Aku tidak akan meninggalkanmu



Jika mencintaimu adalah hal yang membahagiakan, lantas untuk apa aku memilih pergi?


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ara mematung ditempatnya, dia mendengar semua ucapan mertua dan Kakak mertuanya. Hati Ara terasa teriris saat mendengar orangtua Kayhan meninggalkan dirinya.


"Baik, aku akan pergi dari Mansion ini". Tegas Kayhan menatap tajam kearah mereka "Aku ingat sampai mati atas apa yang kalian lakukan pada Ara. Jangan kalian pikir aku tidak tahu". Ucap Kayhan dingin.


"Kak". Seketika Kayhan membalikkan badan saat mendengar suara istri kecilnya.


"Sayang". Kayhan merasa sakit saat melihat air mata membasahi pipi Ara.


Ara mendekat kearah Kayhan. Sedangkan Wena, Erna, Bagas dan Bagaskara mencibir tidak suka.


"Kak". Ara menatap Kayhan "Ikutilah kemauan orangtuamu, dan tinggalkan aku. Mereka benar, apa yang bisa Kakak harapkan dariku, aku hanya gadis mandul yang tidak akan bisa memberi mu keturunan".


"Sayang". Suara Kayhan tercekat saat melihat air mata berjatuhan dipipi mulus istrinya.


Kayhan menggelleng "Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sayang. Kau lah segalanya untukku. Kita akan terus bersama dan aku ingin selalu berada disampingmu". Kayhan menangkup wajah istrinya.


"Kak".


"Tidak sayang". Potong Kayhan "Aku rela menderita asal selalu bersamamu. Aku tidak butuh apa-apa, selain dirimu". Ucap Kayhan air mata juga jatuh pipi tampan pria itu. Lalu Kayhan memeluk Ara dan tak peduli dengan kedua orangtua, Kakek dan Nenek nya.


Bagaskara, terdiam ditempatnya kenapa hatinya jadi tererenyuh saat melihat betapa cintanya Kayhan pada Ara.


"Cepat ambil barang kalian". Sentak Wena setengah beteriak, dia menatap Ara dengan benci. Dia akan membuat gadis itu menderita karena sudah berani merebut cucunya.


Kayhan dan Ara melepaskan pelukkan mereka. Kayhan mengenggam tangan Ara dengan erat.


"Mulai saat ini kita putus hubungan darah". Sambil Bagas mengoreskan pisau ditelapak tangannya, sehingga darah menetes dilantai.


Deg


Hati Kayhan terasa terputus saat mendengar ucapan Daddynya. Kayhan bahkan menatap tak percaya pada Daddy kandungnya tengah memutuskan hubungan darah dengannya.


"Cepat bawa barang kalian dan keluar dari sini". Erna berteriak sambil melempar koper Kayhan dan Ara yang disiapkan oleh para pelayan di Mansion mewah itu.


Semua pelayan tercenggang melihat Tuan Muda mereka diusir. Yang lebih membuat mereka tak menyangka Bagas memutuskan hubungan darah dengan Kayhan, apa dia tidak menyesal nantinya.


"Baik, aku akan pergi dari sini. Dan ingat, kalian adalah orang asing bagiku, detik ini juga aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini dan anda Tuan Bagas yang terhormat, terima kasih sudah memutuskan hubungan darah denganku. Mulai saat ini anda bukan lagi Ayah kandungku". Setelah berbicara, Kayhan menarik tangan Ara dan membawa kopernya untuk pergi dari sana.


Bagas, membeku saat mendengar ucapan putranya. Seketika hatinya, terasa teriris dan tertusuk benda tajam. Niat hati ingin mengancam putranya, karena dia tahu jika Kayhan adalah pria yang patuh pada orang tua. Tapi lihatlah sekarang, putranya sendiri pergi dan berhenti memanggilnya Daddy.


Erna tersungkur dilantai, dia menangis sejadi-jadinya. Kayhan tega meninggalkan dirinya demi istrinya sendiri. Kayhan adalah putra kesayangannya Erna, tapi kenapa lebih memilih orang lain dari pada dirinya sendiri?


Wena juga terdiam, wanita lansia itu menghela nafas kasar, dadanya juga serasa sesak apalagi melihat cucu nya pergi tanpa permisi.


Sedangkan Bagaskara terduduk tak menyangka. Dia pikir Kayhan akan lebih memilih harta dibanding Ara? Karena Kayhan sudah terbiasa hidup mewah.


Kayhan berjalan keluar dari Mansion, tangan kanannya menggenggam tangan Ara dengan erat. Berusaha untuk kuat dengan genggaman sang istri.


"Kak". Ara menatap suaminya dengan sendu "Maaf". Lirih Ara.


Kayhan tersenyum dan menggeleng "You are my everything, i never leave you". Sahut Kayhan sambil memaksakan senyum.


"Tuan". Cody menatap Kayhan dengan sendu. Assisten Kayhan itu tiba-tiba dibuat tercenggang oleh perintah Bagaskara yang mengambil alih perusahaan Kayhan, dan bahkan Bagaskara mengambil semua harta Kayhan tanpa sisa. Cody yang disuruh mengubah semuanya, sempat menolak tapi saat keluarganya diancam akhirnya Cody mengalah.


"Maaf".


Kayhan menatap Asisstennya dengan senyum "Aku titip perusahaan padamu". Kayhan menepuk bahu Cody "Aku yakin kau orang yang tepat untuk memimpinnya. Aku pamit". Ucap Kayhan.


"Istirahat dulu ya sayang". Ajak Kayhan saat mereka sudah sampai disebuah minimarket "Kita beli minum dulu, kamu pasti haus". Seru Kayhan.


"Iya Kak". Mereka berdua duduk dikursi depan Minimarket


"Tunggu disini ya aku belum minum dulu". Ucap Kayhan meletakkan kopernya dan melepaskan genggaman tangannya.


"Iya Kak". Ara memaksakan senyum diwajahnya.


Ara menatap punggung suaminya dengan tatapan sendu. Kenapa kisah hidupnya begitu menyedihkan? Tapi Ara bersyukur setidaknya Ara memiliki suami yang menyanyangi dan mencintainya dengan tulus.


Flashback on.


Semua pekerjaan Ara telah selesai, wanita itu sedang menata dan menyusun bahan makanan dikulkas.


"Kau". Ara membalikkan badannya ketika mendengar suara dibelakang nya.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?". Ara membungkukkan badannya memberi hormat.


"Ikut saya". Ajak nya dengan wajah datar dan dingin.


Ara mengikuti langkah Bagaskara, dalam hati Ara bertanya-tanya ingin apa Kakek mertuanya itu?


"Ada apa Tuan?". Tanya Ara saat mereka sudah tiba diruang kerja Bagaskara.


"Duduk". Perintah Bagaskara dingin. Wajahnya menampilkan senyuman licik dan menatap Ara dengan remeh.


Bagaskara menyerahkan cek pada Ara "Tulis berapa saja yang kau mau. Dan tinggalkan Kayhan". Ucap Bagaskara santai.


Ara mengarahkan pandangan nya pada Bagaskara, dia menatap pria berumur lansia itu.


"Apa maksudmu Tuan?". Ara bahkan menatap tak percaya pada Kakek mertuanya.


"Apa kurang jelas? Tinggalkan Kayhan. Aku tahu kau menikahi cucuku, karena uangnya kan? Sekarang katakan berapa yang kau mau dan pergi sejauh mungkin dari hidup Kayhan". Tandas Bagaskara.


Ara menggeleng "Saya tidak akan pernah meninggalkan suami saya. Anda tidak bisa menyongok saya dengan uang. Saya mencintai suami saya dengan tulus bukan karena uang". Tegas Ara.


Tangan Bagaskara terkepal, dia berdiri dari duduk dan mencengkeram dagu Ara dengan keras.


"Ternyata kau memang tidak tahu dirinya, cihhh". Bagaskara meludahi wajah Ara lalu menghempaskan dahinya dengan kasar.


Plakkkkkk


Satu tamparan mendarat dipipi Ara, sudut bibir Ara mengeluarkan darah


"Dengar gadis murahan, aku tidak akan membuatmu hidup tenang". Ancam Bagaskara lalu dia menentang Ara dengan keras dan keluar dari ruang kerjanya dengan membanting pintu.


Ara meringgis kesakitan sambil menyeka air matanya "Hiks, Kak Han. Aku berjanji apapun yang aku hadapi, aku akan selalu bersamamu". Lirih Ara sambil berdiri memegang perutnya dan keluar dari ruang kerja Bagaskara.


Ara menuju kamarnya, mengambil kotak P3K untuk mengobati bibirnya yang sedikit kebab karena ditampar oleh Bagaskara.


Flashback off.


**Bersambung.........


Salam hangat.


Kayhan ❤️ Kimara**