
Perasaanku takkan berubah sampai kapanpun. Aku akan tetap mencintaimu dengan tulus...
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Saat ini Joana tengah melakukan fashion show bersama Shella. Mereka tampak cantik dengan busana yang melekat ditubuh keduanya.
Joana berjalan lengak lengok melihat kekiri dan ke kanan dengan fose yang berbeda-beda. Tepukkan riuh terdengar menggema digedung itu. Suara cekreekkkk kamera saling bersahutan, suara MC yang memandu acara kian menyeluruh.
Shella juga melakukan hal yang sama. Masih sangat cantik meski sudah melahirkan anak. Takkan ada yang mengira jika wanita itu sudah memiliki satu anak. Postur tubuh yang indah, dengan body bak gitar spanyol serta wajah cantik menjadikan Shella model papan atas.
Karier nya didalam dunia modeling melesit dengan cepat, dia bahkan sudah ditawari beberapa agensi untuk ikut gabung bersama perusahaan mereka keluar negeri, seperti Amerika dan Korea. Namun, Shella menolak karena dia tidak bisa keluar dari negara ini sampai keadaan kembali membaik.
Dikursi penonton ada Ara, Roger, Jovan, Jolenta dan Aldo yang menonton dengan heboh.
"Semangat Mami". Teriak Aldo dari jauh menyemangati Shella. Shella tersenyum simpul mendengar teriakkan putranya. Putranya itu selalu bisa membuat Shella tersenyum bangga dengan sikap menggemaskan yang kadang-kadang berubah dewasa.
"Kak Shella, Kak Nana". Teriak Ara juga heboh. Ibu hamil itu tampak bahagia dan senang melihat kedua sahabatnya bisa berdiri disana dan menjadi seorang bintang.
"Sayang jangan teriak". Tegur Roger mengelus kepala adiknya.
"Hehe Kakak". Ara hanya cenggegesan. Saat ini dirinya memakai topi dan baju tebal, dengan kaos tangan yang melekat dikedua tangannya.
Roger menatap kearah panggung. Dia menarik sudut bibirnya, saat Joana berfose dengan gaya feminim dan elegan. Gadis yang mudanya tiga tahun dari dia itu terlihat sangat cantik mengenakan pakaian mewah itu.
Roger selalu merasa gugup jika berdekatan dengan Joana. Gadis itu selalu membuatnya salah tingkah dengan sikap manja dan hebohnya yang selalu membuat Roger geleng-geleng kepala.
"Adikku memang hebat". Puji Jolenta bertepuk tangan juga.
"Cih, adikku juga". Jovan tak mau kalah.
Jolenta memincingkan matanya kesal "Dia takut padamu. Jadi dia hanya adikku bukan adikmu". Celetuk Jolenta.
"Kau........".
"Paman diamlah!!! Kalian ini sepelti anak kecilnya". Pekik Aldo kesal.
Ara dan Roger menahan tawa saat Aldo menegur kedua pria itu.
Sedangkan Jovan dan Jolenta langsung bungkam. Aldo benar-benar membuat mereka malu. Kecil-kecil cabe rawit.
Acara pun selesai, kini mereka ikut kedalam ruang Joana dan Shella.
"Kak Nana". Ara berhambur memeluk Joana "Selamat Kak. Kakak hebat". Ucap Ara.
"Terima kasih Ara. Kamu juga hebat". Joana melepaskan pelukkan nya dan mengacak rambut Ara "Bagaimana kabar dia hari ini?". Joana mengelus perut Ara.
"Katanya dia baik-baik saja Kak. Dia juga senang melihat aunty nya berdiri diatas panggung". Jawab Ara menampilkan wajah polosnya. Joana menggeleng sambil tersenyum, wajah Ara yang biasanya dingin dan tak pernah manja justru setelah hamil terlihat imut dan menggemaskan.
"Kak Shella". Ara beralih pada Shella dan memeluk wanita satu anak itu "Selamat Kak". Ucap Ara.
"Terima kasih ya sayang. Kamu sama bayinya sehat-sehat". Shella mengelus perut Ara dengan sayang "Sehat-sehat diperut Mommy ya sayang. Jangan nakal". Ucap Shella.
"Iya Aunty. Telima kasih". Ara menirukan suara anaknya membuat Shella tertawa lucu.
"Selamat ya Shell". Roger menyalimi Shella.
"Terima kasih Ger".
"Selamat Shell". Ucap Jolenta dan Jovan bersamaan sambil menyalimi Shella.
"Hai adik Kakak yang bawel, selamat ya". Jolenta memeluk Joana.
Sontak Jolenta melepaskan pelukkan Joana. Dia mencibir adiknya itu yang selalu suka mengatakan dia tidak laku.
Joana terkekeh puas melihat wajah Jolenta yang kesal. Menjadi hiburan tersendiri bagi Joana bisa menjahili Kakak nya.
"Selamat Na". Jovan memeluk adiknya.
Dengan antusias Joana membalas pelukkan Jovan, saking senangnya dia memeluk Jovan dengan erat.
"Na jangan kencang-kencang, Kakak susah nafas nihhh". Gerutu Jovan melepaskan pelukkan Joana. Wajahnya tampak kesal.
"Hehhe maaf Kak". Joana cenggegesan sambil mengaruk tengguk nya yang tidak gatal.
Roger mendekat kearah Joana dengan membawa sebuket bunga "Na, selamat ya". Roger menyedorkan bunga itu pada Joana.
Joana berkaca-kaca, pertama kalinya pria yang diam-diam dia cintai dalam diam memberinya bunga dengan senyuman mengembang.
"Terima kasih Kak". Joana terharu sekaligus bahagia.
"Cieeee, hmmmmmm". Goda Ara terkekeh. Ara tahu jika Joana menyukai Kakak nya dan begitupun sebaliknya.
Roger hanya tersenyum malu, wajahnya sudah merah merona.
"Sudah ungkapkan saja Ger. Nanti ada yang ambil lho". Celetuk Shella ikut menggoda.
"Iya Ger. Aku akan sangat merestui asal kau menjaga adikku dengan baik". Sambung Jolenta menepuk bahu Roger.
Jovan melangkah menghampiri Joana dan Roger yang masih betah pada posisi mereka.
Jovan mengambil tangan keduanya lalu menyatukan tangan Roger dan Joana.
"Kami merestui kalian jika kalian memang saling mencintai". Senyum Jovan.
"Terima kasih Kak". Ucap Joana tulus.
Joana menatap Roger "Kak Roger. Aku mencintai Kakak". Ucap Joana berkaca-kaca.
"Aku juga mencintaimu Na". Mereka saling berpelukan berdua. Sudah lama keduanya memendam rasa namun ditutupi dengan rasa gengsi.
Shella tersenyum bahagia melihat Roger dan Joana bersatu. Dia mengusap kepala Aldo yang memeluk lengan Ara dengan posessif. Shella teringat dulu bagaimana kisah cinta nya kandas ditengah jalan. Sehingga dia mabuk dan menghabiskan malam bersama pria yang tidak dia kenal. Saat mengingat wajah pria itu tangan Shella kembali terkepal, bagaimana tidak pria itu sedang bercinta dengannya tapi menyebut nama wanita lain.
Ara juga tersenyum bahagia. Akhirnya Roger menemukan kebahagiaan nya. Ara bahagia jika Kakak nya bahagia. Apalagi bersama orang yang tepat.
Jovan dan Jolenta mengalihkan pandangan mereka pada Ara. Kedua pria kembar itu ikut tersenyum saat Ara tersenyum. Karena senyum Ara bisa mengalihkan dunia mereka.
Mereka kembali kerumah sakit. Sedangkan Shella pulang ke rumah untuk memasak dan Joana ikut bersama Roger untuk mengurus jadwal kemoterapi dan USG Ara.
Jovan dan Jolenta menemani Ara bersama Aldo yang selalu menempel pada Ara. Mereka berdua meminta izin agar mereka saja yang menjaga Ara dirumah sakit.
Shella masuk kedalam rumah mewah milik Jovan beberapa pelayan menyambut nya.
"Bi, tolong buatkan makan malam untuk Ara ya. Siapkan juga makan malam untuk kami. Jangan lupa simpan dalam rantang, aku akan membawanya ke rumah sakit".
"Baik Nona".
Shella masuk kekamarnya untuk membersihkan diri. Wanita itu menghela nafas kasar. Saat mengingat hidupnya yang seperti ini.
"Dad, Mom". Gumam Shella teringat pada kedua orangtuanya. Mereka mengusir Shella saat tahu Shella hamil diluar nikah. Hampir enam tahun mereka tidak pernah bertemu lagi.
"Bagaimana kabar kalian?". Lirih Shella berkaca-kaca. Jika tidak ada Aldo dihidup Shella mungkin Shella takkan mampu melewati hidupnya.