Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 91. Wanita kuat



Menjadi kuat adalah pilihan ku satu-satunya.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹


Van Derg dan Syaneth sedang menuju rumah sakit bersama Jovanka dan kedua anaknya.


“Bagaimana keadaan Ara Ka?”. Tanya Syaneth tampak sekali kekhawatiran diwajah wanita paruh baya itu.


Jovanka menghela nafas kasar sambil mengelus kepala anak nya yang sedang tertidur digendongan Jovanka.


“Kata Hans, kondisinya semakin memburuk. Efek kemoterapi itu benar-benar berakibat fatal untuk tubuh Ara”. Jelas Jovanka.


“Apa Jovan dan Jolenta belum menemukan Dokter spesialis?”. Tanya Van Derg pada putrinya


“Belum Vad. Mereka sedang menghubungi Dokter Nickho. Mungkin beberapa hari lagi Dokter Nickho akan datang kesini”. Sahut Jovanka.


Terdengar helaan nafas berat. Van Derg memijit pelipihnya yang terasa sangat berat. Dia juga sedang berusaha mencari Dokter terbaik untuk Ara. Namun tetap semua Dokter tak sanggup dan mengatakan kondisi Ara semakin parah, hanya mujizat Tuhan yang bisa merubah segalanya.


Mereka sampai kerumah sakit. Segera mereka turun dari mobil. Jovanka mengendong bayi nya yang satu, sedangkan yang satu nya digendong oleh Syaneth karena bayi Jovanka kembar.


Mereka menuju ruang rawat Ara.


“Sayang”. Hansel menghampiri istrinya.


“Vad, Moe”.


“Hans”. Sahut Jovanka.


Hansel langsung ambil alih untuk mengendong bayi nya.


“Bagaimana keadaan Ara?”. Cecar Syaneth.


“Mari keruangan ku saja Moe, sambil Twins L istirahat”. Ucap Hansel.


Mereka langsung mengikuti Hansel keruangannya. Hansel meletakkan kedua anaknya dikamar yang memang khusus tempat Hansel istirahat.


“Sayang bagaimana?”. Tanya Jovanka tak sabar setelah menidurkan kedua anaknya. Begitu juga dengan Syaneth dan Van Derg.


Hansel menghela nafas pelan “Kondisi Ara semakin memburuk, kemungkinan aku akan melakukan operasi sebelum dia lahiran atau bisa dibilang dia akan melahirkan premature”. Jelas Hansel terasa berat.


Syaneth dan Van Derg saling melihat “Lalu bagaimana dengan Ara? Apakah tidak apa-apa jika mengeluarkan bayinya secara paksa?”. Tanya Van Derg.


“Tentu beresiko Vad, tapi tidak ada pilihan lain. Kemoterapi tidak bisa mencegah penyebaran sel kanker dalam tubuh Ara. Tumor dirahimnya semakin membesar, kadang aku juga kaget dengan bayi-bayi Ara yang kuat bahkan mereka sehat-sehat didalam sana”. Sahut Hansel.


“Bayi-bayi?”. Beo jovanka, Syaneth dan Van Derg, karena mereka memang belum tahu jika Ara mengandung bayi kembar.


“Ara mengandung bayi kembar empat atau yang biasa disebut Quadruplets”.


“Astaga”. Syaneth langsung terisak mendengar jawaban dari menantunya “Vader”. Syaneth memeluk sang suami dengan isakkan.


Van Derg membalas pelukkan istrinya dia mengecup kepala wanita yang menjadi Ibu dari anak-anaknya itu.


“Moe tidak mau terjadi sesuatu pada Ara, hiksss”.


“Kita berdoa saja Moe, mujizat pasti terjadi”. Ujar Van Derg.


Jovanka juga terdengar syok, dia senang mendengar Ara melahirkan bayi kembar empat namun dia juga sedih memikirkan kondisi Ara yang semakin menurun.


Hansel menggenggam tangan istrinya. Mereka memang orang asing untuk Ara tapi mereka menanggap Ara bagian dari keluarga mereka. Apalagi Ara adalah wanita yang pernah membuat putra mereka tergila-gila.


Van Derg, Syaneth, Jovanka dan Hansel masuk kedalam ruang rawat ara. Terlihat seorang Ibu hamil tengah terlelap bersama bocah tampan yang memeluknya kian erat.


Mata Syaneth berkaca-kaca melihat kondisi tubuh Ara. Badannya semakin kurus sedangkan perutnya membesar. Rambut rontok dan wajah pucat. Terlihat bintik-bintik diwajah Ara.


Syaneth tak mampu menahan tangis, bagaimana pun Ara sudah dianggap anak sendiri. Ara jauh berbeda dari pertama kali dia datang kesini.


“Ara”. Gumam Syaneth.


Ara mengerjab-ngerjabkan matanya saat mendengar ada yang memanggil namanya.


“Moe”. Ara tersenyum hangat sambil berusaha duduk pelan agar Aldo tidak terusik.


“Jangan banyak bergerak sayang”. Syaneth membantu Ara. Ara tersenyum melihat perhatian darui wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


“Ara”. Syaneth memeluk Ibu hamil itu, meskipun berusaha menahan tangis nyatanya air matanya luruh begitu saja.


“Moe”. Balas Ara juga memeluk wanita yang sudah dianggapnya sebagai Ibu nya sendiri itu. Syaneth meresapi memeluk wanita ini, wanita kuat yang sedang berjuang untuk hidup buah hatinya.


“Harus kuat ya sayang. Moe selalu ada untukmu”. Syaneth melepaskan pelukkannya sambil menyeka air mata Ara.


Ara memaksakan senyum. Dia selalu tersenyum pada semua orang yang tidak mau membuat orang lain khawatir akan kondisi dirinya.


“Terima kasih Moe. Ara sayang Moe”. Ucap Ara tulus mengecup punggung tangan wanita paruh baya ini.


Jovanka mendekat kearah Ara dengan pelan.


“Kakak”. Panggil Ara pelan.


Jovanka tak bisa berkata apa-apa lagi dia memeluk Ara sambil menangis pelan. Hatinya turut hancur melihat kondisi Ara yang mengenaskan.


Jovanka juga kagum pada wanita kuat ini. Setelah dihempaskan oleh banyak kenyataan dan perpisahan dalam hidupnya, kini dia harus dihadapkan dengan kenyataan yang sangat pahit. Sekian lama menunggu kehadiran buah hati namun ketika buah hati itu sudah hadir dirinya harus berjuang dan berkorban agar buah hatinya bisa lahir dan melihat dunia ini.


Ditempat lain……..


Jovan dan Jolenta sedang sibuk dengan laptop masing-masing, mereka menghandle perusahaan dan galeri lukisan milik Ara. Sudah hampir dua bulan Ara tidak melukis lagi dan stok lukisan digalerinya juga sudah habis. Para resseler terus mempertanyakan lukisan terbaru karya Ara dan terpaksa Jovan harus menutup galeri lukisan itu untuk sementara waktu sampai kondisi Ara membaik.


“Bagaimana apa ada lagi yang berusaha masuk kedalam system keamanan kita?”. Tanya Jovan


“Ada. Tapi aku tidak tahu karena dia menggunakan akun palsu dan sepertinya dia berusaha mencari identitasmu”. Sahut Jolenta.


“Identitasku?”.


“Iya, sepertinya dia berusaha menyelidikimu”.


Mereka kembali melanjutkan aksi. Memasang system keamanan data dan identitas seluruh anggota keluarga Van Derg, agar tidak ada yang bisa masuk dan meretas system mereka.


“Kapan Dokter Nickho bisa datang kesini?”. Tanya Jovan.


“Besok lusa. Aku meminta nya sedikit cepat”. Sahut Jolenta.


“Apa aman dia masuk kesini?”. Tanya Jovan


“Aman! Karena virus yang dibuat Roger akan sulit dideteksi oleh orang lain”. Sahut Jolenta.


Keduanya menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Perusahaan yang bergerak dibidang Arsitektur dan bangunan itu menjadi perusahaan nomor satu di Belanda. Desain bangunan karya Jovan, Roger dan Ara menjadi desain incaran pada junalistik.


“Bagaimana kondisi Ara? Apa ada informasi baru dari Hans?”. Tanya Jolenta menyenderkan punggungnya.


Jovan menggeleng dengan lemes “Kondisi Ara semakin menurun. Kemungkinan kita akan melakukan operasi dan mengeluarkan bayi Ara sebelum waktunya, atau lahir premature”.


“Apa?”. Jolenta langsung duduk tegak “Apa itu tidak bahaya?”. Tanya Jolenta.


“Tentu beresiko! Tapi tidak ada cara lain”.


Jolenta terdiam, dia tidak tahu harus memberi tanggapan apa. Wanita kuat itu sungguh membuat dunia Jolenta serasa dijungkirbalikkan. Dia salut sekaligus kagum dengan ketegaran hati Ara. Wanita hebat itu juga berhasil mencairkan gunung es seperti Kayhan.


Bersambung.......


Kayhan ❤️ Kimara