Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 135. Rumah Baru.



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Mobil yang dikendarai oleh Ara, Jovan dan Shella serta anak-anak mereka melaju meninggalkan bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Naro, Zero dan Zeno tertidur pulas dipangkuan Ara. Sepertinya ketiga bocah kembar itu sangat kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh.


Nara juga terlelap dipangkuan Jovan. Gadis kecil berwajah menggemaskan itu tampak tenang dengan dengkuran halus yang terdengar. Wajahnya damai dan tenang ketika meihatnya dapat menyejukkan hati.


Sementara Aldo, bersandar didekat jendela mobil. Shella ikut tertidur disamping anaknya. Mobil yang memang memiliki kapasitas besar itu mampu menampung mereka sekaligus.


"Ado".


"Iya Bunda?". Segera Aldo mengalihkan perhatian pada Ibu angkatnya itu. Dia tersenyum ketika melihat senyum Ara "Ada apa Bunda?".Tanya Aldo lembut.


Ara menggeleng sambil tersenyum juga "Apa Ado baik-baik saja?". Tanya Ara menatap wajah putra angkatnya itu.


"Ado baik-baik saja Bunda".


"Ya sudah, Ado istirahat saja ya". Tangan Ara terulur untuk mengelus kepala bocah berusia sepuluh tahun itu. Semakin bertambah umur, aura Aldo semakin terlihat. Wajah tampannya dan juga sikap dinginnya.


"Ado akan menemani Bunda". Senyum Aldo tulus.


Ara juga tersenyum. Dia mengangguk paham. Putra angkatnya memang selalu saja membuatnya merasa dicintai. Bahagia karena Aldo selalu menghormati nya sebagai seorang Ibu.


Sampai disebuah rumah mewah. Para pelayan langsung menyambut mereka. Rumah itu adalah rumah baru yang sengaja dibeli Jovan untuk Ara, Shella serta anak-anak. Jovan ingin mereka tinggal dalam kenyamanan bukan dalam kewaspadaan.


"Sayang, ayo bangun". Ara menepuk pipi ketiga anaknya dengan lembut dan secara bergantian. Dia tak pernah keras pada anak-anak nya.


"Hoammmmmmmm". Zeno mengucek matanya. Wajah bantalnya justru terlihat tampan dan menggemaskan "Kita sudah sampai Mom?". Tanyanya


"Iya sayang". Sahut Ara "Ayo". Ajak Ara.


Para pelayan sudah berbaris dengan rapih menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Tuan dan Nona".


"Selamat datang Tuan Kecil dan Nona Kecil".


Sapaan pelayan mengiring langkah mereka masuk kedalam rumah mewah itu.


"Bi, apa kamarnya sudah disediakan?". Tanya Jovan. Dia masih mengendong Nara yang setia tidur digendong nya.


"Sudah Tuan". Sahut sang pelayan.


"Shella, Ado. Kamar kalian sudah disediakan. Nanti pelayan akan mengantar kalian". Ucap Jovan.


"Terima kasih Jo".


"Ayo Ra".


Ara mengangguk dan mengikuti langkah kaki Jovan. Sebelumnya Jovan sudah memesankan kamar dengan ukuran besar khusus untuk Ara dan keempat anaknya. Keempat anak Ara tidak mau jauh dari sang Ibu. Mereka selalu ingin tidur bersama Ara.


Mereka masuk kedalam kamar mewah dan sangat besar. Terdapat ranjang king size berukuran sangat besar yang mampu menampung lima sampai tujuh orang diatasnya.


"Terima kasih Kak". Senyum Ara ketika melihat Jovan yang dengan telaten meletakkan Nara diatas kasur.


"Iya Ra". Jovan memperbaiki wig Ara yang terlihat berantakan "Nanti kakak akan Carikan obat penumbuh rambut untukmu". Ucap Jovan menjauhkan tangannya.


"Terima kasih sekali lagi Kak. Maaf merepotkanmu". Sahut Ara tak enak hati.


Jovan mengelleng "Sudah tanggung jawab kakak". Balas Jovan.


"Hai anak-anak Ayah. Selamat tidur ya".


"Selamat tidur juga Ayah". Sahut ketiga bocah kembar itu dengan kompak.


Cup cup cup cup cup cup cup cup


Ketiga bocah itu mencium pipi dan seluruh wajah Jovan secara bergantian. Membuat Jovan terkekeh geli ketika benda kenyal dan munggil itu menyentuh wajahnya.


"Ya sudah Ayah pamit ke kamar Ayah ya. Kalian jangan lupa berdoa sebelum tidur". Pesan coba mengacak rambut ketiga bocah itu.


"Siap Ayah". Lagi-lagi mereka kompak dengan wajah lucu dan menggemaskannya.


Setelah Jovan keluar dari kamar Ara dan anak-anaknya. Ara menidurkan ketiga bocah tampan yang baru saja berbaring disamping adik mereka.


"Good sleep Mommy". Naro mencium kening Ara


"Good night Mommy". Zero juga ikut mencium kening wanita itu.


"Sweet dreams Mommy". Seru Zeno yang paling manja menciumi wajah Ara.


Ara tersenyum dan membalas ciuman para putra tampannya. Lalu dia menina bobokan anak-anak kembarnya dengan dongeng yang selalu dia baca setiap malam.


Jovan masuk kedalam kamarnya. Pria tampan itu langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur kamarnya. Jovan menatap langit-langit kamarnya.


"Ara".


Senyuman menggembang diwajah pria tampan itu. Dia sudah berhasil menjadi orang yang melindungi Ara. Meski tak bisa memiliki gadis itu namun dia bahagia karena bisa membantu Ara membesarkan anak-anak nya. Apalagi anak-anak Ara sangat menyukai Jovan.


"Aku akan menjaga kalian. Kalian adalah harta paling berharga dalam hidupku".


Jovan memejamkan matanya dan terbang kealam mimpi.


Sebelum kembali ke Indonesia Jovan sudah mengutus asisten nya untuk membeli rumah mewah baru, dan juga menyembunyikan keberadaan nya. Tentu saja dengan kekuasaan Van Derg, takkan ada yang tahu dia sudah kembali ke Indonesia.


Sejujurnya Jovan tidak setuju untuk kembali ke Indonesia tapi dia tidak mungkin membunuh mimpi putri angkatnya yang cantik dan menggemaskan itu.


Keesokan paginya.


"Naro, Zero, Zeno, Nara. Ayo bangun".


Segera keempat bocah itu bangun dari tidur mereka. Mereka duduk dengan kompak. Wajah bantal mereka masih terlihat jelas. Tak lupa doa pagi yang selalu diajarkan sang Ibu, selalu mereka terapkan setiap kali bangun pagi.


"Ayo mandi".


Mereka menurut. Ara sudah menyiapkan air hangat dan juga pakaian untuk anak-anaknya.


"Mommy". Renggek Nara manja


"Sini sayang, biar Mommy yang mandikan". Ara mengendong putri manjanya itu menuju kamar mandi.


Setelah selesai ritual mandi pagi. Ara bergegas kedapur menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya


"Selamat pagi Nona".


"Pagi juga Bi".


"Bi, apa bahan makanannya lengkap?".


"Iya Nona".


Ara memasak dengan dibantu oleh empat bocah kembar. Para pelayan benar-benar kagum melihat kekompakan Ibu dan anak itu. Mereka juga kagum melihat betapa lihainya bocah berusia lima tahun memegang alat dapur.


**Bersambung..


Kayhan ❤️ Kimara**